Bab 1: BAYANGAN DI TANAH AETHERIA

28 1 0
                                        

Hujan bukan sekadar air di dunia ini. Bagi Ken Kirito, tetesan hujan yang jatuh membasahi wajahnya terasa berat, seolah-olah udara itu sendiri menolak keberadaannya.Dia terbangun dengan rasa sakit yang menusuk setiap saraf di tubuhnya. Bukan rasa sakit akibat luka tusukan kunai atau ledakan tag peledak yang biasa dia rasakan dalam misi ANBU, melainkan rasa sakit yang asing—seolah-olah sel-sel tubuhnya sedang berteriak karena kekurangan sesuatu yang vital. Ken membuka matanya, namun yang dia lihat bukanlah langit malam Yondaime yang familiar, melainkan kubah langit berwarna ungu pucat dengan dua bulan yang menggantung rendah, satu berwarna perak dan satunya lagi merah darah.

"Aku... masih hidup?" gumamnya, suaranya serak.

Ken mencoba duduk, tetapi otot-ototnya menjerit protes. Dia melihat sekeliling. Dia berada di tengah hutan lebat, namun pohon-pohon di sini tidak berwarna hijau. Daun-daunnya berwarna biru keperakan, dan batangnya bersinar redup dengan urat-urat cahaya seperti sirkuit hidup. Ini bukan negeri api. Ini bukan negeri manapun yang pernah dia petaikan dalam atlas shinobi.

Tiba-tiba, dadanya sesak. Ken meletakkan tangannya di atas perutnya, mencoba mengumpulkan chakra. Biasanya, aliran energi hangat itu akan segera merespons panggilannya, mengalir dari titik-titik tenketsu di seluruh tubuhnya. Namun kali ini, hampa. Tidak ada aliran. Tidak ada panas. Hanya kehampaan yang dingin dan menakutkan.

"Panik adalah musuh terbesar seorang shinobi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan napas yang memburu. "Analisis situasi. Lokasi tidak dikenal. Chakra tidak merespons. Luka fisik: ringan hingga sedang. Ancaman langsung: belum terlihat."

Sebelum dia bisa bangkit sepenuhnya, semak-semak di depannya bergetar. Ken secara instingtif meraih pinggangnya untuk mengambil kunai, tetapi sarungnya kosong. Senjata-senjatanya hilang saat dia terlempar melalui dimensi itu.


Dari balik semak belukar, muncul sosok wanita. Dia mengenakan jubah panjang berwarna putih bersih dengan bordiran benang emas yang rumit di ujung lengan. Rambutnya berwarna perak panjang, terurai hingga pinggang, dan matanya berwarna violet yang tajam namun menyimpan kehangatan. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu yang ujungnya berlian kristal biru, memancarkan cahaya lembut yang menerangi kegelapan hutan.

Wanita itu berhenti beberapa meter dari Ken, matanya melebar sedikit saat melihat pria berbaju compang-camping dengan tanda luka bakar di pipinya itu.

"Kau bukan dari sini," kata wanita itu.

Suaranya jernih, seperti lonceng kaca, namun berwibawa. Dia tidak mengangkat tongkatnya sebagai senjata, melainkan menahannya di depan dada dalam posisi defensif yang elegan. "Aku tidak merasakan aura mana darimu. Siapa kau?"

Ken menatap wanita itu. Insting shinobinya berteriak bahwa wanita ini berbahaya—cahaya dari tongkatnya memiliki densitas energi yang tinggi—tapi dia juga tidak merasakan niat membunuh.


"Namaku Ken," jawab Ken singkat, memilih kejujuran terbatas. "Dan aku benar-benar tidak tahu di mana 'sini'."

Wanita itu mendekat perlahan. Cahaya dari tongkatnya menyinari wajah Ken, dan untuk pertama kalinya, Ken menyadari betapa lelahnya dia. Wanita itu, yang namanya ternyata Elina Catania, menurunkan tongkatnya sedikit. Dia adalah Guru Penyihir tingkat tinggi dari Akademi Sihir La Frontiers, dan dia jarang melihat seseorang tersesat di Hutan Aetheria—tempat yang dipenuhi monster mana liar—dalam kondisi hidup.

"Kau terluka," kata Elina, nada suaranya berubah dari waspada menjadi profesional. Dia mengayunkan tongkatnya dengan gerakan halus. "*Sanatio.*"

Cahaya hijau lembut keluar dari ujung tongkat, menyelimuti tubuh Ken. Ken merasakan sensasi aneh—bukan chakra, tapi aliran energi lain yang lebih cair dan dingin—meresap ke dalam lukanya. Rasa sakitnya mereda dengan cepat, digantikan oleh kehangatan yang menenangkan.

"Apa itu?" tanya Ken, matanya menyipit. "Sihir?"

Elina tersenyum tipis, senyum yang membuat hati Ken berdebar kencang untuk alasan yang tidak bisa dia jelaskan. "Di Negeri Aetheria, kita menyebutnya Mana. Dan kau, Tuan Ken, adalah misteri terbesar yang pernah kutemui dalam sepuluh tahun mengajar di Akademi."

Ken mencoba berdiri lagi, dan kali ini, kakinya mampu menopang berat badannya. Dia menatap Elina, wanita cantik yang baru saja menyelamatkannya dari kematian di dunia asing. Di balik kelelahannya, sebuah pikiran terbentuk di kepalanya: Jika dia ingin bertahan hidup di sini, dia harus memahami aturan dunia ini. Dan wanita di depannya tampaknya adalah kunci utamanya.


"Terima kasih," kata Ken, membungkukkan kepala sedikit—gestur hormat seorang shinobi. "Aku berhutang nyawa padamu."

Elina tertawa kecil, suara yang renyah di tengah keheningan hutan ajaib. "Simpan utangmu untuk nanti, Ken. Untuk sekarang, ayo pulang. Kau butuh istirahat, dan aku punya banyak pertanyaan."Saat mereka berjalan meninggalkan hutan, Ken melirik kembali ke arah langit ganda. Dia tidak tahu bagaimana cara pulang, atau bahkan apakah dia bisa pulang. Tapi saat dia melihat profil Elina yang diterangi cahaya bulan perak, Ken merasa bahwa mungkin, terjebak di sini bukanlah hal terburuk yang bisa terjadi padanya.

Namun, di kejauhan, di balik pepohonan bercahaya, sepasang mata merah mengamati mereka. Seseorang telah melihat kedatangan "pria tanpa mana" itu. Dan di dunia di mana sihir adalah segalanya, menjadi anomali adalah hukuman mati.

---

Magic ShinobiStories to obsess over. Discover now