We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

179 6 0
                                        

WARNING 21+
AREA DANGER

HAPPY READING
✤✤✤

Sudut bibir Azlina terangkat membentuk seringai tipis saat menatap pria yang kini terikat kuat pada sebuah kursi kayu usang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Sudut bibir Azlina terangkat membentuk seringai tipis saat menatap pria yang kini terikat kuat pada sebuah kursi kayu usang. Kedua pergelangan tangan dan kakinya dililit tali hingga tak menyisakan ruang untuk melawan, sementara sehelai kain hitam menutupi matanya, memaksanya hanya mengandalkan pendengaran.

Ruangan apartemen tua itu sunyi. Dinding-dinding kusam dipenuhi retakan, aroma lembap memenuhi udara, dan hanya suara angin yang sesekali menyusup melalui jendela pecah, menciptakan siulan panjang yang menambah kesan mencekam. Sesekali terdengar bunyi kayu tua berderit, seolah bangunan itu bisa runtuh kapan saja.

Bagi siapa pun, tempat itu mungkin terasa mengerikan. Namun bagi Azlina, keheningan itu justru menenangkan. Ia menghirup napas panjang, menikmati setiap detik yang dipenuhi rasa takut dari orang di hadapannya.

Ia melangkah perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Kaelan. Langkah sepatunya menggema di lantai semen yang dingin. Dengan santai, ia membungkukkan badan hingga wajahnya berada sangat dekat dengan Kaelan, lalu kedua tangannya menangkup pipi pria itu. Bibirnya mendekat ke arah telinga Kaelan sebelum akhirnya ia berbisik dengan nada pelan namun mengintimidasi.

"Katanya kamu cukup mahir dalam memuaskan wanita,aku juga ingin merasakannya, Kael. Mari bersenang-senang malam ini," bisik Azlina, sengaja memperlambat setiap katanya.

Mendengar suara itu begitu dekat, bahu Kaelan menegang. Napasnya tertahan sejenak, sementara jemarinya berusaha bergerak di balik lilitan tali yang mengikatnya.

"Azlina, berhenti," ucap Kaelan setenang mungkin, berusaha mengendalikan nada suaranya. "Bukankah Amara selalu memperlakukanmu dengan baik? Kalian berteman. Dia selalu menceritakan tentangmu."

Tawa pelan Azlina menggema di ruangan kosong itu. Ia menggeleng perlahan sambil tersenyum sinis.

"Benar," balas Azlina lirih. "Dia memang sering menceritakan banyak hal kepadaku. Tentang betapa hebatnya kalian jika bercinta, itu membuat ku penasaran."

"Azlina, lepaskan aku," kata Kaelan, berusaha tetap berpikir jernih meski jantungnya berdetak semakin cepat. "Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik. Kalau kamu terus melakukan ini, polisi akan ikut campur. Apa yang kamu lakukan adalah tindakan kriminal."

Azlina hanya tersenyum tipis. Ia mengangkat satu jari telunjuk, lalu meletakkannya di depan bibirnya, memberi isyarat agar Kaelan diam.

"Sttt..." desis Azlina pelan, suaranya terdengar dingin dan mengancam. "Sebelum polisi sempat menemukan tempat ini, bisa saja semuanya sudah terlambat. Jadi diam... dan turuti apa yang kukatakan."

Azlina mendekatkan tubuhnya pada Kaelan, lalu duduk tepat di atas pangkuan pria itu. Tangannya terulur kembali menangkup kedua pipi Kaelan, sementara wajahnya bergerak perlahan mendekat. Nafas berat Kaelan terasa menyapu lembut wajahnya, hingga akhirnya bibir mereka pun bersentuhan.

LABIRIN: Tiga Jiwa {21+}Stories to obsess over. Discover now