Pradana Bakery, Cabang Dago, Bandung
Jam 4 sore. Udara lembap Bandung ketutup bau roti coklat, cinnamon, sama kopi susu yang baru keluar dari oven.
Sheila lagi nyusun hampers buat ulang tahun Pradana Bakery yang ke-20. Tangan dia lincah ngiket pita emas, mulutnya ngedumel pelan karena pitanya miring terus.
"Pelan-pelan, She. Nanti tumpah lagi kayak kemarin."
Suara itu.
Zaydan.
Anak Pak Pradana, bosnya. Baru 1 tahun kerja di sini tapi langsung jadi supervisor. Bukan karena jago, tapi karena marga dia yang ada di papan nama toko.
Dia nyamperin dari belakang, ngambil pita yang miring itu, terus benerin sambil nyengir.
"Gini. Biar manis. Kayak lo."
Sheila mendelik, tapi bibirnya ketarik senyum.
"Ngatur banget sih, Pak Supervisor. Kerjaan gue juga nih."
"Ya kerjaan lo. Tapi lo juga kerjaan gue," Zaydan ngecup keningnya cepat, pas nggak ada karyawan lain yang liat.
Dari sudut ruang packing, Gavriel ngelipet kardus dengan gerakan kaku.
Matanya nggak sengaja ngelirik.
Romantis. Selalu romantis.
Di depan karyawan, di grup WA kantor, bahkan pas lembur jam 10 malam.
Gavriel narik napas panjang.
Dia udah 8 bulan nahan. Nahan kata "Sheila, gue suka lo" yang rasanya mau meledak tiap kali liat Zaydan gandeng tangan dia.
"Gav, lo nggak ikut meeting klien Sampoerna?" tanya Raka.
Gavriel geleng. "Gue handle produksi roti buat besok."
Bohong. Dia cuma nggak kuat.
Di Pradana Bakery ini, dia cuma karyawan divisi produksi. Dingin, pendiam, kerjaan rapi 100%.
Tapi di kepalanya, dia udah bikin seribu skenario ngajak Sheila ngopi di Dago, ngasih tau kalau dia lebih tulus dari anak bos.
3 minggu kemudian. Ruang HR, Pradana Bakery. Jam 9 malam.
Bandung hujan dari tadi sore. Sheila lembur cek stok hampers buat event besok.
Dia mampir ke ruang HR buat ambil file, pintunya nggak dikunci rapat.
Dari dalam, suara Zaydan bocor pelan:
"Ya sayang, besok gue jemput jam 7 ya. Bapak nggak bakal tau, gue bilang lembur lagi."
Dunia Sheila berhenti 2 detik.
Suara itu. Nada manja itu.
Itu suara yang biasa dia denger tiap malam. Tapi bukan buat dia.
Dia dorong pintu pelan.
Zaydan langsung nutup laptop, mukanya pucet kayak ketahuan nyontek.
"She... bukan kayak yang lo pikir."
"Terus kayak apa, Zaydan?" Suara Sheila bergetar, tapi dia tahan biar nggak pecah.
"Gue bodoh ya? 3 tahun gue percaya lo. Gue kerja banting tulang di tempat bapak lo, gue bela lo pas semua orang bilang lo playboy. Terus gini?"
Zaydan diem. Nggak bisa jawab.
Sheila naroh file di meja, ngeluarin ID card-nya, terus naro di atas meja HR.
"Gue resign. Besok gue nggak masuk lagi. Gue nggak kuat kerja di tempat yang bikin gue merasa bodoh."
Dia keluar.
Nggak nangis di depan dia. Tapi pas pintu nutup, air mata itu jatuh juga.
Gavriel yang baru keluar dari ruang produksi liat semuanya. Dia udah tau. Dari 2 minggu lalu dia liat Zaydan anter cewek beda tiap hari pulang shift malam. Dia mau ngomong, tapi takut Sheila mikir dia cuma iri.
Parkiran Pradana Bakery. 10 menit kemudian.
Hujan makin deras. Bandung malam-malam gini dinginnya menusuk.
Sheila duduk di motornya, kepala nunduk. Tangannya gemetar sampai kunci motor nggak masuk-masuk.
"Jangan pulang sendiri."
Gavriel muncul bawa helm dan payung hitam. Bajunya udah basah setengah.
"Lo tau dari kapan?" Sheila nengadah, matanya merah.
Gavriel diem sebentar.
"Dua minggu lalu. Gue liat dia anter cewek itu pulang. Gue mau ngomong, She. Tapi gue takut lo bilang gue cuma iri karena lo milih dia, bukan gue."
"Jadi lo diem aja liat gue dibohongin?" Sheila berdiri, dorong bahu Gavriel pelan.
"Gue benci lo."
Gavriel nggak nahan. Dia cuma ngangguk pelan.
"Gue tau. Gue pantas dibenci. Tapi Sheila..."
Dia buka payung, nyodorin helm ke Sheila.
"Bandung hujan gini, motoran sendirian bahaya. Kalau lo mau marah, marahin gue di jalan. Gue anter pulang. Gue janji nggak bakal bales marah lo."
Sheila mau nolak. Tapi kakinya lemas. Hatinya capek.
Akhirnya dia naik di belakang motor Gavriel, diem sepanjang jalan.
Sepanjang jalan dari Dago ke Antapani, mereka nggak ngomong.
Cuma suara hujan dan mesin motor tua Gavriel.
Pas lampu merah di Pasteur, Gavriel ngomong pelan, nggak nengok:
"Gue nggak tau kapan lo bakal percaya lagi sama orang. Tapi kalau lo mau, gue bersedia jadi orang pertama yang lo curigain pelan-pelan."
Sheila nggak jawab.
Tapi tangannya yang tadi megang jaket Gavriel, sekarang genggam lebih erat.
---
Rumah Sheila, Antapani. 11 malam.
Gavriel nurunin Sheila di depan gerbang. Rumahnya sepi. Kak Bagas lagi dinas luar kota.
"Gue nggak masuk. Nanti Kakak lo marah kalau liat gue."
Sheila turun, masih diem. Sebelum masuk, dia berhenti.
"Gav... makasih udah anter. Tapi jangan berharap apa-apa ya. Gue lagi nggak butuh siapa-siapa."
Gavriel cuma senyum kecil. Hujan basahin rambutnya, tapi dia nggak peduli.
"Gue nggak berharap, Sheila. Gue nunggu. Nunggu sampai lo siap buat nggak lari lagi."
Sheila masuk ke rumah.
Gavriel masih berdiri di luar, nungguin lampu ruang tamu nyala. Baru dia pergi, pas yakin Sheila selamat.
Motornya nyala pelan.
Di kepalanya cuma satu kalimat:
Kalau dia pergi, biarin. Asal gue yang nganter dia pergi dengan selamat.
Besoknya.
Sheila resmi resign dari Pradana Bakery.
Alasannya di surat: "Lingkungan kerja tidak kondusif."
Gavriel juga ngajuin mutasi ke cabang Jakarta.
Alasannya: "Pengembangan karir."
Padahal dia tau, kalau dia tetap di Bandung, dia nggak akan kuat liat Sheila sama Zaydan lagi di tempat yang sama.
Di tempat yang dulu rasanya kayak rumah, sekarang rasanya kayak kuburan buat hatinya Sheila.
Hujan Bandung malam itu belum berhenti.
Dan buat Sheila, semuanya baru mulai.
YOU ARE READING
KAMULAH YANG KU TUNGGU
Romancenama ku sheila valencia adinata , aku tinggal dibandung , aku pacaran sama anak bos ditempat kerja ku namanya zaydan pradana , aku selalu dimanja sama disayang sama dia namun beberapa hari kemudian dia kepergok selingkuh sama cewek lain saat dia bil...
