1. Mimpi Berulang

99 11 9
                                        

Gema suara tawa bercampur tangisan mulai terdengar bersamaan. Di sela-sela suara itu, terdengar pula banyak jeritan dan yang paling mengerikan, jeritan itu terbagi menjadi dua kubu. Sebagian kecil menjerit penuh rasa takut dan kesakitan sedangkan sebagian besar... menjerit penuh kebahagiaan.

Semuanya terlihat begitu gelap, begitu jauh, tetapi suara-suara itu terasa seperti tepat berada di balik telinganya. Perlahan, dalam kegelapan total tadi muncul titik-titik kecil seperti kunang-kunang yang berterbangan. Semakin besar... semakin terang, layaknya bunga api yang di tiup angin kemudian berhasil membakar sebuah hutan yang begitu luas.

"TOLONG!"

Seorang pemuda tampak bangkit dari tidurnya dalam keadaan nyaris basah kuyup oleh keringat. Seluruh tubuh itu bergetar hebat dengan nafas yang tersengal-sengal seolah udara telah di renggut paksa darinya. Jemari pemuda itu bergerak pelan, menyentuh dadanya sendiri hanya untuk merasakan bekas luka yang sangat terasa.

Mimpi yang sama... tidak, itu bukan mimpi, itu pasti mereka.

Pemuda itu---Arsa---menutup matanya rapat-rapat sembari terus membungkuk hingga kepalanya nyaris menyentuh lutut. Dalam keheningan malam, air matanya mulai berjatuhan dengan isak tangis tertahan. Kenapa... kenapa bukan dirinya yang terjebak? Kenapa ia kembali sendirian? Untuk apa sebenarnya ia di kembalikan jika semua itu masih menghantuinya?

Arsa menoleh begitu cepat saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, belum sempat berpikir, seorang wanita tiba-tiba melangkah masuk. Di tangan wanita itu, terlihat segelas air putih yang beruap. Mendapati sang ibu yang melangkah masuk, Arsa perlahan mulai merasakan kehangatan menyebar di penjuru hatinya yang dingin.

"Mama," panggil Arsa dengan suara serak.

Ibunya mengangguk pelan, ia tersenyum tipis ketika mendudukkan diri di pinggiran ranjang menghadap putranya yang sudah tumbuh dewasa, "Mimpi buruk lagi, ya?"

Pemuda itu mengangguk singkat sembari menerima air yang ibunya berikan. Arsa menelan beberapa tegukan air sebelum kembali menatap wajah ibunya yang mulai tampak keriput, "Arsa ganggu tidur Mama?"

"Mana mungkin? Mama khawatir, Sa, Mama nggak bisa tidur tenang semenjak kamu mimpi buruk," ungkap sang ibu kemudian menghela nafas panjang, jemari wanita itu terangkat untuk mengusap sisi wajah Arsa. Perlahan, ibu jarinya menyapu mata kiri Arsa yang sudah rusak... kecelakaan itu merenggut salah satu mata putranya.

Arsa sendiri tidak menolak, ia membiarkan ibunya melakukan apapun sebab Arsa tahu betapa menderitanya wanita itu ketika ia nyaris tak bisa di selamatkan, "Maaf, Ma, Arsa gagal nepatin janji Arsa ke Mama."

Melihat air mata ibunya terjatuh karena dia adalah hal yang paling menyakitkan untuk Arsa. Jemari pemuda itu segera terangkat, menghapus jejak air mata di wajah ibunya seraya menggelengkan kepalanya pelan. Mengisyaratkan wanita itu untuk berhenti menangis.

"Arsa... jangan pergi lagi, Nak. Mama cuma punya Arsa, kalau kamu pergi, nanti Mama hidup sama siapa? Mama berjuang buat keluar dari sana demi Arsa, demi kehidupan yang lebih baik buat Arsa. Tolong, Nak, tolong jangan tinggalin Mama sendirian di dunia ini," ucap ibunya dengan wajah berlinang air mata, hanya butuh beberapa detik sebelum ia memeluk tubuh putranya begitu erat.

Namun, Arsa selalu diam, bibirnya sempat terbuka beberapa kali, tetapi tidak ada satupun kata yang keluar. Dalam diam, air matanya kembali mengalir, ia menundukkan kepalanya guna menumpukan dahi pada bahu sang ibu, "Maaf, Ma, tapi... Arsa harus pergi ke sana. Temen-temen Arsa---"

"Mereka udah nggak ada, Arsa! Kapan kamu mau berhenti? Mereka semua pergi! Mereka semua udah nggak ada!"

Arsa bisa merasakan pelukan ibunya bertambah kuat sampai mulai terasa sakit, "Ma, Arsa tau mereka udah nggak ada, tapi mereka... mereka selalu dateng ke mimpi Arsa. Mereka minta tolong, mereka---"

"MEREKA UDAH PERGI! MEREKA UDAH MATI, ARSA! MEREKA MATI! MEREKA MATI! MEREKA MATI!" jerit wanita itu dengan begitu keras, pelukannya semakin erat, tidak lagi seperti ingin melindungi melainkan ingin menyakiti.

Mata Arsa terbelalak lebar, bukan karena jeritan ibunya, melainkan karena melihat asap hitam tebal yang mulai menguar dari tubuh yang sedang memeluknya. Dalam masa itu, ingatan Arsa mulai bergerak liar. Ibunya... ibunya tidak pernah tahu kalau ia selalu mimpi buruk setiap malam.

"Kena, kau."

Hembusan nafas dingin terasa tepat di sebelah telinganya, bersamaan dengan itu, jari-jari berkuku panjang mulai meraba punggungnya naik turun hingga akhirnya menyentuh leher. Arsa sama sekali tidak bisa bergerak sekuat apapun ia berusaha untuk memberontak, bahkan suara pun tidak mampu lagi ia keluarkan. Dia hanya bisa membeku bisu, merasakan kuku-kuku itu menggores tubuhnya, membuat darah merah bercampur hitam mengalir keluar.

"Darahmu menghitam, jiwamu tak lagi murni. Mengakulah, apa kau mulai merasakan hasrat untuk memakan manusia?"

Pertanyaan kali ini di iringi tawa melengking, bersamaan dengan itu, tubuh Arsa tiba-tiba terpental hingga menabrak kepala ranjang. Dari posisinya saat ini, Arsa bisa melihat sosok perempuan berkebaya kotor melayang, nyaris menyentuh langit-langit kamar dengan asap hitam mengelilinginya. Sepasang mata merah menyala menatap Arsa nyalang seolah siap menerkam kapan saja.

Sosok itu tidak diam di tempat melainkan berputar-putar seolah tengah berada di wilayahnya sendiri. Tawa melengking itu masih terdengar, lama kelamaan semakin kencang hingga Arsa merasa telinganya mulai mengeluarkan darah.

Darah... semuanya mulai berbau darah. Persis seperti setahun yang lalu ketika Arsa tenggelam dalam darah teman-temannya sendiri. Telinga Arsa bedengung kuat, tetapi ia tidak lagi mampu berteriak sampai kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang. Ketika pandangan mulai menghitam, samar-samar Arsa kembali mendengar suara.

Masih seorang perempuan, tetapi tidak lagi menakutkan. Kali ini, suaranya begitu samar seolah hanya terbawa oleh angin, tetapi berhasil menusuk hatinya hingga tak berbentuk.

"Tolong... kami tidak pernah ingin menjadi budak iblis...."


.

.

.

.

OHAIIYOOOOO
WOSO TANAH NERAKA 2 HADIRRRR
untuk lanjut? vote dan komen
to be continued.

WOSO TANAH NERAKA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang