~~~
|Pagi ini, Naraya berdiri di atas podium dengan kepala tegak. Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin auditorium, sementara medali emas pertanda lulusan terbaik Sarjana Ekonomi dan Hubungan Internasional melingkar di lehernya. Di depan sana ribuan mata memandangnya, ia adalah simbol keberhasilan—seorang putra tunggal keluarga Adriano Wijaya yang membuktikan bahwa ia bukan sekadar pewaris harta, melainkan intelektual muda dengan masa depan gemilang. Di dalam hatinya, Naraya sudah merancang sebuah kejutan besar untuk keluarganya sebuah rencana bisnis mandiri yang ingin ia bangun sebagai bentuk dedikasi atas semua dukungan yang ia terima. Ia membayangkan pelukan hangat ayahnya dan air mata bangga ibunya saat ia menyerahkan ijazah dengan predikat Cum Laude yang ia dapatkan.
Namun, dunia seolah berputar ke arah yang berlawanan saat ia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah mewahnya. Harapan akan pesta syukuran yang hangat justru berganti menjadi sebuah perundingan yang menyesakkan napas. Di ruang tamu yang megah, aroma cerutu mahal dan suasana kaku menyambutnya. Bukan ucapan selamat atas gelarnya yang menjadi pembuka, melainkan sebuah pengumuman yang menghancurkan seluruh impiannya dalam sekejap.
“Ini tidak adil ayah” kata Naraya, sambil mengedipkan mata ke arah orang tuanya di seberang meja yang ada di ruang tamu itu.
“Naraya, ini adalah langkah terbaik untuk Wijaya Group,” suara ayahnya terdengar dingin dan final.
“Aku menghabiskan empat tahun belajar siang dan malam bukan untuk menjadi 'aset' yang ditukar demi saham, Yah! Aku anak tunggal Ayah, bukan barang dagangan!"
"Naraya! Jaga bicaramu," hardik Adriano. "Ini demi masa depanmu juga. Zion Mahendra punya banyak sekali pengalaman, dia sepuluh tahun lebih dewasa darimu. Dia bisa membimbingmu—"
"Membimbing atau mengendalikan?" ucapnya kepada sang ayah
“Sebagai anak tunggal keluarga ini, Raya sudah cukup merasa terbebani dengan ekspektasi Ayah dan Ibu. Sekarang masih harus menikah dengan pria yang bahkan tidak Naraya kenal, Tanpa menikah dengan dia pun bisnis yang ayah bangun tetap bisa berjaya, Raya merupakan lulusan Sarjana Ekonomi dan Hubungan Internasional terbaik di Universitas Ayah bisa mengandalkan Raya. Raya juga punya mimpi sendiri Yah-Bu”
“Sayang, Ayah dan Ibu menjodohkan mu bukan semata-mata untuk kebutuhan bisnis tapi demi kebahagiaan mu nak, Percaya pada ibu Zion adalah laki-laki terbaik untuk kamu sayang” Kaluna menatap kedua mata putra semata wayangnya dengan lembut.
“Tapi tidak seperti ini Bu caranya” seru Naraya lalu ia pun pergi begitu saja ke kamarnya.
“Sayang, Naraya” panggil Kaluna sembari berdiri untuk mengejar sang putra tapi gerakannya terhenti ketika sang suami berucap.
“Sudah biarkan saja dia, mau dia menolak sekeras apapun, Perjodohan ini akan tetap berlangsung” ucap Adriano dengan nada yang tidak bisa di ganggu gugat.
~~~
Tanpa persetujuannya, Naraya akan tetap menjadi istri pria matang itu. Ia dijodohkan dengan seorang pria yang namanya selalu menghiasi tajuk utama media bisnis—seorang taipan yang dikenal bertangan dingin dan memiliki kekuasaan luar biasa. Bagi dunia luar dan teman-teman kampusnya, pria itu adalah sosok idola, simbol kesuksesan yang wajahnya kerap memenuhi beranda media sosial. Namun bagi Naraya, pria itu hanyalah orang asing yang umurnya terpaut jauh, seseorang yang hidup di dunia yang berbeda dengannya.
Keputusan itu terasa seperti tamparan keras. Sebagai anak tunggal, Naraya sadar ia memiliki beban moral, namun ia tidak pernah menyangka bahwa pendidikan tinggi yang ia tempuh dengan susah payah hanya berakhir menjadi pemanis di balik meja perundingan bisnis. Ia menentang keras. Air matanya bukan lagi air mata bahagia, melainkan air mata kemarahan. Ia menolak menjadi sekedar alat untuk memperkuat struktur perusahaan keluarganya.
Kamar yang biasanya menjadi ruang paling nyaman bagi Naraya, kini terasa seperti penjara berlapis emas. Ia duduk meringkuk di sudut tempat tidur, menatap kosong ke arah layar ponselnya yang menampilkan kolom pencarian berita bisnis.
Nama pria itu—Zion Mahendra (atau siapa pun nama yang ayahnya sebutkan tadi)—muncul dengan tajuk utama yang memuakkan: A handsome and cool man with a million satisfying successes. membosankan pikir Naraya.
Naraya membayangkan percakapan di meja makan nantinya ketika mereka benar-benar menikah. Saat ia ingin membahas tren terbaru, ide-ide idealis, atau sekadar hobi masa mudanya, pria itu mungkin hanya akan bicara tentang tender, suku bunga, dan stabilitas pasar dengan mimik muka monoton serta suara kaku yang melantun.
Pikirannya: "Bagaimana mungkin aku bisa berbagi hidup dengan seseorang yang melihat dunia hanya sebagai angka dan profit argh sangat membosankan?"
Sejak malam yang kelam itu, Naraya terus saja mengurung diri, kamar yang biasanya menjadi tempat bermimpi kini berubah menjadi sel isolasi. menolak menyentuh makanan, dan menutup rapat pintu hatinya, bahkan panggilan ibunya yang terus-menerus memanggil nya dengan sayang sering terdengar di depan pintu kamarnya tapi selalu saja ia hiraukan. Sambil menatap pantulan dirinya di cermin, ia terus dihantui oleh perspektif buruk tentang masa depannya. Bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan pria yang tidak ia kenal? Bagaimana jika pria itu hanya melihatnya sebagai barang antik atau aset perusahaan?
Di balik pintu yang terkunci, Naraya berjanji pada dirinya sendiri. Meski keluarganya memegang kendali atas nama belakangnya, mereka tidak akan pernah bisa memiliki jiwanya. Perang dingin baru saja dimulai, dan bagi Naraya, gelar lulusan terbaiknya bukan sekadar pajangan—itu adalah modalnya untuk melawan balik takdir yang dipaksakan kepadanya.
Hello everyone, I'm back with a new story. Happy reading and don't forget to comment🍃💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Matchmaking For Business [Zeenunew]
General Fiction"Naraya tidak pernah menyangka bahwa ia akan dijadikan alat keuntungan bisnis keluarganya".
![Matchmaking For Business [Zeenunew]](https://img.wattpad.com/cover/411330117-64-k3245.jpg)