Cala Ivory Ambrosia mengira Travis, pengawal pribadi yang telah bersamanya selama tujuh tahun, adalah pelindung sekaligus pria yang tulus ia cintai. Ia tidak pernah tahu bahwa Travis sebenarnya adalah putra mafia kejam yang disusupkan untuk menghan...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Brakk!
Tubuh ramping itu terhempas kasar ke atas ranjang berseprai beludru hitam. Rasa sakit seketika menjalar di sepanjang punggungnya, memicu sesak yang menghimpit dada. Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran, sepasang tangan kekar bercincin perak sudah mencengkeram kedua pergelangan tangannya, menguncinya di atas kepala dengan kekuatan yang mustahil untuk dilawan.
"Lepas... Kumohon, lepaskan aku..." rintihnya parau, dengan sisa-sisa napas yang tersengal. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi bantal sutra di bawahnya.
Pria berambut pirang yang menindihnya hanya melepaskan tawa rendah-sebuah suara bariton yang dulu selalu menjadi melodi penenang di kala sepi, namun kini bertransformasi menjadi lonceng kematian yang mengerikan. Tatapan matanya yang membara oleh obsesi gelap menyapu wajah pucat di bawahnya, menikmati setiap sekon kehancuran jiwa yang sedang ia telanjangi.
"Melepaskanmu?" bisik pria itu tepat di depan bibirnya yang gemetar. Sentuhan jemari kasarnya beralih meraba leher jenjang sang tuan muda, menekan perlahan seolah memamerkan kuasa mutlak atas hidup dan matinya. "Setelah tujuh tahun aku merayap di bawah kakimu, menahan diri untuk tidak mengoyak keluguan ini... kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"
SREKK!
Kemeja satin mahal yang melekat di tubuh remaja sembilan belas tahun itu robek dalam satu sentakan brutal. Kulit seputih porselen itu kini terekspos, langsung menyerap hawa dingin ruangan terisolasi yang akan menjadi dunianya yang baru.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memutar balik waktu di dalam kepalanya. Di mana sosok pelindung setianya? Di mana pria yang selalu berdiri kokoh di belakangnya, menggandeng tangannya di koridor sekolah, dan menjaganya dari kejamnya dunia luar? Ke mana perginya rasa cinta yang beberapa waktu lalu sempat ia agungkan di dalam hati?
Semuanya sirna. Hancur bersama runtuhnya dinasti besar keluarganya yang kini rata dengan tanah-sebuah mahakarya kehancuran yang dirancang dengan sangat rapi oleh pria yang sama yang kini sedang mengungkungnya.
"Kau mencintaiku, bukan?" desis pria pirang itu lagi, mempersempit jarak hingga dada mereka berbenturan kencang. Ia meremas pinggang ramping itu dengan sangat keras hingga dipastikan akan meninggalkan bekas lebam keunguan yang kontras di sana. "Lihat aku! Buka matamu dan lihat siapa yang tersisa untukmu di dunia ini!"
"T-tidak... kau berbohong... kau mengkhianatiku..." rintihnya dalam tangis yang semakin histeris. Ia mencoba menyentakkan kakinya, berusaha mendorong tubuh besar di atasnya dengan sisa tenaga yang ia punya. Namun, setiap perlawanan yang ia berikan justru dihadiahi cengkeraman yang jauh lebih brutal dan menyakitkan.
Pria itu menyeringai puas, menatap tatapan kosong dan penuh keputusasaan dari manik mata yang paling ia gilai. Ia menunduk, menggigit ceruk leher itu dengan kasar hingga darah segar menetes, menandai wilayahnya secara permanen.
"Menangislah sepuasmu. Berteriaklah sampai suaramu habis. Tidak akan ada yang datang menyelamatkanmu," bisik pria itu dengan nada posesif yang mutlak saat ia mulai menuntaskan obsesi gilanya malam itu. "Duniamu sudah hancur. Keluargamu sudah mati. Dan sekarang, kau hanya punya aku sebagai tempatmu bersandar... selamanya di dalam genggamanku."
Di dalam kamar yang tertutup rapat dari dunia luar, sang permata berdarah campuran itu akhirnya menyadari kenyataan pahit; musuh yang selama ini ia takuti ternyata tidak pernah berada di luar tembok rumahnya. Musuh itu ada di dalam kamarnya, memeluknya setiap malam, dan kini telah mengurungnya di dalam sangkar emas yang tak akan pernah bisa ia tembus lagi.