Malam ini seolah bernapas dalam beku. Di balik tirai yang tersingkap tipis, kepingan salju mulai turun dengan bisu, membalut dunia dalam warna putih yang menandakan penghujung tahun telah tiba. Suguru mendekap selimutnya lebih erat, mencoba mengusir hawa dingin yang entah mengapa terasa lebih menggigit dari biasanya.
Namun, gigil itu tetap merayap, menembus hingga ke tulang. Dengan helaan napas yang membentuk kabut tipis, ia memaksakan diri untuk bangkit, menyeret langkah kakinya yang dingin menuju perapian, membiarkan ujung jemari kakinya beradu dengan lantai yang sedingin es.
Dengan gerakan pelan, Suguru menambahkan beberapa bilah kayu ke dalam perapian, memancing lidah api agar kembali menjilat udara, memastikan sisa malamnya tidak dicuri oleh beku yang kian meradang.
Setelah merasa kobaran api cukup untuk membalut ruangan, ia berbalik. Suguru kembali ke tempat persemediannya, memungut selimut yang sempat teronggok tak berdaya di atas lantai dan menyampirkannya kembali ke bahu. Sebuah helaan napas panjang lolos dari bibirnya berat dan sarat akan keletihan yang tak kasat mata tepat saat ia merasa suhu ruangan mulai melunak dan terasa pas di kulitnya. Ia kembali terpaku pada jendela.
Di balik tirai yang tersingkap, manik matanya menatap lekat ke luar, menyelami kegelapan yang perlahan memutih karena salju. Tatapannya dalam, seolah ia sedang berusaha mengais kembali kepingan waktu yang telah lama terkubur di balik badai.
Sambil menyesap cokelat panas dari cangkir yang sedari tadi menunggu di atas meja, rasa manis yang menyentuh lidahnya justru memicu pahitnya kenangan lima tahun silam. Ingatannya terseret mundur pada musim dingin di masa remaja masa di mana segalanya terasa lebih sederhana sekaligus lebih menyakitkan. Di sanalah ia, terjebak dalam memori tentang waktu yang ia habiskan bersama satu-satunya orang yang pernah menjadi seluruh dunianya sosok yang ia cintai dengan begitu hebatnya dulu, dan yang secara tragis, masih ia cintai dengan cara yang sama hingga detik ini.
*
Saat itu ia baru berusia tujuh belas, seorang remaja di tahun kedua sekolah menengah yang terjebak dalam kelesuan hari-hari menjelang liburan musim panas. Atmosfer kelas terasa pengap oleh ambisi seluruh siswa dipaksa bergelut dengan tumpukan diktat demi ujian akhir yang kian mendekat.
Suguru duduk di bangku paling belakang sebagai sudut persembunyiannya. Ia menopang dagu dengan malas, membiarkan matanya mengikuti gerak kapur sang guru di depan kelas tanpa benar-benar mencerna sepatah kata pun. Namun, rutinitas yang membosankan itu hancur seketika saat pintu kelas bergeser terbuka, menginterupsi sunyi yang stagnan.
Seorang guru perempuan melangkah masuk, namun perhatian Suguru dan seluruh isi kelas terpaku sepenuhnya pada sosok yang mengekor di sampingnya.
Siswa itu asing.
Ia terlalu tinggi untuk ukuran remaja SMA, dengan perawakan yang seolah menelan ruang di sekitarnya. Rambutnya seputih salju yang baru jatuh, kontras dengan kulit pucat yang nyaris terlihat seperti porselen mahal. Namun, yang paling mematikan adalah parasnya bulu mata perak alami yang membingkai sepasang manik biru yang begitu cerah begitu jernih hingga mengingatkan Suguru pada hamparan laut lepas yang dipukul cahaya matahari siang bolong.
Siswa baru itu menunduk sepanjang langkahnya menuju depan kelas, seolah berusaha menyembunyikan eksistensi yang terlalu mencolok tersebut. Namun, usaha itu sia-sia. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di antara barisan meja.
"Itu... Gojo Satoru, kan?"
"Masa, sih? Si anak konglomerat yang sering masuk berita itu?"
Gema bisik-bisik itu merambat memenuhi ruang kelas, namun hanya menyisakan kerutan dalam di dahi Suguru. Gojo Satoru? Nama itu terdengar asing, tidak menyentuh satu pun saraf pengenalannya. Apakah anak ini memang sedemikian terkenal? Ataukah ia yang terlalu menutup diri dari dunia luar? Suguru memutuskan untuk tidak ambil pusing. Alih-alih tenggelam dalam spekulasi teman-temannya, ia memilih untuk memaku atensi pada sosok jangkung yang berdiri kaku di depan sana.
YOU ARE READING
Burned out
FanfictionBagi Geto Suguru, musim dingin adalah musim untuk mengingat. Di depan perapian yang menyala, setiap keping salju yang jatuh membawanya kembali pada memori lima tahun silam masa di mana hidupnya yang tenang dan teratur hancur seketika oleh kedatangan...
