Sinar matahari pagi yang lembut seharusnya membawa kedamaian. Burung-burung berkicau riang, embun masih menempel manja di dedaunan, dan aroma kopi seharusnya menjadi satu-satunya hal yang mendominasi udara di kawasan perumahan elit tersebut. Namun, hukum alam itu tidak berlaku di kediaman keluarga Gresello. Di rumah mewah bertingkat dua dengan arsitektur modern tropis itu, pagi hari adalah sinonim dari medan perang.
"MAMIIIIII!!!! KIMMY UMPETIN *LIPTINT* ERINE YANG BARU BELIIIII!"
Teriakan itu bukan sekadar teriakan. Itu adalah jeritan soprano dengan frekuensi tinggi yang mampu memecahkan gelas kaca jika diarahkan dengan tepat. Suara itu berasal dari lantai dua, tepatnya dari kamar bernuansa *pink pastel* milik putri sulung keluarga itu, Erine.
Di dapur, Papi Gresello yang baru saja hendak menyesap kopi hitam tanpa gulanya, tersedak kaget. Cairan hitam pekat itu tumpah sedikit ke kemeja kerja putihnya yang sudah disetrika licin. Ia menghela napas panjang, sebuah ritual harian untuk mengumpulkan kesabaran setebal kamus ensiklopedia.
"Cynthia... anak-anakmu," gumam Papi Gresello lemah, menatap istrinya yang sedang mengoleskan selai kacang ke roti panggang dengan santai.
Mami Cynthia, wanita cantik yang awet muda dan menjadi sumber genetik visual menawan kedua putrinya, hanya tersenyum tipis. Ia sudah kebal. "Anak-anak Papi juga, kan? Sana pisahin dulu, Mami lagi nunggu rotinya matang."
Di lantai atas, situasi semakin memanas.
Erine, gadis berparas cantik dengan kulit seputih susu dan mata sipit yang kini berkaca-kaca, berdiri di depan pintu kamar adiknya. Rambut hitam panjangnya yang biasanya tergerai indah kini sedikit berantakan karena ia baru saja bangun tidur dan langsung dilanda kepanikan. Ia mengenakan piyama sutra bergambar beruang, dan kakinya yang putih menghentak-hentak lantai kayu dengan ritme yang agresif.
"Kimmy! Buka pintunya! Gue tau lo di dalem! Balikin *liptint* gue! Itu *shade* langka tau nggak sih!" Erine merengek, suaranya mulai bergetar menahan tangis. Bibirnya sudah maju beberapa sentimeter, membentuk kerucut yang oleh teman-temannya sering disebut sebagai mode 'Bebek'.
Pintu kamar di hadapannya terkunci rapat. Di dalamnya, Kimmy, si adik durhaka berambut bondol, sedang duduk bersila di atas kasur sambil tertawa cekikikan tanpa suara. Di tangannya, sebuah benda kecil berbentuk tabung berwarna merah muda—benda keramat milik kakaknya—sedang ia putar-putar.
Kimmy memiliki mata sipit yang sama dengan Erine, namun sorot matanya jauh lebih jahil. Dengan rambut pendek berponi yang membingkai wajah imutnya, ia terlihat seperti malaikat kecil yang salah jurusan menjadi iblis penggoda iman.
"Nggak mau wleee!" teriak Kimmy dari dalam, sengaja memanaskan suasana. "Lagian Kak Erine tuh menor banget kalau ke sekolah. Aku lagi nyelametin Kakak dari razia guru BK, tau! Harusnya makasih!"
"KIMMY JAHAAAT!" Erine berteriak lagi, kali ini air mata benar-benar mulai menetes membasahi pipinya yang kemerahan. Ia menendang pintu kamar Kimmy—pelan, karena kakinya sakit kalau menendang terlalu keras. "MAMIII! LIHAT KIMMY!"
Tangisannya pecah. Bukan tangisan sedih yang anggun, melainkan tangisan tantrum anak TK yang terperangkap dalam tubuh gadis SMA. Erine berjongkok di depan pintu, menenggelamkan wajahnya di lutut. Bahunya berguncang hebat. Sifat cengeng dan manjanya benar-benar tidak tertolong.
Papi Gresello muncul di puncak tangga sambil memijat pelipisnya. Pemandangan pagi ini sama persis dengan kemarin, dan kemarin lusa.
"Erine, sayang, udah dong jangan nangis pagi-pagi. Nanti matanya bengkak, jelek lho pas ketemu Lion," bujuk Papi Gresello, mencoba menggunakan kartu as. Nama Lion adalah satu-satunya mantra yang kadang—hanya kadang—bisa membuat Erine berhenti meraung.
YOU ARE READING
Adik durhaka!
RomanceMenceritakan keseharian keluarga papi gresello dan mami Cynthia, sebuah keluarga chaos yang penuh drama dan komedi, terutama dua anak mereka yang selalu ribut dan tidak pernah akur, erine kakak yang super cengeng dan Kimmy adik durhaka yang suka jai...
