Matahari musim panas berada di puncaknya, memanggang tanah dengan suhu yang nyaris tak tertahankan. Langit berwarna biru bersih tanpa awan. Kicau burung saling bersahutan, menciptakan simfoni yang bising seolah merayakan kehidupan yang sedang mekar-mekarnya.
Bagi Sicheng, sinar matahari itu seolah mentertawakan hidupnya. Ia berdiri di depan gundukan tanah kering, menatap sebuah pusara dengan bunga yang telah layu dalam hitungan jam. Mate-nya—belahan jiwanya, tewas di tangan para hunter saat mencoba melindungi perbatasan pack.
Setiap kali memejamkan mata, bayangan itu menghantam dirinya; tembakan dari senjata hunter, suara napas yang terputus-putus, serta sorot mata mate-nya yang meredup tepat saat bibirnya membisikkan nama Sicheng untuk terakhir kali. Ia merasa gagal. Seharusnya ia menjadi garda terdepan. Namun ia terlalu lemah hingga wilayahnya menjadi kuburan masal.
Rintihan anggota yang tersisa terdengar dari arah camp. Sicheng mencengkram kepala hingga buku jarinya memutih, mencoba meredam suara-suara itu di otaknya. Rasa frustasi membuncah di dada. Dengan napas memburu, ia menjauh dari area camp. Baginya, sudah tak ada harapan lagi di pack ini.
"Alpha," suara Junhui pecah di tengah keheningan. Tangannya sedikit terulur seolah ingin menyentuh pundak Sicheng namun ia urungkan. "Tidakkah kau berencana untuk memindahkan pack ke tempat lain? Jika kita terus disini, para hunter akan semakin mudah menemukan kita."
Sicheng menoleh, menatap Junhui dengan sorot mata yang tajam. "Apa yang kau harapkan dari orang yang tak bisa melindungi wilayahnya—bahkan mate-nya sendiri?" Ia tertawa getir. "Tugasku sudah selesai, pack ini bukan lagi tanggung jawabku. Sekarang, enyahlah dari hadapanku dan temukan pemimpin lain."
"Apa maksudmu, Alpha?!" Junhui mengerutkan kening. Ia meraih pergelangan tangan Sicheng namun ditepis kasar. "Kau tak bisa pergi begitu saja! Kau pemimpin, mereka membutuhkanmu!"
Sicheng tak peduli. Tatapannya lurus ke depan, seolah dunia di sekelilingnya hanyalah bayangan yang tak lagi nyata. Setiap jengkal tanah ini adalah pengingat akan kegagalannya, dan setiap hembusan angin hanya membawa bau kematian yang ingin ia tinggalkan.
"Alpha!"
Teriakan Junhui semakin lama semakin sayup oleh detak jantungnya sendiri. Begitu kakinya menyentuh tanah di luar perbatasan, napasnya memburu. Ia bertumpu pada kedua tangan sebelum bertransformasi menjadi serigala berwarna coklat. Dengan satu dorongan kuat pada kaki belakang, ia melesat—menerjang semak berduri tanpa peduli kulitnya tergores.
Di tengah pelarian, insting wolf-nya tiba-tiba berteriak. Sebuah anak panah melesat di depan moncongnya, menancap pada batang pohon dengan getaran yang memekakkan telinga. Sicheng mengerem langkahnya mendadak, cakarnya mencengkram tanah hingga debu bertebaran.
Dari balik pepohonan rimbun, muncul seorang pria dengan membawa busur di tangan. Tak hanya satu. Dua orang lainnya muncul di sisi kiri dan kanan dengan senjata yang sudah terkokang. Sicheng menggeram, taringnya mencuat tajam. Dalam sekejap, duka yang tadinya melanda berubah menjadi amarah yang meledak.
Dor!
Satu peluru bersarang di bahu kiri Sicheng sebelum sempat menerjang. Ia tersungkur. Namun, kemarahan lebih kuat dari rasa sakitnya. Ia bangkit dengan satu hentakan kuat, melompat ke salah satu hunter lalu menancapkan taringnya di leher pria itu.
Pertarungan pun terjadi. Sicheng menggeram, mencakar, serta menerjang tiga pria bersenjata seorang diri. Satu tembakan lagi menghantam paha belakangnya, membuatnya jatuh di atas tanah kering yang kasar. Pandangannya terasa kabur. Dengan tenaga yang tersisa, ia memaksakan diri untuk berlari ke arah hutan.
YOU ARE READING
ANCHORED •yuwin•
FanfictionMate-nya telah tewas di tangan para hunter, tak ada yang bisa menggantikan sosoknya di dunia ini, setidaknya itu yang Sicheng pikirkan. Hingga akhirnya ia bertemu sosok yang mengubah hidupnya 180 derajat. [THREESHOT] [ABO] Don't like it? Then don'...
