Pengejaran di Tengah Malam
"Berhenti di sana!"
Kang Jia berlari sekuat tenaga. Angin malam menerpa wajahnya saat ia mengejar pria yang baru saja menusuk seorang pejalan kaki. Sebagai mantan atlet lari, jarak di antara mereka terkikis dalam hitungan detik. Tanpa ragu, Jia melakukan tendangan menyamping yang telak, membuat si penjahat tersungkur dan tak berkutik.
Tak lama kemudian, polisi datang meringkus pelaku. Jia mengembalikan tas milik korban yang masih syok. Berkat aksi heroiknya yang terekam kamera warga, Jia mendadak viral. Namun, popularitas itu justru membawa babak baru dalam hidupnya.
"Kang Jia, 27 tahun. Mantan atlet lari... Anda sekarang bekerja sebagai reporter olahraga?" Kepala Detektif membaca profilnya dengan dahi berkerut.
Jia terdiam. Pikirannya melayang ke kejadian di kantor pusat satu hari yang lalu.
"Mulai sekarang, kau ditugaskan menjadi reporter kriminal," putus pimpinan redaksi dengan dingin. Itu adalah hukuman karena Jia dianggap tidak disiplin setelah melewatkan rapat penting di China.
"Jadi, Anda gadis pemberani yang ada di berita itu?" tanya Polisi Yoon, seorang polwan senior, saat Jia mengajukan izin untuk menginap di ruang pers kantor polisi.
"Benar," jawab Jia singkat.
"Apa karena berita viral itu Anda dipindahkan ke sini?"
"Bukan. Saya melanggar peraturan perusahaan. Saya bolos kerja, jadi dipindahkan ke divisi kriminal sebagai sanksi," jelas Jia jujur.
Polisi Yoon menatapnya ragu. "Tempat ini penuh reporter pria yang kasar. Anda yakin ingin tinggal di sana?"
"Jangan khawatir. Saya sudah mengenal karakter mereka. Mereka tidak akan macam-macam dengan saya," sahut Jia meyakinkan.
Namun, kenyataan pahit menyambutnya. Ruang reporter itu sempit, pengap, dan bau kopi instan bercampur keringat. Di sana sudah ada Kim He Su dari TV YTN dan rekan satu kantornya di SBI, Kwon Ha Neul.
"Bagaimana? Dapat izinnya?" tanya He Su antusias. Jia menunjukkan kartu aksesnya, disambut sorakan kemenangan. "Akhirnya kita makan jajangmyeon gratis!" seru Ha Neul.
Tengah malam, Jia tidak bisa tidur. Ruangan itu terlalu menyesakkan. Ia keluar mencari udara segar dan iseng mengirim pesan singkat: "Sudah tidur?"
Tak lama, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan internasional masuk.
"Belum. Aku masih memeriksa berkas. Kenapa kamu belum tidur?" suara berat dan tenang milik Baek Ha Joon terdengar di seberang sana.
"Aku tidak bisa tidur. Sebenarnya... setelah rapat kemarin. Akhirnya aku dipindahkan ke divisi kriminal. Karena itu aku akan sering menginap di kantor polisi mulai sekarang." kata Jia.
"Terdengar dari suaramu, sepertinya tempat itu buruk, bukan?"
"Aku masih belum tahu. Tapi sejauh ini sebenarnya diluar dugaanku."
"Huh, bagaimana pun ini gara-gara aku menahanmu di China hari itu, kamu jadi kesulitan. Berhentilah jika kamu mau, Jia," ucap Ha Joon lembut namun sarat rasa bersalah.
"Aku bukan tipe orang yang hanya duduk diam di rumah, meski di pindah ke neraka sekali pun, aku akan cepat menyesuaikan diri dan bertahan," balas Jia optimis tapi terdengar keras kepala di telinga Ha Joon.
Ha Joon menghela napas. "Setiap kali kita berdebat, rasanya aku ingin segera pulang dan menahanmu agar tetap di sisiku."
"Baek Ha Joon-ssi!"
YOU ARE READING
In My Radiant
General Fiction21++ Kang Ji A baru saja memulai babak baru dalam hidupnya. Namun ditengah kekacauan terjadi ia menemukan bahwa sosok suaminya adalah seorang penjahat.
