Hari itu, kamar Lara seolah kehilangan udaranya. Suasana terasa sunyi, hanya ada dingin yang merayap di kulit dan sunyi yang mencekam. Lara merasakan ketegangan yang luar biasa; detak jantungnya berpacu lebih liar dari biasanya. Inilah harinya. Inilah waktu yang akan menjadi persimpangan besar dalam hidupnya.
Sebuah momen yang ia harapkan akan menjadi gerbang menuju mimpinya: Pengumuman SNBT
Lara adalah seorang gadis yang jatuh cinta pada kata-kata. Meski jemarinya belum seandal penulis kondang, bagi Lara, menulis adalah napas. Menulis adalah satu-satunya kesenangan yang tak bisa ditukar dengan kepingan apa pun di dunia ini. Karena itulah, satu jam ini terasa seperti satu abad. Ia menanti dengan doa yang tak putus, berharap sebuah nama akan muncul di layar laptopnya: "Sastra Indonesia"
Tiga puluh menit lagi...
Dua puluh...
Sepuluh...
Satu menit terakhir terasa begitu menyiksa.
3
2
1
0....
Dunia seolah berhenti berputar. Dengan jemari yang gemetar dan keringat dingin yang membasahi kursor, Lara mengklik tautan pengumuman itu. Matanya menyipit, jantungnya mencelos saat warna merah menyala menyambut pandangannya.
"Maaf, Anda dinyatakan tidak lulus seleksi..."
Kalimat itu terasa seperti hantaman benda tumpul tepat di dadanya. Sesak,sakit sekali.
Lara telah memberikan segalanya. Ia telah meramu usaha hingga titik darah penghabisan, melakukan yang terbaik yang seorang manusia bisa lakukan. Sumpah, ia sudah berjuang setengah mati. Tapi, apa-apaan ini? Kenapa semesta seolah menutup pintu tepat di depan wajahnya?
Dalam keheningan yang kini terasa menyakitkan, perlahan pipi Lara terasa panas. Butiran air mata mulai luruh, menganak sungai, membasahi harapan-harapannya yang baru saja patah berkeping-keping.
Hari itu, ia bukan hanya gagal masuk kampus impian; ia merasa dirinya adalah sajak paling gagal yang pernah ditulis oleh semesta.
....
Namun, Lara bahkan tidak diberi waktu untuk berduka lebih lama.
Suara ketukan pintu yang datar memecah sunyi. Papa masuk dengan map cokelat di tangannya. Tidak ada pelukan hangat atau kata penenang; keheningan Papa justru terasa lebih mencekam daripada pengumuman merah di layarnya.
"Pa... Lara mau coba jalur Mandiri. Masih ada kesempatan buat Sastra di kampus lain. Lara yakin kalau-"
"Cukup, Ra," potong Papa cepat. Suaranya dingin, sanggup membekukan sisa-sisa harapan Lara. "Mandiri? Mau buang-buang uang lagi buat jurusan yang nggak jelas kerjanya? Coba kamu pikir pakai logika, lulus Sastra itu mau jadi apa, Ra? Mau jadi pengangguran?"
Lara tertunduk, meremas jemarinya kuat-kuat. "Sastra itu nggak cuma soal baca buku, Pa. Lara ingin menulis, Lara ingin-"
"Menulis itu hobi, bukan masa depan! Papa nggak mau liat kamu luntung-lantung nyari kerjaan setelah lulus nanti," Papa menyodorkan map cokelat itu ke atas meja dengan suara plak yang menggema, seolah sedang menjatuhkan vonis mati.
"Mending kamu masuk Farmasi. Jalannya sudah lempeng. Kamu kuliah yang bener, lulus, ambil profesi Apoteker. Setelah itu kamu bisa daftar PNS. Hidupmu bakal tenang, masa depan terjamin, hari tuamu ada yang nanggung. Panggilannya jelas: Bu Apoteker. Seragammu jelas, gajimu tetap. Nggak kayak Sastra yang masa depannya abu-abu, kerjanya nggak menentu."
Lara terdiam, namun hatinya menjerit hebat. Di dalam kepalanya, ia membalas setiap kata-kata Papanya dengan pedih.
PNS? Jadi itu standar kebahagiaan Papa? Menjadi sekrup dalam mesin besar yang bekerja demi angka, sementara jiwa Lara perlahan mati karena tidak bisa menulis?
YOU ARE READING
Para-Sastra-Mol: Sebuah Metafora yang Tersesat
Non-FictionLara adalah sebaris puisi yang dipaksa menjadi rumus kimia. Bagi Lara, mimpi buruk yang sesungguhnya bukanlah tentang hantu, melainkan pagi yang memaksanya kembali menghadapi dinginnya alat laboratorium dan tumpukan buku-buku farmasi yang tebal. Se...
