« Jika bisa memilih aku ingin memilih berhenti
karena di detik ini aku merasa semakin tidak bebas berekspresi. »
🌸 𝑲𝒂𝒚𝒍𝒂 𝑨𝒏𝒏𝒂𝒓𝒂 🌸
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar minimalis Kayla, memantul pada jam beker yang menunjukkan pukul lima pagi. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari pertamanya menjalankan tugas luar kota sebagai asisten pribadi Pak Jimin.
Ada rasa cemas yang menggelayut di dadanya saat ia memilih pakaian di dalam lemari. Ia ingin terlihat profesional, namun kata-kata Raina tentang "radar Pak Jimin" membuatnya ragu. Akhirnya, ia memilih setelan blazer berwarna krem dengan dalaman sutra berwarna senada—terlihat elegan namun tetap sopan.
"Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya pada bayangan di cermin.
Jakarta yang sibuk sudah menunggu, dan Pak Jimin—dengan segala pesona dan godaan terselubungnya—siap menjadi poros dunianya sepanjang hari ini.
Perjalanan menuju Jakarta ditempuh dengan mobil perusahaan yang dikemudikan oleh sopir pribadi Pak Jimin. Namun, yang membuat Kayla tidak nyaman adalah posisi duduk mereka. Pak Jimin memintanya duduk di kursi belakang bersamanya, bukan di depan samping sopir.
"Jarak di depan terlalu jauh untuk kita mendiskusikan dokumen ini," kilah Jimin saat Kayla sempat ragu untuk masuk.
Di dalam mobil yang sejuk dan harum aroma sandalwood, Jimin menyodorkan beberapa berkas. Namun, alih-alih membahas poin-poin kontrak, jemarinya seringkali tidak sengaja—atau mungkin sengaja—bersentuhan dengan jemari Kayla saat membalik halaman.
"Kamu terlihat tegang sekali, Kayla," bisik Jimin pelan, cukup dekat hingga Kayla bisa merasakan deru napasnya. "Rilekslah. Jakarta tidak akan memakanmu, begitu juga aku."
"Saya hanya ingin memastikan saya tidak melakukan kesalahan, Pak," jawab Kayla, matanya tetap terpaku pada dokumen meskipun pikirannya sudah melayang entah ke mana.
"Kesalahan terbesarmu adalah terlalu kaku," Jimin menutup map di pangkuannya. "Panggil aku 'Jimin' jika kita sedang tidak di depan klien atau karyawan lain. Aku merasa seperti kakek-kakek jika kamu terus memanggilku 'Pak' di ruang sesempit ini."
Kayla menoleh, matanya bertemu dengan mata Jimin yang tajam namun lembut. "Tapi, itu tidak profesional, Pak... maksud saya, Jimin."
Jimin terkekeh, suara rendah yang memenuhi kabin mobil. "Lihat? Kamu baru saja mengatakannya. Ternyata suaramu lebih manis saat memanggil namaku tanpa embel-embel jabatan."
Pertemuan di Jakarta berlangsung intens. Kayla baru menyadari bahwa Jimin adalah sosok yang sangat berbeda saat bekerja. Ia tegas, dominan, dan sangat cerdas. Namun, setiap kali mata mereka bertemu di tengah rapat, Jimin selalu memberikan kedipan tipis yang hanya bisa ditangkap oleh Kayla—seolah mereka memiliki rahasia besar di tengah ruangan yang penuh orang serius itu.
Selesai rapat, matahari sudah mulai terbenam, menyisakan gurat jingga di langit Jakarta. Jimin mengajak Kayla ke sebuah restoran rooftop yang mewah.
"Bukankah kita seharusnya langsung pulang?" tanya Kayla saat mereka melangkah menuju meja yang sudah dipesan.
"Aku lapar, dan aku yakin kamu juga. Anggap ini upah karena kamu sudah mencatat semua poin rapat dengan sangat baik tadi," Jimin menarikkan kursi untuk Kayla, sebuah gestur gentleman yang membuat jantung Kayla berdegup tidak karuan.
Di bawah kerlip lampu kota, suasana berubah menjadi lebih intim. Jimin tidak lagi membahas soal vendor atau desain grafis. Ia mulai bertanya tentang masa kecil Kayla, tentang mimpinya, dan tentang apa yang disukai gadis itu.
"Kenapa kamu ingin tahu begitu banyak tentang saya?" tanya Kayla di sela-sela makan malamnya.
Jimin menyesap minumannya, matanya menatap Kayla dalam-dalam. "Karena asisten pribadiku harus kukenal luar dalam. Dan karena... aku tidak ingin orang lain tahu apa yang aku tahu tentangmu."
Tangan Jimin bergerak di atas meja, meraih tangan Kayla dan menggenggamnya lembut. Kali ini, ia tidak melepaskannya. "Kayla, aku serius saat mengatakannya di kantor. Aku tidak ingin kamu hanya menjadi asisten yang mengurus jadwalku. Aku ingin kamu menjadi orang yang paling dekat denganku."
Kayla terpaku. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Di satu sisi, ia tahu ini adalah wilayah berbahaya—hubungan antara bos dan bawahan. Namun di sisi lain, sentuhan tangan Jimin terasa begitu hangat dan nyata, jauh lebih menarik daripada logika yang ada di kepalanya.
"Apakah ini bagian dari pekerjaan saya?" tanya Kayla dengan suara bergetar.
Jimin menggeleng pelan, ia membawa tangan Kayla ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan lembut sambil tetap menatap matanya. "Tidak. Ini bagian dari keinginanku. Dan aku harap, ini juga menjadi keinginanmu."
Malam itu, di bawah langit Jakarta, Kayla menyadari bahwa ia tidak hanya berpindah meja kantor, tapi ia juga baru saja memindahkan seluruh hatinya ke dalam genggaman pria yang kini tersenyum penuh kemenangan di depannya.
YOU ARE READING
𝐌𝐲 𝐇𝐮𝐬𝐛𝐚𝐧𝐝 𝐈𝐬 𝐀 𝐅𝐨𝐫𝐦𝐞𝐫 𝐌𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐋𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫 || 𝐅𝐟 𝐏𝐉𝐌
Action𝔽𝕒𝕟 𝕗𝕚𝕔𝕥𝕚𝕠𝕟 ℙ𝕒𝕣𝕜 𝕁𝕚𝕞𝕚𝕟 𝕏 𝕂𝕒𝕪𝕝𝕒 𝔸𝕟𝕟𝕒𝕣𝕒 ᴄᴇʀɪᴛᴀ ɪɴɪ ʜᴀɴʏᴀ ғɪᴋsɪ ᴘᴇɴɢɢᴇᴍᴀʀ! Cerita ini mengisahkan tentang seorang gadis cantik, bernama 𝗞𝗮𝘆𝗹𝗮 𝗔𝗻𝗻𝗮𝗿𝗮. Kayla bukan sembarang gadis, dia adalah pujaan hati dari seor...
