"Plis jangan telat, jangan telat."
Dia Yeonjun. Ini hari pertama kerjanya setelah sekian lama menganggur. Sebelumnya, saat ia menganggur, bukan karena tidak mendapat pekerjaan, tetapi karena ia malas dan memilih hidup foya-foya, menghamburkan uang ayahnya serta memanfaatkan semua fasilitas yang diberikan kedua orang tuanya.
Kenapa kali ini ia bekerja?
Karena semua kemewahan itu sudah musnah dan sirna sejak ayahnya bangkrut kecil sebulan yang lalu. Bukan bangkrut besar-besaran—harta mereka masih banyak—tetapi ayahnya memanfaatkan keadaan ini sebagai kesempatan untuk mengubah pola pikir dan perilaku anaknya yang satu itu. Di antara anak-anaknya yang lain, hanya Yeonjun yang melenceng.
Jadi, ayahnya mengatakan bahwa perusahaan bangkrut dan harus menjual fasilitas-fasilitas yang selama ini Yeonjun nikmati.
Awalnya Yeonjun marah dan tidak terima dengan keadaan yang berubah seketika. Namun, saat melihat ibu dan adik-adiknya menerima keadaan dengan lapang dada, ia justru merasa malu. Dengan terpaksa—ya, masih terpaksa—ia akhirnya mencoba menerima keadaan. Ia mulai melamar ke beberapa perusahaan dan agensi, walaupun hanya bermodalkan wajah yang menawan. Karena kuliah saja ia sering kabur-kaburan, jadi hanya itu yang bisa ia harapkan.
Kini ia sedang berlari menuju halte.
Hari pertama yang tidak beruntung. Sudah lelah berlari jauh dari kompleks perumahannya, eh busnya malah berangkat duluan.
"aaaaaarghh," teriaknya pelan sambil terengah-engah.
Ia melihat sekelilingnya, tetapi tidak ada taksi yang lewat. Yang parkir pun sama sekali tidak ada. Ia buru-buru mengambil ponselnya dari saku celana dan membuka aplikasi transportasi online. Namun, saat melihat saldo yang dimiliki dan uang di kantongnya yang tidak seberapa, ia memutuskan untuk tidak jadi memesan.
Ia menghela napas panjang.
"Jalan aja deh. Semoga di halte berikutnya gak telat," ujarnya sambil melihat jam tangan.
Dengan langkah berat, ia berjalan menuju halte berikutnya. Tidak jauh, tapi juga tidak bisa diharapkan akan ada bus lain atau tidak. Kalau menunggu di halte saat ini, justru akan memakan waktu lebih lama.
Langkah demi langkah ia lalui. Kakinya belum terbiasa berjalan sejauh ini, tapi mau bagaimana lagi—ia harus bisa.
Di tengah perjalanannya, tiba-tiba ada mobil yang mengklakson dari samping.
"Eh?"
Ia melihat dan meraba tubuhnya sendiri, takut-takut ada yang salah dengan dirinya.
Suara klakson itu semakin menjadi dan memekakkan telinga Yeonjun, membuatnya berhenti dan bersiap mengomeli pengemudinya.
"APASIH?!" bentaknya.
Kaca mobil itu terbuka perlahan, menampilkan sosok pria berambut hitam dengan jas rapi di dalamnya.
"Yeonjun, kan?" tanyanya.
Raut wajah Yeonjun yang semula marah kini berubah menjadi terkejut.
"E-eh, Pak Soobin," ujarnya ramah walaupun sedikit terbata-bata.
"Udah jam berapa ini?" tanya Soobin.
Yeonjun merengut.
"Iya, Pak, saya telat. Ini lagi mau nyusul bus kok," ujarnya santai.
Ya, sifat manja dan acuhnya masih tetap ada, walaupun ia bertekad ingin berubah.
"Masuk," ujar Soobin.
Yeonjun menunjuk dirinya sendiri.
"Saya?" tanyanya, memastikan bahwa ajakan itu memang untuknya.
Soobin mengangguk.
YOU ARE READING
Make it Right (Soobjun)
FanfictionSoobin dan Yeonjun Viral dikalangan fujoshi atau BL enthusiast karena momen-momen manis mereka yang tanpa sengaja terekspos oleh staff perusahaan. Apakah sesuatu hal yang berawal dari sebuah keviralan bisa bertahan lama atau malah sebaliknya? Soobin...
