WONBIN . PART 1

101 6 1
                                        

Siang itu Wonbin memilih istirahat di kafe seberang kantornya. Tidak terlalu jauh, hanya butuh beberapa langkah saja untuk sampai. Dengan setelan kasual dan tanda pengenal mengalung di lehernya, Wonbin duduk di dekat jendela. Ditemani segelas kopi dan laptopnya, Wonbin kembali bekerja meski sedang jam istirahat.

Kafe di gedung perusahaannya selalu ramai karyawan. Wonbin tidak begitu menyukainya, ia lebih memilih menyendiri dan sibuk dengan dunianya sendiri. Kerja, kerja, kerja. Ia butuh upah untuk membayar semua kebutuhannya. Pekerjaan dan jabatan ini sulit ia dapati, seolah ia harus bertahan di tengah badai demi mendapatkan jabatannya sebagai karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang distribusi ini.

Saat ia sibuk dengan laptopnya, sepasang telinganya mendengar suara gelak tawa dan obrolan dari arah pintu masuk. Terdapat lima orang dengan setelan kasual sama seperti dirinya; dua perempuan, tiga laki-laki. Termasuk atasannya, kepala divisi satu dimana Wonbin merupakan salah satu anggotanya.

Jung Sungchan; anak dari pemilik perusahaan. Usianya tiga puluh tahun dan katanya sebentar lagi ia akan bertunangan. Wonbin melirik ke arah segerombol orang itu, termasuk seorang perempuan dengan rok di atas lutut yang terus menggandeng lengan Jung Sungchan kemanapun itu.

Mereka tak sengaja melewati Wonbin, sontak salah satu dari mereka menyapa sehingga Wonbin terpaksa membalasnya.

"Ayo gabung, Park Wonbin." Ajak pria itu; Eunseok. Teman dekat Sungchan sekaligus tangan kanannya.

Mereka menatap Wonbin, melambai tangan antusias agar Wonbin ikut bergabung. Namun, Wonbin menolak dengan halus beralasan ia punya urusan lain sebelum menyumpal telinganya dengan airpods berwarna putih. Ia tidak ingin diganggu, ayolah.
Mereka duduk tak jauh dari Wonbin. Gelak tawa dan suara obrolan itu terdengar jelas meski Wonbin menyumpal telinganya. Yah, ia tidak mendengarkan musik atau apapun itu. Ia hanya ingin terlihat sibuk.

Di sisi lain, saat mereka sibuk membicarakan pekerjaan, salah satu perempuan menyeletuk.

"Kenapa dia selalu diam dan tidak ingin bergabung?" Tanyanya menunjuk singkat ke arah Wonbin. Perhatian mereka pun beralih kepada Wonbin dengan kompak.

"Ah, sepertinya dia seorang introvert."

"Sorot matanya juga aneh. Ah, bukankah dia pernah bertengkar denganmu, Subin?"

Yang dipanggil Subin pun tersenyum kecil. Ia menghela nafas lantas memposisikan diri duduk tegak, melipat kedua tangan kurusnya di meja, "tidak, aku tidak pernah bertengkar dengannya. Hanya... sedikit debat karena dia cukup membuatku kesal."

"Kenapa?"

"Sudahlah, itu hanya masalah sepele." Ia terkekeh renyah, lalu menyenderkan punggungnya ke punggung sofa, sangat menempel pada kekasih tampannya yakni Jung Sungchan, "apakah kalian tahu jika dia adalah seorang gay?"

"Hah, benarkah!?" Perempuan satunya memekik lalu menutup mulut. Tampaknya ada gosip terbaru ia pikir, "dia tampan loh, anak-anak dari divisi lain juga diam-diam menaksirnya! Darimana kamu tahu hal ini, Subin-ah?"

"Nanti kamu akan tahu sendiri kok, Yuna-ya."

Sungchan hanya mendengarkan obrolan mereka. Ah, ternyata seperti ini obrolan perempuan? Cukup membosankan karena yang mereka bicarakan adalah baju, perhiasan, salon, kuku, dan orang lain. Sungchan sendiri memilih berbincang kecil dengan dua temannya sesekali melirik ke arah Wonbin yang masih setia duduk di tempatnya.

Dia seorang gay? Apakah Subin benar-benar serius dengan ucapannya?

"Yah, jika benar dia gay setidaknya dia tampan. Tapi dia tidak terlihat seperti gay... apa hanya perasaanku saja?"

"Tampan? Dia malah terlihat seperti perempuan, sepertinya dia selalu meluruskan rambutnya setiap hari dan berias. Hahaha."

"Subin-ah, kamu benar!" Yuna terkekeh pelan lalu dibalas kekehan oleh Subin. Eunseok tersenyum miring, menggelengkan kepalanya pelan.

"Kalian suka mengejek orang ya."

"Ayolah, Eunseok. Kekasihmu juga pasti seperti ini!"



.
.
.
.
.
.




Pria berusia tigs puluh itu beranjak keluar dari mobilnya setelah parkir di area biasa ia menyimpan mobilnya. Setelah memastikan mobilnya terkunci, Sungchan melangkah masuk ke dalam pintu ganda tersebut lantas masuk ke dalam lift. Benda kubus yang canggih itu membawanya dari area parkir bawah tanah menuju lantai sepuluh.

Tak butuh waktu lama ia sampai. Melangkah keluar membawa buket bunga mawar berukuran kecil dan kue di tangan kanan. Ia menekan pin di gagang salah satu dari empat pintu lalu masuk ke dalam.

"Aku pulang." Ujarnya sambil melepas sepatunya. Pria dengan setelan jas biru tua lengkap dengan dasi itu melangkah lebih jauh sebelum meletakkan buket bunga dan kue di atas meja dapur.

"Jagiya," panggilnya, ia mengerjap pelan kemudian melepas jasnya sebelum berjalan ke arah ruang tengah, "Park Wonbin, kamu dimana?"

Tak lama kemudian seseorang berjalan keluar dari kamar dengan senyum kecil. Senyuman yang membuat Sungchan terlihat lega sekaligus rindu. Tubuh yang lebih pendek darinya itu ia raih, ia peluk dengan lembut. Aroma vanila kesukaannya langsung menghampiri indra penciuman.

"Bogoshipeo, Wonbin-ah."

"Aku juga." Wonbin melepaskan pelukan itu lalu melempar senyum lebih lebar dari sebelumnya. Bibir mereka terpaut tidak menyisakan jarak. Saling bertukar rindu sekaligus bertukar liur.

Jika Subin berkata bahwa Wonbin seorang gay, maka ia benar. Namun, Subin tidak menyadari bahwa kekasihnya sendiri juga merupakan seorang gay. Jung Sungchan menolak ajakan Yoon Subin ke sebuah klub untuk bersenang-senang, Sungchan bilang ia harus pulang ke rumah orang tuanya karena ada urusan mendadak.

Dan di sinilah Jung Sungchan itu.
Berpaut bibir dengan pujaan hatinya yang malam ini memakai tanktop pink dengan renda dan celana pendek. Bibir pinknya seolah Sungchan hisap seperti permen, kedua tangannya memeluk pinggang ramping yang selalu tersembunyi di balik kemeja kasual di tempat kerja.

Ciuman itu terhenti.
Sungchan mengecupi wajah Wonbin tanpa henti dibalas kekehan malu. Wajah Wonbin akan memerah hingga telinga, gelagatnya akan berubah manja jika Sungchan tidak melepas pelukannya.

"Aku bawa kue dan bunga untukmu." Ujar Sungchan pelan, menyelipkan anak rambut berwarna hitam itu di belakang telinga Wonbin.

Wonbin melirik ke arah meja makan lalu mengerjap pelan. Bulu mata lentik dan panjang itu menarik perhatian Sungchan. Ia paling suka jika Wonbin berias seperti ini jika ia pulang ke rumah. Yah, meski tidak dapat dipungkiri bahwa Wonbin tetap tampak cantik meski tidak berias sekalipun.

Sungchan kembali memeluknya erat. Menghirup aroma vanila yang memabukkan. Wonbin berjinjit, membalas pelukan Sungchan Sungchan yang terasa membungkus seluruh tubuhnya. Prianya, pujaan hatinya, seolah ia rela memberikan segalanya untuk Jung Sungchan.





.
.
.
.
.
.

to be continue

.
.
.
.
.
.






- navyearl -

WONBIN | SungchanWonbinAnton✔️Stories to obsess over. Discover now