Cinta itu sederhana, kata banyak orang.
Dekat dengan seseorang, merasa nyaman, dan membiarkannya berjalan begitu saja.
Dulu Karin percaya dengan itu semua.
Sampai ia bertemu dengan sosok wanita yang membuat jantungnya seperti menaiki roller coaster—Wina Saskila. Anak MIPA 2 yang kebetulan Karin juga ada di kelas. Wina tidak membawa satu hal istimewa di dalam dirinya, tapi hubungan dekat mereka seakan-akan memberi sinyal kepada hati Karin, sinyal bahwa ia harus mendapatkan wanita itu.
Berawal dari saling menyapa, karena Wina adalah murid pindahan. Bertukar pesan, dan menjadi andalan satu sama lain.
Lama kelamaan, obrolan mereka tidak hanya berputar di tugas sekolah. Tapi juga tentang lagu yang disukai, makanan yang gagal dimasak, atau hanya sekedar menceritakan keluh kesah.
Semuanya berlangsung biasa.
Justru karena terlalu biasa, Karin tidak pernah sadar sejak kapan ia mulai mencari nama Wina di antara notifikasi ponselnya.
Di sisi lain, Wina juga tidak pernah mengira ada seseorang yang mampu membuatnya menunggu balasan pesan beberapa menit lebih lama dari biasanya.
Tidak ada yang benar-benar mengaku lebih dulu.
Tidak ada yang berani memberi nama pada perasaan itu.
Karena mereka tahu, dunia sering kali lebih mudah menerima cerita cinta yang sederhana daripada cerita cinta mereka.
-
"Win, nanti mau pulang bareng?"
Wina mengalihkan pandangannya dari kertas yang berada di meja, ke wajah Karin. "Boleh, asal kamu nggak buru-buru."
Karin tersenyum tipis, sembari menyenderkan punggungnya di sandaran bangkunya. "Sejak kapan aku buru-buru, kalau sama kamu, Wina?"
Jawaban itu membuat Wina terkekeh pelan, lalu menganggukkan kepalanya, menerima tawaran pulang dari Karin. Percakapan itu berhenti sampai di sana, setiap hari seperti itu.
Tidak ada yang menyadari, percakapan sederhana seperti itu perlahan berubah, menjadi sesuatu yang akan mereka nantikan.
Karin tidak bisa membayangkan, gadis yang ia cintai akan menjadi miliknya kelak. Ia akan memastikan, bahwa tak boleh ada tetesan air mata yang jatuh mengalir di pipi Wina, walaupun dirinya belum jadi milik Wina.
Diam-diam, mereka menyimpan rasa yang sama, namun tak ingin muncul terburu-buru. Bukan karena tidak yakin, tapi karena cinta mereka sangat rumit dibanding hubungan orang lain yang sederhana.
Karin adalah tipe orang yang mudah salah tingkah, apalagi jika ia melihat Wina melakukan tingkah yang gemas dihadapannya.
"Win, hati-hati! Tuh, wajah kamu jadi kotor. Sini aku bersihin."
Di dalam diri Wina masih ada sosok anak kecil yang tak bisa keluar dari tubuhnya, masih suka ada tingkah anak kecil yang keluar di dekat orang-orang ternyamannya—termasuk Karina.
Wina suka dimanja, dan Karina suka memanjakan Wina. Hal yang sudah sempurna, yang harusnya bisa membuat mereka bersatu, dihadang oleh satu hal kecil.
Bahagia terus ya, Wina Saskila. Begitu kata Karin di dalam benaknya.
Halo, semuanya. Aku baru bikin lagi, setelah sekian lama berhenti menulis. Mohon untuk dibantu, kritik, dan ide baru kalian, ya!
CZYTASZ
Karin dengan Cintanya (JiminJeong)
General FictionSemuanya bermula dari percakapan yang tidak penting. Kebiasaan Karin yang dulu sering lupa akan tugas di sekolahnya dikarenakan sibuk dengan lomba band-nya, dia selalu menanyakannya kepada Wina. Wina selalu membalas chat jika sudah terlihat beberapa...
