Bab 1

201 35 15
                                        

Lonceng sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya jam pelajaran terakhir. Adel segera merapikan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan cepat. Pikirannya sudah melayang ke parkiran, membayangkan wajah Gita dan Chika yang pasti sudah menunggu sesuai janji di pesan Shani tadi.

"Semangat amat, Del. Takut Ci Shani lapor guru lagi ya kalau telat balik?" goda Olla sambil menyampirkan tas di bahunya.

Adel mendengus pelan sambil memakai jaketnya. "Berisik lo, La. Gue cuma males aja denger mereka berdua berantem di parkiran gara-gara siapa yang mau nyetir."

"Hati-hati ya, Del. Kalau ada apa-apa langsung kabarin kita," ucap Indah dengan nada keibuannya yang khas. la menepuk bahu Adel pelan, memastikan sahabatnya itu benar-benar dalam kondisi stabil.

"Aman, Ndah. Makasih ya semua," sahut Adel singkat sebelum melambaikan tangan dan lari kecil menuju area parkir SMA Bunga Bangsa.

Benar saja, dari kejauhan Adel sudah bisa melihat mobil SUV hitam milik keluarganya. Di samping mobil, Gita berdiri bersedekap dengan wajah datarnya yang khas, sementara Chika asyik memainkan kunci mobil sambil sesekali melirik jam tangan.

"Lama banget sih, Reva! Lumutan gue nungguin di sini," keluh Chika begitu Adel sampai di depan mereka.

"Ya kan baru bel, mana bisa gue terbang ke sini," jawab Adel santai ke arah Chika.

"Udah, jangan berantem. Chika, biar gue yang nyetir. Lo di belakang sama Reva," potong Gita mutlak.

Chika memutar bola matanya tapi tetap memberikan kunci mobil ke Gita. Di dalam perjalanan, suasana terasa jauh lebih hangat. Tak ada lagi kecanggungan atau rasa takut yang menyelimuti Adel. la duduk bersandar di kursi belakang, sementara Chika sibuk menceritakan drama di kampusnya hari ini.

"Eh, Reva, tadi Ci Gre bilang mau bikin rendang kan? Tadi gue lewat dapur, baunya gila sih, enak banget. Kayaknya itu khusus buat ngerayain lo yang udah 'balik lagi," ujar Chika sambil menyenggol lengan Adel.

Adel tersenyum tipis. "Iya, gue juga udah laper banget. Ci Gre emang paling tau cara bikin gue laper."

Setibanya di rumah, aroma rempah langsung menyambut indra penciuman mereka. Shani sedang duduk di ruang tengah sambil membaca berkas, namun langsung bangkit ketika melihat adik-adiknya pulang.

"Halo, kesayangan Cici udah pulang?" Shani mendekat, mengusap kepala Adel dengan penuh kasih sayang.

"Udah, Cici. Reva kangen," gumam Adel tiba-tiba sambil memeluk pinggang Shani, menunjukkan sisi manjanya yang hanya keluar di depan kakak-kakaknya.

Shani tertawa kecil, membalas pelukan itu erat. "Manja banget sih adeknya Cici. Ya udah, Reva mandi dulu ya, ganti baju. Habis itu kita makan bareng sama Ci Gre, Gita, sama Chika."

Tiba-tiba, suara guntur menggelegar pelan di kejauhan. Langit di luar jendela mulai menggelap. Bahu Adel sedikit menegang, dan ia semakin mengeratkan pelukannya pada Shani.

"Takut petir ya? Tenang, ada Cici di sini. Enggak akan ada apa-apa," bisik Shani menenangkan, seolah tahu ketakutan terbesar adiknya itu.

Gracia muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terpasang. "Heiii! Kok malah pelukan di situ? Ayo siap-siap, rendangnya udah matang nih. Reva, kalau makannya banyak, nanti Cici kasih bonus es krim!"

Adel melepaskan pelukannya dan menatap Gracia dengan mata berbinar. "Beneran ya, Ci Gre? Reva mau rasa cokelat!"

"Iya, apa sih yang enggak buat Reva," sahut Gracia sambil mencubit gemas pipi adiknya.

Sore itu, di meja makan kediaman Natio, tawa kembali pecah. Tidak ada lagi bayang-bayang masa kelam atau sosok 'Della' yang memberontak. Hanya ada Reva, si bungsu yang kembali menemukan rumahnya di antara pelukan hangat keempat kakak perempuannya.

Selesai makan malam, hujan deras benar-benar turun mengguyur Jakarta. Suara guntur sesekali masih terdengar meski tidak sekeras tadi sore. Adel yang sudah berganti pakaian santai langsung naik ke kasur empuknya, berusaha menutupi telinganya dengan bantal.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Shani masuk membawa segelas susu hangat, diikuti Gracia, Gita, dan Chika di belakangnya.

"Reva, belum tidur?" tanya Shani lembut sambil duduk di pinggir kasur.

Adel menyembulkan kepalanya dari balik bantal, matanya agak sedikit berkaca-kaca karena suara petir di luar. "Belum, Cici. Takut..."

"Tuh kan, bener dugaan gue. Bocil satu ini pasti lagi gemeteran di balik bantal," celetuk Chika sambil ikutan naik ke kasur Adel tanpa permisi, diikuti Gita yang duduk tenang di ujung tempat tidur.

"Berisik lo, Kak! Gue nggak gemeteran, cuma kaget aja," balas Adel ke Chika, meski tangannya tetap memegang ujung baju Shani dengan erat.

Gita mengacak rambut Adel pelan. "Udah, nggak usah dengerin Chika. Lagian kalau lo takut, bilang aja."

Gracia mendekat, memberikan sebuah boneka beruang besar ke pelukan Adel. "Nih, temennya Reva biar nggak takut lagi. Ci Gre sama yang lain bakal di sini kok nemenin Reva sampai tidur."

Adel memeluk boneka itu, merasa jauh lebih tenang karena seluruh kakaknya berkumpul di kamarnya. "Makasih ya, Cici-cici, Kak Gita, sama Kak Chika."

"Sama-sama, sayang. Sekarang minum dulu susunya, habis itu tidur ya. Reva besok harus sekolah, jangan sampai telat lagi," ujar Shani sambil membantu Adel duduk untuk minum.

"Gue denger lo tadi di sekolah asyik banget ya sama anak-anak JMT? Zee bilang lo udah mulai banyak senyum lagi," tanya Gita membuka obrolan santai sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

Adel mengangguk pelan. "Iya, mereka seru banget hari ini. Olla sama Oniel tadi debat bola sampai teriak-teriak. Terus Indah juga perhatian banget tadi."

"Bagus deh kalau mereka jagain lo dengan bener. Kalau ada yang macem-macem sama lo, bilang gue atau Gita. Biar kita yang urus," sahut Chika dengan gaya sok jagonya, tapi terlihat tulus.

"Halah, Kak Chika gaya banget. Lo aja takut kecoa," ledek Adel yang langsung disambut tawa oleh yang lain.

"Heh! Itu beda urusan ya!" protes Chika tidak terima.

Shani tersenyum melihat keakraban adik-adiknya. Ia mengusap dahi Adel yang mulai tampak mengantuk. "Udah, ayo tidur. Reva tidur di tengah ya, biar diapit sama kita."

Malam itu, meski di luar badai dan petir bersahutan, Adel merasa sangat aman. la tidur dengan sangat nyenyak, dikelilingi oleh keempat kakaknya yang menjaganya dengan penuh cinta. Rasa dingin yang biasanya menyelimuti hatinya kini telah berganti dengan kehangatan yang luar biasa. Tidak ada lagi Della, yang ada hanya Reva, adik kesayangan keluarga Natio.








tbc.

1006 kata.


nih buat yg dm minta s2. jdi stop terror tiktok gw 🔪.



maap kalo ga nyambung, otak gw lgi ga bisa di ajak kerja sama. awas aja ad yg komen ga nyambung, ga bakal up ni cerita. kalian yg minta rilis tanggal 10 April, jadi maap kalo ga nyambung karena mepet.



baca s1 dulu biar ngerti alur, walaupun gw sendiri ga ngerti alurnya 😊.


jangan lupa vote, kalo ga vote ga bakal lanjut.





happy birthday buat kak Alexa, makasih udh req  cerita dan ngasih alur cerita. moga di umur yg sekarang bisa jadi yg lebih baik, rezekinya di lancarkan, dan bahagia selalu. semoga toko kuenya laris terus. amin, intinya happy birthday ya kak. (mampus tambah tua).

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Apr 10 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

Hidup Dengan Rasa Bersalah S2 Des histoires addictives. Découvrez maintenant