Ragi, Rahasia, dan Aroma Pagi

19 1 0
                                        

Aroma manis roti yang baru selesai dipanggang telah memenuhi dapur dan merambat ke seluruh sudut toko. Aroma itu bukan sekadar bau makanan; bagi penghuninya, itu adalah napas kehidupan.

Suara timer oven yang berdenting nyaring bersahutan dengan bunyi gesekan loyang panas yang baru keluar dari pemanggangan, menambah hangat suasana pagi yang masih berselimut embun tipis di luar jendela.

Seorang Gadis—atau lebih tepatnya, seorang perempuan yang tampak dewasa namun tetap anggun—baru saja mengeluarkan loyang kue dari oven dengan gerakan yang sangat hati-hati namun pasti. Wajah cantiknya sedikit ternoda tepung di bagian pipi kiri, sebuah detail kecil yang justru menambah kesan manusiawi pada penampilannya yang rapi. Rambut cokelat tua bergelombang miliknya yang panjang hingga punggung atas ditata dengan gaya half-up bun, menyisakan sebagian helai jatuh menyentuh bahu, memberi kesan hangat sekaligus elegan.

Namanya Anaisabella Wulandari, 27 tahun. Di kota kecil ini, ia dikenal sebagai pemilik toko roti "Senja" yang selalu terasa nyaman bagi siapa pun yang melangkah masuk. Ana adalah tipe wanita yang tidak banyak bicara, namun setiap gerakannya saat mengolesi mentega di atas permukaan roti yang masih panas mencerminkan ketenangan jiwa yang luar biasa.

Di sudut toko, cahaya matahari pagi mulai mengintip masuk, menyinari butiran debu yang menari di udara. Aulia Dita, adik perempuannya yang berusia 22 tahun, sibuk menata roti cokelat di etalase kaca yang berkilau bersih. Rambut hitam Dita yang lurus dan panjang itu diikat sederhana dengan karet rambut kain, memudahkan gerakannya saat menata kue-kue yang masih mengepulkan uap tipis.

"Kak, nanti aku boleh bawa roti juga 'kan?" tanya Dita dengan mata berbinar. Ia menoleh ke arah kakaknya sambil memegang nampan kayu kecil. Dita adalah penggemar nomor satu setiap kreasi yang keluar dari dapur Ana. Bagi Dita, tidak ada toko roti di dunia ini yang sanggup menandingi kelembutan tekstur buatan kakaknya.

"Iya, Dik, tapi selesaikan dulu kerjaannya. Baru deh berangkat ke kampus," jawab Ana sambil terkekeh pelan. Suara tawa hangatnya mengisi toko, merambat di sela-sela rak kayu dan stoples kaca, seperti aroma ragi yang menyebar perlahan ke seluruh ruangan.

Ana memperhatikan adiknya dengan tatapan penuh kasih. Sejak hari itu, hanya Dita yang ia miliki. Toko roti ini adalah warisan sekaligus benteng pertahanan mereka. Sambil menunggu roti gandumnya sedikit mendingin, Ana mengambil lap bersih dan mulai mengelap konter marmer yang tertutup sisa-sisa gula halus.

Jam dinding kayu yang tergantung di atas pintu menunjukkan pukul 08.00. Suara denting jam itu seolah menjadi alarm bagi Dita. Mahasiswi tingkat akhir itu segera membereskan barang-barangnya yang berserakan di meja sudut—buku catatan tebal, botol minum, dan sebuah kamus kecil. Ia memasukkannya ke dalam tas ransel berwarna krem, lalu menghampiri Ana untuk berpamitan.

"Dita berangkat dulu kak, Assalamu'alaikum," panggilnya ceria, sambil menyambar sebuah kantong kertas berisi dua buah roti sosis yang sudah disiapkan Ana sejak tadi. Ia mencium pipi kakaknya kilat, lalu berlari keluar menuju parkiran samping. Tak lama kemudian, suara mesin motor matic miliknya menyala, menderu halus sebelum akhirnya melesat membelah jalanan kota yang mulai ramai.

"Waalaikumsalam, hati-hati, Dik," pekik Ana sambil menatap pintu yang masih berayun pelan. Ia tersenyum tipis, tak yakin apakah suaranya yang lembut itu benar-benar terdengar oleh Dita yang sudah menghilang di tikungan jalan.

Kini, Ana sendirian di dalam toko. Keheningan segera menyergap, hanya menyisakan suara mesin pendingin etalase yang berdengung rendah. Ana menarik napas dalam-dalam, menghirup sisa-sisa aroma kayu manis dan vanila yang tertinggal. Ia kembali bekerja, menyusun roti-roti yang sudah dingin ke dalam rak etalase sesuai jenisnya; mulai dari roti abon yang gurih hingga donat gula yang klasik.

Setelah semuanya tertata rapi, Ana melangkah ke arah pintu depan. Ia membalik tanda di kaca dari tulisan "Tutup" menjadi "Buka". Sesaat, ia berdiri di sana, menatap jalanan di depan tokonya. Di seberang jalan, ia bisa melihat beberapa tetangga mulai keluar rumah. Ia melihat Ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling mulai berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah tokonya.

Ana tahu apa yang mereka bicarakan. Ia tahu sorot mata kasihan sekaligus menghakimi itu. Di usia 27 tahun, kenapa dia masih sendiri? Kenapa dia hanya mengurung diri di toko roti? Apa dia tidak laku?

Pertanyaan-pertanyaan tak kasatmata itu seringkali lebih panas daripada suhu oven di dapurnya. Namun, Ana hanya mengembuskan napas panjang. Ia menarik gorden tipis di jendela sedikit lebih lebar, seolah menantang cahaya matahari untuk masuk lebih banyak.

Ana berjalan menuju meja kasir yang merangkap sebagai meja kerjanya. Di sana, di samping mesin hitung tua, terletak laptopnya yang sudah terbuka. Bagi dunia luar, ia hanyalah tukang roti. Namun di layar itu, ia adalah pencipta dunia. Ana duduk dengan tenang, jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. Ia menulis catatan kecil tentang resep roti baru yang sedang ia eksperimenkan—roti dengan campuran rempah rahasia—sambil sesekali jemarinya berhenti untuk menatap jalanan di luar toko melalui jendela besar, berharap pelanggan pertama hari itu segera datang untuk memecah lamunannya.

Sementara itu, suasana di kampus sangat kontras dengan ketenangan toko roti Ana. Gedung fakultas ekonomi tampak riuh oleh mahasiswa yang berlarian mengejar jam masuk kelas pertama. Dita segera memarkir motornya di bawah pohon rindang dan bergegas menuju kelas yang terletak di lantai dua. Nafasnya sedikit tersengal, namun ia memastikan senyum keramahannya tetap terjaga setiap kali berpapasan dengan teman-temannya. Ia bahkan berlari kecil saat menaiki tangga, memastikan langkahnya tak tertinggal oleh dentang bel kampus.

"Ya ampun, Dita, kukira kau nggak masuk hari ini," kata Nurbella, teman sekelasnya yang dikenal sangat lebay dan paling cerewet di angkatan mereka. Nurbella sudah duduk di bangku tengah, sibuk mengipasi wajahnya dengan buku meskipun ruangan itu sudah ber-AC.

"Maaf-maaf, tadi aku bantuin kak Ana dulu, sekaligus nyicip roti baru. Nggak nyangka bakal telat, apalagi jalanan macet tadi," jawab Dita sedikit ngos-ngosan sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah Nurbella. Ia menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya, masih bisa mencium samar aroma roti yang menempel di pakaiannya sendiri.

"Dasar, jangan terlalu keasikan makan roti buatan kakakmu! Kalau Kak Ana tahu kamu telat gegara itu, bisa-bisa kamu dilarang makan lagi!" omel Nurbella panjang lebar. Suaranya melengking, gaya bicaranya seperti sedang membacakan pidato di acara hajatan besar, penuh penekanan di setiap kata. "Ingat ya, Dit, semester ini dosen-dosen kita itu galaknya minta ampun. Apalagi kudengar bakal ada dosen tamu baru dari luar negeri. Jangan sampai absenmu merah cuma gara-gara urusan karbohidrat!"

Dita hanya tertawa kecil mendengarnya. Ia sudah sangat terbiasa dengan tabiat sahabatnya yang satu itu. Meskipun cerewet, ia tahu Nurbella hanya peduli padanya. Dita membuka tasnya, mengeluarkan buku catatan tebal dan sebuah pulpen gel hitam.

"Tapi rotinya beneran enak, Bella. Kalau kamu coba, kamu juga bakal rela telat sejam demi satu gigitan," goda Dita sambil mengedipkan sebelah mata.

"Hih! Tetap saja! Pendidikan nomor satu, roti tuh nomor dua!" balas Nurbella sambil mengerucutkan bibirnya, meski matanya juga melirik tas Dita, berharap ada sisa roti yang dibawa.

Dita memasuki sesi kuliah dengan senyum ringan yang masih tertinggal di bibirnya. Ia mulai mencatat materi yang dipaparkan dosen di depan kelas dengan tekun. Namun, di balik semua keriuhan kampus, di antara suara gesekan kursi dan penjelasan tentang kurva ekonomi, pikiran Dita tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari kakaknya.

Ia teringat bayangan Ana yang berdiri di balik etalase tadi pagi—sosok yang terlihat begitu tegar namun sebenarnya memendam banyak hal dalam diamnya. Dita tahu kakaknya sering diejek oleh warga sekitar karena statusnya yang masih melajang, namun ia juga tahu betapa berharganya ketenangan yang dimiliki Ana di dalam toko kecil itu. Aroma manis roti hangat yang masih seolah terbayang di ujung hidungnya membuat Dita merasa rindu ingin cepat-cepat pulang, kembali ke pelukan hangat toko roti "Senja" dan melihat kakaknya tersenyum di balik jendela.

Pagi itu baru saja dimulai, namun bagi Dita dan Ana, setiap detiknya adalah adonan yang sedang difermentasi—menunggu waktu yang tepat untuk mengembang dan menunjukkan bentuk aslinya. Namun untuk sekarang, fokusnya hanyalah pada deretan angka di papan tulis, sementara hatinya tetap tertinggal di antara rak roti dan kasih sayang seorang kakak.

Senja Di Toko Roti(tamat)Des histoires addictives. Découvrez maintenant