Aku selalu merasa lebih aman ketika berada di dunia digital. Di sini, aku bisa memilih siapa yang aku temui, kapan aku bicara, dan seberapa banyak orang tahu tentang diriku. Seseorang tak perlu melihat ekspresi wajah ku yang jelek ketika aku menahan malu.
Laman yang canggih ini membuat aku memiliki kendali penuh untuk berekspresi dan menunjukkan apapun tanpa harus repot memerhatikan rasa takutku ketika justru aku khawatir tentang apa yang akan mereka akan respon.
Di dunia nyata, semakin banyak orang-orang tau tentangmu, disitulah mereka dapat menggunakan bagian dirimu sebagai sebuah senjata amoral, permainan licik di ruang yang penuh manipulasi, kamu akan merasa pergerakanmu seperti terbatas, kendali mu jatuh penuh terhadap sesuatu yang tidak pasti, bahkan kamu sendiri tak dapat bersuara atas dasar kebingungan itu, manusia mengambil peluang tersebut untuk membuka penilaian yang kejam, seperti bertumpu hanya pada putih dan hitam, padahal cara kerja warna dan dunia sendiri begitu beragam.
Aku sendiri bukan tipe yang mudah percaya. Tapi bulan lalu, aku bertemu seseorang yang jauh berbeda dari biasanya aku temui, dia mendengarkan celotehan sederhana ku yang kebanyakan dianggap aneh dan membosankan, contohnya seperti teori konspirasi dunia, terkadang itu juga mengarah ke area politikal atau membahas sifat manusia yang sudah ku jumpai namun secara psikologis, ini hanya berakhir jika jaringan internet ku tidak berulah namun itu justru memancing ku untuk mengeluhkan jaringan nirkabel yang tak stabil membuat virtual gameku mengalami crash.
Dia selalu saja dapat topik dari merespon celotehan singkat ku itu, melalui Voice chat di sebuah aplikasi permainan online yang dapat menjelajahi dunia virtual, bersama seluruh penggunanya di dunia, atau bahkan sekedar chat di kotak chat game.
Harus aku akui, Suara lelaki itu cukup lembut setiap kali merespon, menurutku dia tipikal pria yang cenderung menuruni banyak dari sisi ibunya, maksudku bagian feminim, manusia itu dinamis, dimana setiap dari mereka pasti mempunyai dua kutub sifat; feminim dan maskulin. Dia salah satunya lelaki yang memiliki kutub feminim dari ibunya.
Perhatian kecilnya yang mengisi notifikasi di gawai, adapun cara dia mendengar tanpa menghakimi tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya… semuanya terasa sempurna. Seolah-olah dia mengerti semua hal yang aku berusaha untuk tidak tunjukkan dari dunia luar tanpa terasa dilucuti, seolah olah dia tahu caranya membuatku terbuka melalui rasa istimewa.
Aku tau aku harus berhati-hati, tetapi aku kesulitan menolak, aku selalu ingin diterima hingga lengah.
Aku tidak tahu kapan pesonanya yang tadinya terasa sangat berarti berubah menjadi sesuatu yang begitu mengancam.
YOU ARE READING
Echanted
Short StorySetiap orang memiliki lampu sorotnya masing-masing, menyorot panggung tempat mereka bisa bersinar. Amara Scott Kennedy atau singkatnya Amy. memilih diam di sudut, tanpa harus menaklukkan sorak sorai maupun riuh tepukan tangan, ia menjadi pengunjung...
