Pusara ini sudah lebih dari 1000 hari, menjadi peristirahatan terakhir laki-laki yang begitu mencintaiku dan Bunda. Laki-laki yang dulu selalu membangunkanku untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Yang selalu menagih setoran hafalan meski sedang bertugas di medan perang. Laki-laki yang selalu memastikan aku dan bunda dalam keadaan sehat dan baik meski beliau sendiri tak baik-baik saja.
"Raras, meski kamu perempuan, kamu harus kuat. Lihat Bundamu, yang selalu tegar dan setia pada ayah. Menggantikan tugas ayah untuk merawat orang tua ayah selama ayah berdinas di luar kota, luar pulau maupun di luar negeri. Suatu saat nanti, kamu juga akan menjadi seorang istri, seorang ibu, jadi kamu juga harus kuat dan belajar banyak seperti bunda. Sehebat apapun suamimu, sekuat apapun suamimu, pasti membutuhkan pelukan hangat istrinya."
Kalimat-kalimat itu masih terus tertanam di dalam pikiranku. Ayah dan bunda bukanlah orang yang terlahir dari keluarga yang kekurangan. Namun, mereka adalah pasangan hebat yang memilih untuk merintis, bukan mewarisi kekayaan kakek nenekku. Keluarga ayahku masih berdarah biru seperti keluarga Mas Radit. Kakek buyut kami masih satu garis keturunan. Sementara keluarga ibuku adalah pemilik pesantren dimana ayahku dulu menimba ilmu sebagai santri sejak lulus MI hingga sebelum menjadi abdi negara.
"Dek Raras?"
Suara seorang laki-laki terdengar. Aku mendongak. Sosok dengan seragam loreng tegap bediri tak jauh dari pusara ayahku. Ia tesenyum sopan.
"Nengok ayah ya?"
Retoris sebenarnya, tetapi itulah sopan santun dan tata krama. Basa basi tak selamanya basi.
"Kak Noah juga nengokin ayahnya?"
Dia mengangguk sebelum melangkah lebih dekat, memberi hormat pada gundukan tanah itu dan meletakkan seikat bunga segar yang sama jenisnya dengan yang berada di pusara baris sebelah ayah.
Kami, sama-sama kehilangan sosok pahlawan kami. Kami sama-sama pernah menangis pilu di tempat ini. Hanya saja, kami memilih cara yang berbeda dalam melanjutkan hidup. Aku lebih memilih untuk menghindari lingkungan yang aku anggap telah merenggut ayahku, sementara Kak Noah memilih untuk melanjutkan mimpi ayahnya. Kini, dia sudah bertugas di batalyon tempat dulu ayah kami berdinas.
Bukan jalur nepotisme, tetapi jalur kegigihan dan kecintaannya pada Bumi Pertiwi.
"Bude Ami sehat kan, Kak?"
"Iya, alhamdulillah Mama sehat. Kapan-kapan, mampirlah. Mama sama Nola ada kok di rumah."
Obrolan itu mengalir begitu saja, berlanjut hingga kami sama-sama meninggalkan area taman makam pahlawan menuju ke tempat parkir yang isinya hanya kendaraan kami berdua. Motor trailnya terlihat sangat tinggi dan gagah dibanding dengan motor matic mungilku.
"Ditunggu undangannya."
"Undangan apa?" Aku terkekeh sembari memakai helmku.
"Undangan halal bi halal. Udah kelewat syawanya." Dia tertawa. "Undangan nikahanmu lah."
"Siapa juga yang mau nikah. Kak? Aku masih terlalu polos untuk membahas itu ya. Aku masih anak kicik."
Kami tertawa.
"Iya sih kalau itu. Kamu nggak nambah tinggi sejak SMP."
"Heh, pelanggaran. Astagfirullah, awas ya aku laporin Bude kalau kamu nakalin aku."
"Bercandaaaaaa Rasendriya. Candaaa. Tapi serius, aku tunggu ya undangannya."
Aku tersenyum. "Nggak ada undangan, Kak. Aku juga serius. Aku mau fokus kerja, belum mikirin nikah. Aku jomblo kok, belum ada calon."
Dia mengurungkan diri untuk menyetater motornya. "Serius? Bukannya kamu sama... Sepupu jauhmu itu sudah.... Tunangan?"
"Orang nikah aja bisa cerai, yang belum jadi nikah juga bisa batal kan? Kami masih terlalu muda untuk itu, so, kami memilih jalan untuk sendiri-sendiri."
YOU ARE READING
Untie The Knot
Romance"Lepaskan saja, kita sudahi di sini. Kita bukan boneka." --- Raden Raditya Daneswara Hadi Kusumo. "Mas, ini namanya patuh, takdim, pada orangtua. Dan sebagai seorang anak, kita wajib patuh pada orang tua kita." --- Rasendriya Larasati Ayuningtyas.
