1. MALAM DI BAWAH LANGIT YANG TERBELAH

12 1 0
                                        

Hujan turun deras malam itu.
Bukan hujan biasa—melainkan hujan yang menghapus segalanya.

Cinta, kepercayaan, dan sepuluh tahun yang kuhabiskan untuk seorang pria yang pada akhirnya… memilih membunuhku.
Aku masih ingat bagaimana aku berlutut di halaman istana.

Pakaian permaisuri yang dulu kubanggakan kini basah oleh hujan dan darah.
Dan di atas sana—pria yang kusebut suami, yang kucintai lebih dari hidupku sendiri—bahkan tidak menatapku saat menjatuhkan vonis.

“Racun.”

Satu kata itu mengakhiri segalanya.
Namun bukan racunnya yang paling menyakitkan.
Melainkan kenyataan bahwa aku mati… tanpa pernah benar-benar melawan.

---------------**--------------**---------------**------------------

Di tengah halaman batu giok, Shen Yuexin berlutut, tubuhnya tegak.
Meski pakaiannya telah basah dan rambutnya terurai, ia tetap tampak seperti lukisan yang tidak boleh ternoda.
Kecantikan nomor satu Dinasti Lianhua.
Wanita yang pernah membuat seluruh negeri berbisik kagum.

Namun kini—
semua mata memandangnya sebagai terdakwa.

Di atas tangga tinggi, di bawah kanopi emas, duduk Kaisar Zhao Heng.
Di kanan kirinya berdiri para tokoh penting,
Perdana Menteri Lin Guozhong,
Guru Agung Kekaisaran Han Xuande, Penasehat Kekaisaran Wei Shuren, Kepala Biro Astronomi Luo Tianji.

Para jenderal dan menteri lainnya
Di bawah tangga, barisan penjaga istana berdiri. Di sisi lain, para kasim dan pelayan
Kasim Kepala: Gao Ren dan Pelayan pribadi Yuexin, Qing'er — gemetar, menangis diam-diam.

Kasim Gao Ren melangkah maju, suaranya tajam menembus hujan:

“Permaisuri Shen Yuexin!”
“Anda dituduh mencampurkan racun ke dalam teh Selir Lin hingga menyebabkan keguguran pewaris kekaisaran!”
“Apakah anda mengakuinya?”

Hening.

Hanya suara hujan yg terdengar

Yuexin mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya merah—
namun tidak liar.
Tidak kacau.
Hanya… terluka.

“Yang Mulia…”
Suaranya lembut, seperti angin yang hampir hilang.
“Hamba tidak pernah menyentuh teh itu.”
Tatapannya beralih.
Ke arah Lin Xueyao.
Selir itu berdiri anggun.
Wajahnya pucat, seolah baru saja melewati kematian.
Tangannya melindungi perutnya.
Namun matanya—
tajam.
Sadar.
Menang.

“Yang Mulia…” suara Xueyao bergetar seperti benang halus, “anak ini… adalah harapan negeri…”
Air matanya jatuh.
Sempurna.
“Namun Permaisuri… tidak menginginkannya…"

Yuexin menggeleng.
“Tidak… aku tidak—”

Perdana Menteri Lin Guozhong melangkah maju.
Jubahnya berat, suaranya tenang seperti sumur dalam.
“Yang Mulia.”
“Bukti telah jelas.”
“Racun ditemukan dalam dapur Istana Phoenix.”
Ia berhenti sejenak.
Menatap Yuexin.
“Dan hanya Permaisuri… yang memiliki wewenang penuh atas dapur tersebut.”
Kalimat itu sederhana.
Namun beratnya—
seperti vonis yang sudah diputuskan sebelum malam ini dimulai.

Luo Tianji, kepala Biro Astronomi, melangkah perlahan.
“Yang Mulia…”
“Sebelum kejadian ini, langit menunjukkan pertanda.”

Semua mata beralih.

“Bintang Permaisuri… meredup.”
“Dan bintang baru… mencoba menggantikannya.”

Hening........

Itu bukan sekadar laporan.
Itu adalah legitimasi.
Bahwa apa yang terjadi malam ini—
adalah “kehendak langit”.

Han Xuande, Guru Agung, membuka matanya perlahan.
“Dalam kitab lama tertulis…”
‘Jika bunga lama layu, bunga baru akan menggantikan musim.’
Ia menatap Yuexin.
Dalam.
Tanpa emosi.
“Namun… apakah bunga itu layu karena waktu… atau karena dipetik?”
Kalimat itu menggantung.
Tidak memihak.
Namun juga…
tidak menyelamatkan.

Akhirnya—

Zhao Heng berbicara.
“Shen Yuexin.”
Suaranya rendah.
Tenang.
Berbahaya.
“Sepuluh tahun kamu di sisiku.”
“Namun malam ini… kamu berdiri di hadapanku sebagai terdakwa.”

Yuexin menatapnya.
Hujan mengalir di wajahnya.
“…Yang Mulia.”
Ia tersenyum.
Patah.
“Sepuluh tahun… cukup untuk mengenal seseorang, bukan?”

Zhao Heng tidak menjawab

Yuexin berkata pelan:
“Dulu saya pikir… istana ini adalah taman.”
“Ternyata… hanya hutan yang penuh binatang buas.”

Perdana Menteri Lin tersenyum tipis.
Zhao Heng tetap diam.

Yuexin melanjutkan:
“Dan saya… hanyalah bunga yang tidak tahu kapan harus berduri.”

“Cukup.”
Zhao Heng berdiri.
Semua langsung berlutut.
“Permaisuri Shen… terbukti bersalah.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu.
Tanpa ruang untuk bantahan.
Tanpa ruang untuk kebenaran.
“Demi ketertiban istana… hukuman dijatuhkan.”

Ia berhenti.
Hanya sekejap.
“…Racun.”

Cangkir diserahkan.
Tangan Yuexin gemetar.
Namun matanya—
tenang.
Ia menatap Zhao Heng.
Lama.
“Yang Mulia…”
“Apakah… Anda pernah menyesal memilih jalan ini?”

Hening.........

Untuk pertama kalinya—
Zhao Heng tidak langsung menjawab.

Lotus Beracun yang Bangkit dari KematianStories to obsess over. Discover now