1

3 0 0
                                        

(Suasana ruang rapat mewah dengan meja kayu panjang. Para eksekutif berpakaian rapi mulai beranjak dengan ekspresi tegang. Sella berdiri di ujung meja, menatap layar proyektor dengan dingin. Seorang pria paruh baya, Marcus, mendekatinya dengan hati-hati.)

Marcus: “Ibu Sella, aku rasa kesepakatan dengan konsorsium Eropa tadi berjalan cukup… lancar.”

(Sella menoleh perlahan, matanya menyipit.)

Sella: “Cukup lancar? Mereka mencoba menawar dua puluh persen di bawah harga pasar, Marcus. Dan kau membiarkan mereka berbicara selama tiga puluh menit tanpa memotong.”

Marcus: “Maaf, Bu. Tapi kupikir kita perlu menunjukkan itikad baik—”

Sella: “Itikad baik?” (Ia mendekat, tinggi badannya yang 190 cm benar-benar mendominasi. Bayangan tubuhnya menutupi Marcus.) “Ini bisnis, Marcus. Bukan amal. Kalau lain kali mereka masih berani main-main, katakan pada mereka bahwa gudang distribusi mereka di Rotterdam bisa ‘bermasalah’ dalam semalam. Kau paham?”

Marcus: (Menelan ludah) “Paham, Bu.”

Sella: “Sekarang keluar. Aku ada pekerjaan lain.”

(Semua orang buru-buru meninggalkan ruangan. Sella berjalan ke mejanya yang besar, duduk di kursi eksekutif. Tumpukan dokumen setinggi hampir setengah meter menanti. Ia menghela napas kasar, membuka berkas pertama, lalu mulai menandatangani dengan gerakan cepat dan tajam. Empat jam berlalu. Tak ada seorang pun berani masuk. Akhirnya, jam menunjukkan pukul 21.00 malam. Sella melempar pulpen, merenggangkan lehernya yang tegang.)

Sella: (Berbicara pada diri sendiri dengan suara parau) “Sial. Otakku perlu udara.”

---

(Sella melaju dengan mobil hitamnya yang sporty di jalanan kota yang masih ramai. Setelah berkeliling tanpa tujuan, matanya menangkap sebuah cafe kecil dengan lampu hangat di sudut jalan. Tempat itu terlihat sederhana, bukan tempat biasanya ia singgahi. Ia memarkir mobil, masuk, dan bel pintu kecil berbunyi ‘ding’. Beberapa pengunjung menoleh sekilas, lalu kembali pada aktivitas mereka.)

Pelayan Wanita (Mira): “Selamat malam. Silakan duduk, Bu. Mau pesan?”

Sella: (Melirik ruangan, mencari tempat duduk. Matanya tajam memindai setiap sudut.) “Di dekat jendela. Kopi hitam. Tanpa gula.”

Mira: “Baik, Bu. Segera kami antar.”

(Sella berjalan menuju kursi di pojok, melepas jas blazernya, dan duduk dengan posisi menyamping sehingga ia bisa melihat seluruh ruangan. Ia meletakkan tangannya di meja, jari-jarinya yang panjang dan kekar mengetuk permukaan kayu perlahan. Suasana cafe cukup ramai. Ada pasangan muda yang tertawa, beberapa pekerja kantoran dengan laptop, dan… ia mulai mengamati para pelayan yang bolak-balik.)

(Tiba-tiba, tatapannya berhenti. Membeku.)

(Sella melihat seorang pelayan laki-laki sedang membersihkan meja di seberang ruangan. Laki-laki itu… imut. Kata itu langsung muncul di kepalanya. Wajahnya bersih, putih, dengan sedikit lekuk pipi yang membuatnya tampak seperti porselen. Tubuhnya ramping, kecil, bahkan jika dibandingkan dengan para pelayan perempuan di sana. Gerakannya lembut saat menyeka meja, dan saat ia tersenyum pada pelanggan, senyum itu… polos. Begitu polos.)

(Sella tidak berkedip. Matanya mengikuti gerak-gerik laki-laki itu seperti predator yang baru menemukan mangsa paling menarik dalam hidupnya. Ia mengamati bentuk lehernya yang ramping, pergelangan tangannya yang kecil, hingga cara rambutnya jatuh menutupi sedikit dahinya.)

Sella: (Hampir berbisik, matanya melebar dengan sesuatu yang baru—ketertarikan yang aneh, liar) “Apa… ini?”

---

Sella's obsessionWhere stories live. Discover now