Di sebuah desa kecil dalam wilayah kerajaan, Huang Renjun tumbuh sebagai anak yang berbeda. Sejak kecil, ia kerap dipuji karena sepasang matanya yang tak biasa-begitu indah, hingga sulit untuk tidak terpaku padanya. Namun, di balik pujian itu, tersi...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
• • •
Di sebuah desa kecil, tersembunyi di antara lekuk lembut perbukitan wilayah kerajaan, seorang anak lelaki berusia enam tahun tengah bermain bersama kawan-kawan sebayanya. Tawa mereka mengalun riang, mengisi udara sore yang hangat dengan kepolosan masa kecil.
Namanya Huang Renjun. Sejak dilahirkan, ia telah membawa tanda keindahan yang tak lazim-sepasang mata dengan warna yang sulit dijelaskan oleh kata. Mata kirinya, bewarna aqua cerah, yang merupakan campuran hijau dengan semburat biru lautan, Sedangkan mata kanannya tetap; coklat amber yang dalam, seperti menyimpan riak cahaya senja yang abadi.
Keunikan itu menjadikannya satu-satunya anak di seluruh kerajaan dengan spektrum warna mata seperti itu. Orang-orang dewasa memuji keindahannya, menyamakannya dengan batu permata yang hidup. Namun, tak ada yang benar-benar menyadari bahwa pujian-pujian itu menyimpan bahaya tersembunyi.
Karena siapa pun yang menatap matanya terlalu lama, terlalu dalam, akan terpana-hingga lupa pada dunia di sekelilingnya. Beberapa kehilangan keseimbangan, beberapa tersandung oleh bayangannya sendiri. Bahkan hari itu, tanpa sengaja, seorang teman kecilnya terluka. Hanya karena menatap mata Renjun terlalu lama.
Orang-orang memang kerap memuji mata Renjun. Mereka menyamakan warnanya dengan batu mulia, dengan langit sebelum hujan, dengan danau yang tenang. Tapi tak sedikit pula yang, dalam diam, menyimpan kegelisahan.
Bisik-bisik itu tak pernah terdengar oleh telinga anak kecil-namun hari itu, Renjun mengintip dan menguping dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka. Suara-suara lirih itu menghujam lebih tajam dari teriakan.
"Mata itu... terlalu berbahaya."
"Anak-anak bisa celaka kalau terus-terusan menatapnya."
"Harusnya ditutup saja... demi kebaikan semua orang."
Renjun mendengar semuanya. Dan hatinya, yang masih begitu muda dan belum mengerti banyak hal, mulai merasakan luka pertama dalam hidupnya. Ia duduk diam di ambang pintu kamar, memeluk lututnya sendiri, bertanya dalam hati kecilnya, Apakah ini anugerah... atau kutukan?
Jika matanya memang seindah itu, mengapa orang menyebutnya bahaya? Jika matanya bisa membuat orang lain celaka, apakah itu berarti ia sendiri juga berbahaya?
Orang itu pergi tak lama kemudian. Hening menyelimuti rumah, hanya langkah kecil Renjun yang berbalik perlahan ke kamarnya sendiri. Ia tak menangis, tak bersuara-tapi ada kosong yang tertinggal di balik sorot matanya.
Tak lama kemudian, ibunya datang. Membawa sehelai kain panjang berwarna hitam, melipatnya rapi di tangannya. Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, menatap putranya dalam diam. Tak ada paksaan, hanya suara lembut yang meminta izin.
"Bolehkah... mata itu ditutup, sayang?"
Ia tak menjelaskan kenapa. Tidak berkata soal tetangga, soal bahaya, soal luka. Tapi Renjun tahu. Di usia enam tahun yang mestinya dipenuhi hal-hal ringan, ia terlalu cepat mengerti beban dari menjadi berbeda.
Dan pada akhirnya, ia hanya mengangguk. Perlahan. Membiarkan dunia menjadi sedikit lebih gelap... demi membuat orang lain merasa aman.