Di kaki Gunung itu, terdapat sebuah desa kecil yang tenang, namun diselimuti kearifan lokal yang kaku. Penduduk desa selalu berpesan pada anak-anak mereka: "Boleh mencari kayu ke mana saja, kecuali ke Hutan Larangan di balik bukit itu. Jika kalian pergi ke hutan terlarang itu, maka kalian tidak akan pernah kembali, atau kembali dalam keadaan yang berbeda." Hutan itu digolongkan bukan berdasarkan vegetasi, melainkan nilai sakral dan angkernya yang diyakini secara turun-temurun.
Namun, bagi empat sekawan—Lyura, Alletha, Raden, dan Dirgantara—rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Lyura adalah gadis yang keras kepala, selalu ingin membuktikan bahwa mitos hanyalah bualan. Alletha, sahabatnya yang lembut, awalnya menolak tetapi tidak tega membiarkan Lyura pergi sendiri. Raden, si pemberani yang membawa golok tua milik ayahnya, merasa bertanggung jawab menjaga mereka. Sementara Dirgantara, sosok yang tenang namun sinis, ikut hanya untuk memastikan tidak ada kejadian konyol yang terjadi.
"Kalian dengar sendiri kan? Orang tua bilang itu hutan terlarang," kata Alletha pelan, saat mereka berdiri di batas hutan yang pohon-pohonnya tampak lebih gelap dan tua."Ah, itu cuma trik supaya kita tidak mengambil kayu jati di dalam," jawab Lyura meremehkan, melangkah melewati batas kayu tua yang berlumut.
Raden mendengus, mengarahkan jalannya. "Kalau ada apa-apa, tetap di dekatku."Mereka masuk lebih dalam. Suasana berubah instan. Hutan biasa di kaki gunung terasa hangat, namun hutan ini dingin dan sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada derap kaki tupai. Hanya suara langkah kaki mereka sendiri di atas daun kering. Udara terasa berat dan berkabut, membuat pandangan terbatas.
Saat sore mendekat, mereka sadar—mereka tidak tahu jalan pulang. Pohon beringin besar yang tadi mereka jadikan patokan kini seolah berpindah tempat."Raden, kita berputar-putar," kata Dirgantara, suaranya terdengar cemas.Panik mulai menyerang. Alletha mulai menangis pelan. Lyura, yang awalnya yakin, mulai pucat. Tiba-tiba, dari arah kabut tebal, muncul sosok bayangan tinggi kurus dengan mata yang menyala kebiruan. Ia tidak berjalan, melainkan melayang di antara pohon-pohon besar."Mitos... benar-benar mitos," bisik Lyura gemetar.
Sosok itu bersuara, bukan dengan mulut, melainkan langsung di dalam kepala mereka. "Siapa yang melanggar janji... akan membayar dengan nyawa."Raden berusaha mengayunkan goloknya, namun tubuhnya kaku, tidak bisa digerakkan, seolah tertahan oleh sihir gelap yang mengikat mereka. Alletha berteriak, sementara Dirgantara berusaha merapal doa yang ia ingat.
Sosok itu mendekat. Kabut semakin tebal. Tiba-tiba, pandangan mereka menjadi gelap.
Keesokan harinya, penduduk desa menemukan empat sekawan itu tergeletak di pinggir hutan terlarang. Mereka selamat, tapi mereka "kembali dalam keadaan yang berbeda".
Lyura kehilangan suaranya, tidak pernah berbicara lagi. Alletha selalu ketakutan setiap melihat daun berwarna gelap. Raden kehilangan keberaniannya, menjadi pemuda yang sangat penakut. Dan Dirgantara? Ia sering menatap ke arah hutan dengan tatapan kosong, seolah jiwanya masih tertinggal di dalam hutan terlarang tersebut.Desa itu kembali hening, dan peringatan itu kini menjadi kenyataan yang mengerikan bagi siapa saja yang berani mengujinya.
Pesan Moral:
Hutan larangan bukan sekadar mitos, melainkan cara leluhur melindungi keseimbangan alam dan menghormati sakralitas tempat tertentu. Rasa penasaran yang tidak bertanggung jawab dapat membawa malapetaka bagi diri sendiri dan persahabatan
ikuti akun ini @solarrwifee dan @asya_boyvers
dan follow akun instagram ku @ aisyahh_dhira1 dan @ solarr_wifee
DU LIEST GERADE
Jangan Pergi Hutan Terlarang Itu
Mystery / ThrillerHutan itu bukan hutan biasa. Di balik pepohonan raksasa yang rimbun dan suasana yang mencekam, tersimpan kabut abadi yang menelan siapa saja yang berani mendekat saat magrib menjelang. Konon, hutan tersebut adalah kediaman orang bunian, makhluk tak...
