Warning bukan kapal!🔞 Semuanya hanya fiksi!🔞Dibawah umur keluar!🔞
Mencari tempat tinggal murah di perantauan seharusnya menjadi awal yang tenang bagi mereka bertiga. Namun, kos-kosan besar di Bandung itu menyimpan atmosfer yang tidak biasa. Di ba...
"Udah gua bilang, mending tadi kita naik travel aja kalo tau mobil lu dari jam tiga sore udah mulai gabisa dinyalain tai." suara Azka memecah keheningan malam yang baru dimulai. Ia masuk sembari membanting pintu depan mobil Aldo dengan kencang.
Aldo yang duduk di kursi kemudi cuma bisa menghela napas pendek. "Yaudah abis gimana... abisnya gua tuh mikir kalo pake travel, nanti disana mau kemana-mana bingung Az."
"Udeh ah, malah pada gelut, buru jalan deh. Takutnya nanti begitu ampe sono gerbang kosannya udah dikunci, gimana kita jir, tidur di masjid?" jawab Varez yang duduk di belakang lagi senderan di kursinya sambil ngeliatin keluar kaca jendela.
"Hhh... yaudah-yaudah, gas Do jalan. Biar gmapsnya gua yang atur. Tenang, gua udah berpengalaman dari kecil ngapalin map GTA." balas Azka.
Aldo menghela napas lalu mengangguk kecil, kemudian ia menyalakan mobilnya. Begitu mobil itu menyala, ia perlahan mengeluarkan mobilnya dari parkiran, menuju kos-kosan yang sudah dipesan di Bandung oleh Varez.
.
.
.
Pukul 23.30 WIB.
Mobil Aldo akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pagar besi hitam besar, yang menjulang tinggi seperti benteng di malam yang sunyi. Suasana jalanan Bandung sudah sangat sepi, udara dingin yang menusuk mulai menyusup masuk lewat celah-celah jendela, membuat Aldo dan Varez di dalam mobil merinding kecil.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aldo mematikan mesin mobil, membiarkan suasana senyap menguasai. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak, melepas lelah setelah kurang lebih empat jam menyetir.
"Hhh... sampe," gumamnya datar.
Azka hanya tersenyum tanpa dosa, menyugar rambutnya yang sedikit acak-acakan di spion tengah. "Harusnya tiga jam, cuma telat sejam dari estimasi gara-gara nyasar, aman lah ya. Btw gara-gara nyasar tadi, jadi seru ya kita nyari kosnya. Opening merantau yang sangat berkesan gelo."
Di kursi belakang, Varez melepas bantal lehernya dan melirik ke luar jendela, menatap ke arah gerbang besar yang udah digembok tersebut. "Pala lo seru jing, ini kita kemaleman banget sampenya gila. Sekarang masalahnya... siapa yang mau manggil bapak kosnya jam segini? Apa kaga diamuk kita."
"Tapi Rez..." ujar Azka, matanya membelalak menatap pagar besar itu. "Ini... ini beneran kosannya kah? Lu ngga salah alamat?"
Varez mengangguk pelan. "Iya kok, bener. Ini alamatnya udah sesuai sama yang ada di gmaps."
"Fak gua baru sadar lagi..." gumam Azka mengusap wajahnya lalu menoleh ke belakang. "Gua kira lu nyari kosannya tuh yang tipe minimalis. Yang kaya pintu berjejer terus dikasih nomor per-pintu. Taunya gede banget kaya gini."
Aldo yang sedari tadi matanya terpejam pun, kini ikut melongok ke luar jendela, keningnya berkerut. "Iya lagi, Rez. Ini gede banget gila... ini beneran alamatnya kan? Lu ngga salah masukin alamatnya di gmaps kan?"