1

17 3 0
                                        

Keheningan adalah hal pertama yang menyapa kesadaran mereka. Bukan jenis hening yang menenangkan, melainkan kesunyian statis yang seolah menelan suara apa pun yang mencoba keluar. Ashell membuka mata, merasakan sisa mual yang mengocok perutnya. Di sekelilingnya, tujuh orang lainnya mulai terjaga dengan napas memburu.
Pemandangan di depan mereka benar-benar kacau secara logika. Deretan rumah berdiri utuh, tanpa retakan, namun tak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Langit di atas sana sewarna abu-abu timah, pekat oleh aroma lembap yang asing—bau spora yang menyesakkan paru-paru.

Terlihat dua sosok pria turun dari lereng bebatuan besar di perbatasan desa. Bukan medan yang mudah ditakluki, namun dua pria itu tampak menikmati langkahnya. Mereka mengenakan atribut tempur lengkap, memanggul senjata laras panjang seolah benda itu adalah bagian dari anatomi tubuh mereka sendiri. Salah satu dari mereka melihat ke arah kerumunan kecil itu, lalu berteriak.

"Woy! Bocah ngapain kalian ada di sini? Ini bukan taman bermain anak-anak."
"Bocah? Taman bermain? Maksud lo a—" Salah satu dari rombongan itu mencoba berdiri untuk memprotes, namun kalimatnya langsung tersangkut di tenggorokan.

Pria bersenjata itu mendekat. Saat dia berdiri tegak di depan mereka, sebuah kenyataan pahit menghantam logika Ashell. Pria itu tampak seperti raksasa. Ashell harus mendongak jauh hanya untuk menatap rompi taktisnya yang penuh noda tanah.

"Gila... gede banget," gumam seseorang di sebelah Ashell.
"Lo semua terlalu berisik," suara pria itu berat dan lantang.
"Nama gue Zeno. Lagian kenapa anak-anak seperti kalian main sampai sejauh ini?"

Detik itu juga, Ashell menyadari sesuatu yang mustahil. Dia melihat ke bawah, menatap kedua tangannya yang mungil dengan jari-jari pendek yang kotor. Mereka semua menyusut. Mahasiswi yang seharusnya sedang berkutat dengan tugas akhir itu kini hanya setinggi pinggang tentara di depannya.

"Fork, apa yang harus kita lakukan dengan anak-ank ini?" tanya Zeno pada rekannya.

Pemuda yang dipanggil Fork itu hanya menyeringai slengean. Wajahnya tampak santai, seolah-olah situasi genting di sekitar mereka hanyalah permainan sore.

"Mungkin mereka hanya warga sini yang ketinggalan, Zen. Jangan gegabah, kita masih dalam misi," jawabnya sambil cengengesan tipis.
"Hari sudah mulai gelap, gue pikir bahaya kalau meninggalkan mereka di sini," tukas Zeno dengan nada final.
"Lalu, apa saranmu untuk ini?" tanya Fork mulai menanggapi dengan serius.
"Membawa mereka ke markas."

Fork berpikir sejenak sampai akhirnya hanya mengangguk patuh, lalu mengisyaratkan anak-anak itu untuk mengikutinya.

"Jangan berisik, kalau kalian masih mau hidup," katanya sambil cengengesan tipis.

Fork berjalan di depan, anak-anak kecil itu mengikutinya dari belakang. Zeno mengawasi dari belakang sambil berjaga-jaga di sekitar. Mereka berjalan sekitar 10 menit untuk menuju di mana mobil mereka terparkir. Ashell merasa ada yang tidak beres dengan suasana di desa ini. Tujuh orang lainnya pun merasakan hal yang sama, namun mereka tak dapat berbuat banyak. Mengetahui diri mereka menyusut pun tidak dapat mereka mengerti sekuat apapun mereka berpikir. Untuk saat ini mematuhi dua pria raksasa ini adalah pilihan paling logis.

Akhirnya mereka sampai di tempat mobil itu terparkir. Pintu mobil digeser, Fork mengisyaratkan mereka untuk naik mobil mereka. Perjalanan dimulai, meninggalkan desa mati itu menuju jalur menanjak yang terjal. Mesin kendaraan menderu keras saat mereka mulai mendaki lereng pegunungan yang diselimuti kabut abadi.

Setelah perjalanan panjang menembus hutan pinus yang membeku, mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan kayu seperti villa, jauh di puncak ketinggian. Di ambang pintu markas, dua sosok sudah menunggu. Seorang pria berdiri dengan sikap tubuh yang sangat tegak lurus, wajahnya kaku seperti dipahat dari batu. Itulah Enjin. Tatapannya dingin saat menghitung jumlah kepala satu per satu yang turun dari mobil.

Tanpa sepatah kata pun, Enjin pergi masuk ke dalam villa. Diikuti seorang wanita anggun dengan rambut panjangnya yang diikat. Warna rambutnya kuning dipadukan highlight kehitaman. Itulah Claire. Namun, saat delapan anak itu melangkah masuk, Claire merogoh saku taktisnya. Dengan gerakan telaten yang sangat kontras dengan raut wajahnya yang galak, dia memberikan biskuit jatah militer kepada anak yang paling kecil. Dia membetulkan kerah baju anak itu agar tidak kedinginan, meski tatapannya tetap tajam. Orang ini baik, batin Ashell.

Malam mulai jatuh di puncak gunung yang asing. Delapan orang dewasa yang terjebak dalam tubuh bocah itu hanya bisa terdiam di pojok ruangan. Ashell memakan biskuit yang diberikan Claire, sambil menyadari bahwa perjalanan panjang untuk pulang baru saja dimulai. Apakah tujuh orang lainnya memiliki pikiran sama dengannya? Mungkin saja tidak. Tak ada yang tahu, isi hati manusia tak bisa dibaca bagaimana pun caranya. Fokus pada diri sendiri adalah jawaban paling tepat untuk saat ini. Fork menutup pintu villa dengan seksama, Zeno mengambil posisi duduk pada sofa yang tersedia di ruang utama.

"Zeno, kemarilah," tukas Enjin tanpa melirik ke arah Zeno.
"Baik, Capt," sahut Zeno dengan air muka pasti.

Mereka berdua hendak masuk ke dalam ruang kerja Enjin. Baru saja Enjin menyentuh gagang pintu, terdengar suara ketukan dari luar villa. Seseorang bertamu ke markas mereka. Claire, Fork, dan Zeno melirik ke arah sumber suara, namun Enjin hanya terdiam. Fork yang dekat dengan pintu berjalan perlahan sambil memegang senjatanya lalu bersiap membuka pintu. Ia membuka pintu setengahnya saja.

"Ah anu.. permisi.. sepertinya saya tadi melihat ada anak-anak dibawa kemari."

Ashell menahan napas. Matanya menatap punggung Fork yang kaku, tangannya mencengkeram erat senjata laras panjang. Dia tahu, ketukan pintu itu bukan pertanda baik. Di dunia yang asing ini, kebaikan yang terlalu sopan sering kali menjadi bungkus dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan

"Ada apa Fork?" suara Enjin terdengar dingin dari dekat.
"Ada yang bertamu, Capt, apa kau mengizinkannya masuk?"

Zeno menggigit lidahnya dengan perlahan, nampaknya ia sedikit merasakan kejanggalan. Claire bersiap merogoh saku pistol kalibernya. Insting keduanya telah matang dalam situasi seperti ini. Dalam pelatihan mereka di sebuah areal cagar alam yang dihuni makhluk buas, kadang mereka tak menemukan ancaman nyata itu seolah-olah hewan buas pun tahu bahwa ancaman mereka adalah para prajurit taktis itu sendiri. Fork tetap bergeming di depan pintu, tak menjawab pertanyaan orang asing di depannya.

Enjin membalikkan badan lalu melangkah ke arah Fork. Tanpa pikir panjang, Fork mundur beberapa langkah. Claire masuk ke dalam mode tenang, Zeno juga mulai menenangkan dirinya. Ashell, anak paling kecil itu. Dia merasakan ketakutan, instingnya mengatakan dia dalam bahaya. Ashell dan anak-anak lainnya hanya diam mematung. Udara dingin mengisi ruang perlahan, kabut-kabut tipis tersapu angin dari luar. Enjin sedikit membuka lebih lebar lagi pintu utama. Terlihat sosok pria paruh baya dengan pakaian bersih dan rapi, tak terlalu mencolok namun cukup modis selaras dengan yang anak-anak itu pakai.

"Mungkin memang dia kerabat anak-anak ini," Fork berujar dalam keheningan.

Zeno dan Claire mengangguk setuju. Enjin masih bergeming menatap pria yang ada di depannya. Pria itu terlihat cukup tenang tak refleks berlebih, air mukanya tenang namun seperti terlalu siap untuk dikatakan tenang. Enjin melirik ke arah anak-anak, tatapannya bertemu mata Ashell lalu segera memalingkan ke arah pria itu.

"Namaku, Miguel," ucap pria paruh baya itu.
Enjin mengangkat tangannya untuk bersalaman, "Enjin."
"Ah, Tuan Enjin," Miguel menjabat tangan Enjin. "Mohon maaf, tapi aku ke sini untuk membawa anak-anak ini pulang, orang tua mereka mencarinya."
"Oh, begitu. Boleh saja, tapi mereka baru tiba. Mereka kelaparan nampaknya kami juga sudah membuatkan makanan, dan sepertinya kebanyakan jadi kami berniat membagi dengan anak-anak ini. Apa, Pak Miguel tidak keberatan menunggu? ujar Enjin sembari tersenyum ramah ke Miguel.

Miguel seperti berpikir sejenak. Dia bergeming air mukanya stabil tak ada refleks berlebih. Enjin pun tak berniat untuk menarik perhatiannya. Suara burung gagak terdengar memekik, memecah keheningan antara percakapan dingin mereka. Fork tersenyum tipis, nampak mengerti maksud dari kaptennya. Claire menyalakan rokoknya di tengah-tengah kondisi genting seperti ini. Zeno mulai beranjak ke dari duduknya berjalan menuju dapur.

To be continued ...

CATASTROPHICSWhere stories live. Discover now