Janu El, diminta oleh ayahnya untuk mengumpulkan pengguna Charm, yang mulai diincar oleh para Otoritas.
Yang sulit dari hal ini adalah fakta bahwa Sekolah Menengah dari orang-orang yang ingin ditemuinya saling bermusuhan.
SMA Sutawijaya yang masih b...
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
"Berapa orang?"
"Sutawijaya 6 orang, Sanjaya 6 orang termasuk lo, Respati 4 orang."
"Males gue kalo sama Respati."
"Nggak punya temen disana? Biasanya lo banyak temen."
"Pah, anak lo tuh bukan berarti udah berbaur ke sana-sini karena gampang ngobrol sama orang, gue juga punya orang yang pingin dihindarin."
"Respati kenapa emangnya?"
"Sering tawuran sama Sanjaya."
"Karena apa?"
"Ekskul voli."
"Norak."
Lemparan bolpoin yang digunakan oleh Harraz Wajendra, sampai di wajah sang anak dengan apik, dan membuatnya mendengus kesal hingga memberi tatapan tajam pada papanya itu. Tawuran hanya karena voli? Harraz tidak habis pikir dengan anaknya.
Janu El Wilshere, anak tunggal dari Harraz Wajendra, yang merupakan Direktur dari Akademi berkemampuan bernama Jose Carlo, tempat untuk menampung individu yang telah membangkitkan Charm.
Charm sendiri merupakan kekuatan yang bangkit dari dalam tubuh manusia, yang dipicu oleh kepekaan sang individu akan keberadaannya sendiri, yang ditandai dengan meningkatnya 5 panca indra yang ada di tubuh mereka.
Penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba mereka, berfungsi lebih dari biasanya, kemungkinan besar akan disusul dengan terbukanya indra keenam kemudian kemampuan khusus yang bisa saja cukup langka.
Sebisa mungkin orang-orang seperti ini harus berkembang menuju kearah yang lebih baik, bukan malah menindas orang lain, karena itu Harraz mendirikan Akademinya.
Pengguna Charm sudah ada cukup lama, dan mereka memiliki kelompoknya sendiri. Bahkan sudah ada banyak Organisasi dan Akademi yang didirikan.
Bersembunyi dan menyembunyikan kekuatannya dari orang biasa adalah hal yang harus dilakukan oleh pengguna Charm, agar keseimbangan tetap bisa berjalan.
"Kalian dicari sama Otoritas."
Janu diam, dia mulai meraih berkas coklat yang ada di depannya kemudian langsung membuka benda tipis tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
"Ada beberapa yang Janu kenal, dan ada beberapa yang Janu hindari." Pernyataan itu dikeluarkan oleh Januel setelah melihat foto yang ada di berkas tadi, bahkan ada sosok yang berasal dari sekolahnya sendiri yang sangat dihindari oleh Januel.