01

113 17 9
                                        

Pintu lift terbuka pelan, menyerakkan pendar cahaya terang dari lantai 16 yang sibuk. Di luar sana, lalu-lalang manusia tampak tergesa, menenun derap langkah demi menyiapkan sebuah pertunjukan.

Dari heningnya ruang lift, seorang laki-laki melangkah keluar. Sosoknya berdiri tegar, jemarinya perlahan mengusap helai-helai rambut basah dengan sehelai handuk.

Badannya yang kekar dibalut jaket biru, tempat sisa-sisa titik air masih menempel dan berkilau, melukiskan betapa indahnya sosok Claudius Kojanthe saat ia melangkah lantang menembus lorong, menuju theater sekolah.

Theater itu adalah panggung dari segala keriuhan, tempat di mana berbagai perayaan sekolah dihidupkan. Sebelum riuh penonton memenuhi ruangan, beberapa orang kerap memanfaatkannya untuk berlatih, memetik nada, menyelaraskan alunan band, atau sekadar mengulang adegan-adegan klasik yang akan dipamerkan.

Di sana pula ibadah digemakan, piagam diserahkan, dan apresiasi dilayangkan. Namun, kala keriuhan itu reda dan acara usai, theater itu akan kembali pada jatidirinya. Sepi, sunyi, dan diselimuti kegelapan.

Pada saat-saat senyap seperti itulah Claudius kerap singgah, mencuri selang waktu sebelum ia terjun ke lintasan latihan renangnya.

Bagi Claudius, ruangan ini adalah tempat yang mampu memahami keheningannya di tengah berisiknya dunia. Sebuah sudut sunyi yang seolah paling mengerti cara mengapresiasinya setiap kali ia berhasil menggapai ambisi.

Di sinilah ia bisa menyandarkan lelah dengan tenang, tersembunyi rapat dari tatapan siapapun saat tubuhnya mulai goyah oleh ambisinya sendiri.

Ia melangkah ke sudut paling jauh, lalu melabuhkan tubuhnya di sisi paling ujung theater. Semua perlengkapan yang dibawanya ditaruh pelan, termasuk tas berat dan perangkat berenangnya.

Diusapnya wajah yang lelah itu sebelum akhirnya tertutup rapat oleh handuk basahnya. Claudius membiarkan dirinya terlelap, merangkul kekelaman malam buatan yang menjadi satu-satunya pelipur lara selain dinginnya air laut yang ia cintai.

AC berderu kencang dalam kegelapan, mengembuskan hawa dingin yang setia menemani lelapnya.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Terdengar samar langkah gontai dan derai suara orang-orang yang masuk dengan sembrono.

Lampu-lampu theater menyala seketika, membedah kegelapan dan mendadak menyeret sosok Claudius yang mencolok dari tempat persembunyiannya di ujung sana.

Kedatangan orang-orang itu sejatinya hal biasa, mereka hadir untuk memeriksa persiapan acara yang kian dekat. Sebagaimana teman-teman Claudius yang kini bersiap menyambut kemeriahan itu.

Namun, langkah mereka terhenti saat mendapati Claudius duduk dalam balutan handuk di pojok ruangan.

Ini adalah kali pertama mereka menangkap sosok sang perenang berada di tempat seperti ini.

Dengan binar antusias, mereka menghampiri, mengira Claudius sengaja hadir untuk menyaksikan hal serupa yang tengah mereka nantikan.

"Clau, tumben lu di theater? Mau dengerin si cantik nyanyi juga ya?."

Claudius terkesiap. Cahaya terang yang menembus handuknya memaksa ia menegakkan badan dengan kening berkerut bingung. Bagaimana mungkin orang-orang ini menarik kesimpulan sesuka hati di sudut ketenangannya?

"Hah? Gue mampir sekalian nunggu jam renang. Napa? Si cantik? Who that?."

Siapa "si cantik"? Nama atau julukan itu sungguh tak pernah hinggap di cuping telinganya.

Temannya lantas mendaratkan tubuh di samping Claudius. Dengan nada mengejek, ia mendorong bahu Claudius, menggodanya penuh kejahilan.

Di tengah panggung sana, seorang gadis baru saja melangkah masuk. Ia mengambil tempat di titik sentral, menebarkan senyum manis yang menawan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Atlan(a)thys | KeonsuniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang