Langkah kaki Soobin terdengar cepat di lorong sekolah yang mulai sepi.
Tangannya masih memegang Yeonjun yang setengah bersandar padanya. Tubuh Yeonjun terasa panas-terlalu panas untuk ukuran biasa. Napasnya tidak stabil, dan setiap beberapa langkah, tubuhnya sedikit goyah.
"Yeonjun, tahan ya... sedikit lagi," ucap Soobin pelan, tapi tegas.
Yeonjun tidak langsung menjawab. Kepalanya terasa berat, pikirannya seperti tertutup kabut. Namun satu hal yang jelas-ia masih sadar kalau Soobin sedang membawanya keluar dari perpustakaan.
"...berisik..." gumam Yeonjun lirih, suaranya terdengar lemah dari biasanya.
Soobin sempat melirik sekilas. "Aku tahu kamu nggak nyaman. Tapi di dalam tadi terlalu ramai."
Ia mempercepat langkahnya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah ruang kosong di sisi belakang gedung sekolah-tempat yang jarang dilewati orang.
Soobin membuka pintu dan membantu Yeonjun masuk.
"Duduk di sini."
Yeonjun mengikuti tanpa banyak protes. Tubuhnya jatuh ke kursi terdekat, tangannya otomatis memegang dahinya.
Masih panas.
Soobin berdiri di depannya, memperhatikan dengan serius. Untuk pertama kalinya, ekspresi Soobin tidak santai seperti biasanya.
"Kondisimu makin naik," kata Soobin pelan. "Ini bukan cuma karena lingkungan tadi."
Yeonjun menghela napas panjang, berusaha mengatur dirinya. "Aku tahu..."
Suara Yeonjun terdengar lebih pelan, tapi ada nada menahan diri di dalamnya.
Beberapa detik hening.
Soobin kemudian mengambil posisi sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak.
"Kalau kamu butuh... aku bisa bantu stabilkan pheromones-ku."
Yeonjun langsung mengangkat pandangannya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Yeonjun terlihat ragu.
Bukan karena tidak percaya... tapi karena situasi ini terlalu sensitif.
"...jangan sembarangan," ucap Yeonjun akhirnya, meski suaranya terdengar tidak sekuat biasanya.
Soobin mengangguk kecil. "Aku nggak akan maksa, lagian aku sudah janji dengan Taehyun ."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang, "Tapi kalau kamu terus menahan seperti ini, kondisimu bisa makin drop."
Yeonjun memalingkan wajahnya sedikit.
Tangannya masih menggenggam erat ujung bajunya.
Beberapa saat berlalu...
Lalu, perlahan, Yeonjun menghembuskan napas.
"...lakukan."
Suara itu hampir seperti bisikan.
Soobin tidak langsung bergerak. Ia memastikan sekali lagi.
"Kamu yakin?"
Yeonjun mengangguk pelan, meskipun matanya tidak menatap langsung.
Itu cukup.
Soobin mengambil satu langkah lebih dekat.
Ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bahkan suara jam dinding terdengar jelas.
Soobin menutup jarak secara perlahan, tidak terburu-buru, seolah memberi Yeonjun waktu untuk menarik diri jika berubah pikiran.
Namun Yeonjun tidak bergerak menjauh.
Sebaliknya, ia memejamkan mata.
Detik berikutnya, pheromone Soobin mulai terasa mengisi udara di sekitar mereka-lebih lembut dibanding sebelumnya, lebih terkontrol.
Dan perlahan...
reaksi tubuh Yeonjun mulai mereda.
Napasnya yang awalnya tidak stabil mulai teratur.
Tubuhnya yang terasa terlalu panas perlahan menurun suhunya.
Yeonjun membuka matanya sedikit.
Ekspresinya terlihat lebih tenang.
"...lebih baik," gumamnya pelan.
Soobin sedikit mundur, memastikan kondisi Yeonjun stabil.
"Bagus."
Namun suasana di antara mereka berubah.
Tidak lagi sekadar siswa dan tutor.
Ada sesuatu yang berbeda.
Lebih dekat dari sebelumnya.
Lebih... pribadi.
Yeonjun menatap Soobin dalam diam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menghindar.
Dan di dalam pikirannya-
pertanyaan yang sama mulai muncul kembali.
Apakah benar ini hanya kebetulan...
atau memang sesuatu yang tidak bisa mereka hindari sejak awal?
....
....
....
....
-To be continued
......
janlup vote guyss!!!
YOU ARE READING
Hate To Love | Soobjun
Short StoryGenre utama : Omegavers, School life, Romance, Drama. Genre tmbhn : Enemies To Lovers. ‼️ Note ‼️ jangan SALPAK guyss!! ini lapak soobjun yaa!, btw ini sambungan cerita yang ada di account tiktok aku Yap. part 1-11 kalian boleh ceka acc saya ya, @ch...
