• HAPPY READING •
Dunia hiburan Thailand tahu siapa Sea Tawinan. Aktor paling tampan, paling laku, dan paling mahal bayarannya. Mau main film action atau drama romantis, Sea selalu jadi nomor satu. Tapi ada satu rahasia besar yang tidak ada satu orang pun tahu, bahkan manajernya sendiri hampir kena semprot saat Sea akhirnya mengaku Aset kebanggaannya sudah tidak bisa bangun selama tiga bulan.
Gila, kan? Aktor pujaan bangsa, tapi impoten.
"P'Foei, pokoknya cari dokter yang paling jago! Gue nggak mau karier gue hancur cuma gara-gara benda di celana gue ini mogok kerja!"
bentak Sea di dalam mobil van mewahnya. Ia melempar ponselnya ke kursi kulit dengan kasar. Sifat aslinya yang angkuh dan gengsian selalu keluar jika ia sedang panik.
"Sabar, Sea. Ini saya bawa ke Dokter Jimmy. Dia spesialis Andrologi, dokter khusus urusan alat vital pria. Dia yang paling mahal dan paling bisa menjaga rahasia di Bangkok,"
jawab Foei sambil menyetir dengan tegang.
Sea mendengus. "Mahal? Gue punya uang. Yang penting dia bisa bikin gue aset gue hidup lagi sebelum syuting adegan ranjang bulan depan. Awas saja kalau dia tidak becus."
Mereka sampai di rumah sakit jam dua pagi. Sea masuk lewat pintu belakang, mengenakan topi dan masker hitam. Dia berjalan dengan dagu terangkat, merasa paling berkuasa, seolah-olah dia yang memiliki rumah sakit itu. Di depan pintu ruang praktik nomor 03, Sea langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk.
Di dalam, seorang pria berjas putih sedang duduk tenang sambil membaca tablet. Wajahnya sangat tegas, rahangnya kokoh, dan matanya menatap tajam di balik kacamata. Dia adalah Dokter Jimmy.
"Silakan keluar. Ketuk pintu terlebih dahulu sebelum Anda masuk ke ruangan saya,"
kata Jimmy tanpa menoleh ke arah Sea. Suaranya rendah, datar, namun penuh tekanan.
Sea melongo. Dia tidak terbiasa diperintah.
"Heh, Dokter. Gue Sea Tawinan. Lo nggak tahu siapa gue? Gue nggak punya waktu buat sopan santun murahan."
Dokter Jimmy perlahan mengangkat kepalanya. Dia menatap Sea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan ekspresi tanpa emosi.
"Saya tidak peduli dengan status sosial Anda di luar sana. Di dalam ruangan ini, Anda hanyalah seorang pasien yang memiliki gangguan fungsi alat kelamin. Jadi, Anda ingin melakukan pemeriksaan atau hanya ingin memamerkan kesombongan Anda?"
Skakmat. Sea menggertakkan gigi, tapi dia butuh bantuan dokter ini. Dia duduk di depan Jimmy dengan gaya angkuh, menyilangkan kaki.
"Oke, tolong cepat sedikit. Punya gue nggak bisa bangun. Sudah tiga bulan. Gue sudah coba nonton film porno paling parah sekalipun, tetap saja lemas kayak mie rebus. Puas?"
Jimmy justru menatap Sea dengan tatapan tajam.
"Dalam istilah medis, Anda mengalami gagal ereksi total. Dan saya tidak bisa memberikan obat hanya berdasarkan keluhan sombong Anda ini."
Jimmy berdiri. Badannya tinggi tegap, membuat Sea merasa sedikit ciut.
"Saya perlu melakukan pemeriksaan fisik secara langsung untuk mengecek kenapa alat vital Anda tidak mau bekerja. Silakan ke balik tirai, lepas seluruh pakaian bawah Anda, dan berbaring di ranjang periksa."
Sea melotot. "Apa? Lepas celana? Semuanya?"
"Benar, semuanya. Saya harus memegang dan mengecek langsung apakah ada saraf atau aliran darah yang tersumbat di penis Anda. Silakan segera dilakukan jika Anda masih menginginkan karier Anda selamat,"
perintah Jimmy dengan bahasa yang sangat formal namun frontal.
Sea ingin sekali memaki dokter ini, tapi dia tidak punya pilihan. Dengan wajah merah padam karena harga dirinya yang selangit itu terluka, dia berjalan ke balik tirai. Dia melepas celana jeans mahalnya, lalu pakaian dalamnya. Dia berbaring di ranjang itu sambil menutupi wajahnya dengan lengan. Malu setengah mati.
Tirai disingkap. Jimmy masuk membawa lampu periksa yang sangat terang. Lampu itu langsung disorotkan tepat ke selangkangan Sea. Sea merasa ingin menghilang dari bumi saat itu juga.
"Buka kaki Anda lebih lebar. Jangan dirapatkan begitu, saya tidak bisa melihat detail batang penis dan buah zakar Anda,"
kata Jimmy sambil memasang sarung tangan karet. Bunyi sarung tangan itu membuat jantung Sea berdegup kencang.
Sea terpaksa membuka pahanya lebar-lebar. Dia telanjang bulat di depan pria asing ini. Jimmy mulai meraba area pangkal paha Sea. Jari Jimmy yang terbungkus karet terasa sangat dingin di kulit Sea.
"Secara bentuk, semuanya normal. Ukuran dan posisi kantong sperma Anda juga tidak ada masalah,"
gumam Jimmy secara profesional, seolah sedang memeriksa barang belanjaan.
Tiba-tiba, tangan Jimmy memegang milik Sea dengan mantap. Dia mulai memijat dan menekan batang penis Sea dengan teknik tertentu. Sea langsung tegang, bukan karena gairah, tapi karena kaget dan sangat malu.
"Dokter! Apa yang Anda lakukan!" bentak Sea, suaranya mulai bergetar.
"Saya sedang memancing reaksi saraf di penis Anda, Saudara Sea. Harap diam, atau saya harus menyuntikkan obat langsung ke dalam batang penis Anda jika Anda terus melawan,"
ancam Jimmy dengan nada bicara yang tetap tenang dan formal.
Sea langsung terdiam. Dia hanya bisa pasrah saat tangan Jimmy mulai semakin berani memainkan area sensitifnya. Jimmy benar-benar blak-blakan dalam tindakannya, namun bahasanya tetap terjaga secara medis. Dia tidak menggunakan perasaan, dia hanya ingin melihat respons tubuh Sea.
"Anda mengatakan bahwa Anda tidak merespons film dewasa. Namun, secara nyata, saat saya meremas dan mengelus bagian ujungnya seperti ini, batang penis Anda mulai terisi darah,"
ujar Jimmy sambil mendekatkan wajahnya untuk mengamati reaksi tubuh Sea.
"Nggak... itu... itu karena tangan lo dingin!"
Sea berkilah, padahal dia mulai merasakan sensasi aneh yang membuatnya ingin mendesah.
Jimmy tidak berhenti. Dia justru mempercepat gerakan jarinya pada bagian kepala penis Sea yang sangat sensitif. Gesekannya terasa kasar namun sangat tepat sasaran. Sea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak ada suara memalukan yang keluar.
"Penyakit Anda bukan di badan, Sea. Tapi di otak,"
bisik Jimmy, suaranya terdengar sangat berwibawa di dekat telinga Sea.
"Anda terlalu sombong karena selalu dipuja-puja, sehingga tubuh Anda hanya bisa bangun jika dipaksa tunduk oleh orang seperti saya. Lihat... sekarang Anda berdiri tegak di tangan saya."
Sea terengah-engah. Di bawah sana, miliknya yang tadinya mati total, sekarang perlahan mulai mengeras dan berdiri tegak di dalam genggaman tangan Dokter Jimmy. Sea benar-benar kalah telak. Harga dirinya sebagai aktor angkuh hancur berkeping-keping hanya dalam waktu sepuluh menit di tangan dingin Dokter Jimmy.
-tbc
-aku lupa ini terinspirasi dari mana, tapi tiba tiba-tiba lewat di otak ajaa
-kalo ada salah atau typo mohon maaf yaa🙏🏻☺️
