Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar merasa hidup.
Bukan sekadar bernapas. Bukan sekadar berjalan, makan, atau menjawab ketika seseorang berbicara. Itu semua masih kulakukan. Semua orang di kota ini juga melakukannya.
Tapi "hidup"... itu....seakan menjadi sesuatu yang berbeda.
Dan di Nocthra, hal itu sudah lama menghilang.
Kabut tipis menggantung di udara pagi, seperti biasa. Tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan matahari pun hanya terlihat seperti lingkaran pucat di balik langit abu-abu, seolah ia sendiri malas untuk bersinar di atas sana.
Aku berjalan menyusuri jalanan yang retak, sepatu botku menyentuh genangan air yang tidak pernah benar-benar kering. Bangunan di sekitarku menjulang tinggi, tapi kosong. Jendela-jendela gelap seperti mata yang sudah lama mati.
Orang-orang tetap ada.
Mereka lewat di sampingku. Menunduk. Diam. Tanpa ekspresi.
Tanpa sedikit pun emosi.
Aku berhenti di sebuah persimpangan dan memperhatikan seorang pria tua yang hampir tersandung batu. Dia terhuyung, tangannya gemetar, lalu... berdiri lagi, sendiri.
Tidak ada yang menolong. Tidak ada yang peduli.
Bahkan dia sendiri tidak terlihat peduli di saat ia jatuh tadi.
Aku menghela napas pelan.
"Seperti biasa..." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku melanjutkan langkah. Tidak ada tujuan khusus. Tidak pernah ada. Sejak, Aku berhenti.
Pikiranku langsung memotong kalimat itu sebelum selesai di dalam batinku sendiri.
Jangan.
Jangan mulai.
Aku mempercepat langkah, mencoba mengalihkan pikiranku. Tapi seperti biasanya, kenangan itu tetap mengejar.
Eron.
Nama itu saja sudah cukup membuat dadaku terasa... kosong. Bukan sakit. Bahkan rasa sakit pun sudah jarang muncul sekarang.
Hanya kosong.
Dulu, kakakku selalu bilang kalau aku terlalu banyak berpikir.
"Kamu itu harusnya lebih banyak ketawa, Ava," katanya sambil mengacak rambutku. "Hidup itu nggak selalu seburuk yang kamu kira." Ucapnya santai.
Aku hampir tertawa kalau mengingatnya sekarang.
Ironis.
Karena dia yang pertama kali berubah.
Aku sampai di depan bangunan tua yang setengah runtuh. Dindingnya penuh retakan, catnya mengelupas. Tempat ini dulu adalah rumah kami. Sebelum orang tua kami meninggal. Dan kami hanya tinggal berdua.
Sekarang... cuma sisa.
Pintu depannya setengah terbuka, berderit pelan saat aku mendorongnya. Udara di dalam lebih dingin dari luar. Bau lembap langsung menyambut.
Aku melangkah masuk.
Langkahku otomatis menuju satu ruangan, ruang tengah.
Dan di sanalah dia berada.
Eron duduk di lantai, bersandar pada dinding. Tatapannya kosong, lurus ke depan. Tidak bergerak. Tidak bereaksi ketika aku masuk.
Aku berdiri diam beberapa detik.
Menunggu.
Berharap.
Tapi... terlihat Bodoh.
"Aku datang lagi," kataku akhirnya.
YOU ARE READING
Golden Lies
FantasyDi kota mati bernama Nocthra, langit selalu abu-abu dan jalanan terasa kosong, manusia hidup tanpa perasaan-sampai sebuah cairan bernama Elixir mengembalikan apa yang hilang, Yakni rasa. Avelyn Kael tahu arti kekosongan. Sejak kakaknya berubah menja...
