᪥ 001 | Bad Desire ⋯

183 28 5
                                        

Pulau itu tidak ada dalam peta komersial. Dikelilingi oleh kabut abadi dan Samudra Pasifik yang ganas, berdiri sebuah institusi yang lebih mirip kerajaan daripada sekolah, Akademi Aethelgard.

Bangunannya adalah mahakarya batu granit abu-abu dengan menara-menara runcing yang seolah hendak menusuk langit mendung. Di sini, modernitas adalah tamu yang tak diundang; listrik ada, namun lampu-lampu kristal dan obor dinding lebih mendominasi, menciptakan suasana Eropa kuno yang kental.

​Di luar gerbang asrama, sebuah desa kecil bernama Heritage Village berdiri subur. Kedai-kedai teh dan toko buku tua dioperasikan oleh para pewaris yang sedang belajar manajemen, tempat para Spoon menghabiskan akhir pekan mereka tanpa perlu khawatir dunia luar mengenali wajah mereka.

​Malam itu, Sunoo Kim, seorang pemuda dari klan Golden Spoon asal Asia, sedang menyepi. Sebagai siswa Middle Juvenile Tingkat 4, Sunoo lebih suka menghabiskan waktu di "Ruang Relik"-sebuah area di rubanah asrama yang jarang dikunjungi. Ruangan itu megah namun dingin, dibangun dari susunan batu besar dengan pilar-pilar tinggi yang mengelilingi sebuah kolam air jernih.

​Sunoo menyandarkan punggungnya pada pilar, matanya terpaku pada naskah tua tentang sistem pengairan abad pertengahan. Bau kertas tua dan air tenang adalah pelariannya dari hiruk-pukuk hierarki kekayaan di atas sana.

BRAK!

​Keheningan pecah. Suara benda berat menghantam air bergema hebat, disusul suara langkah kaki yang terburu-buru menjauh. Sunoo membeku. Ia bangkit perlahan, bersembunyi di balik bayangan pilar. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan riak air yang tak beraturan.

​Penasaran, Sunoo melangkah ke tepi kolam. Jantungnya mencelos. Di tengah kolam yang dalam itu, seorang anak laki-laki kecil sedang berjuang. Gerakannya tidak beraturan, kakinya tampak kaku-kram akibat dinginnya air yang mendadak. Di permukaan air yang tenang, noda merah mulai menyebar dari arah kepala anak itu.

​"Hei!" Sunoo tidak berpikir dua kali. Ia melepas sepatu botnya dan terjun. ​Dinginnya air menusuk tulang, tapi Sunoo berhasil meraih kerah seragam anak itu dan menariknya ke tepian batu. Anak itu terbatuk-batuk, tubuhnya yang ringkih gemetar hebat. Luka di pelipisnya cukup dalam, kemungkinan terbentur pinggiran kolam saat didorong.

​Tanpa bicara, Sunoo merobek lengan kemeja sutranya yang mahal-sebuah simbol status yang kini hanya menjadi kain pembalut luka. Ia mengikat kepala anak itu dengan cekatan.

​"Minumlah," bisik Sunoo lembut, menyodorkan botol air peraknya. ​Anak itu menatap Sunoo dengan mata bulat yang penuh ketakutan. Di lengan kemejanya yang basah kuyup, terpampang logo perak dengan angka satu, Middle Juvenile Tingkat 1. Dia masih sangat muda, mungkin baru saja lulus dari Equal Younger.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Sunoo lagi. ​Anak itu hanya diam. Ia menatap botol itu, lalu menatap Sunoo. Dengan tangan yang masih bergetar, ia meraih telapak tangan kanan Sunoo. Jemarinya yang dingin bergerak, menuliskan huruf demi huruf di atas kulit Sunoo.

T-E-R-I-M-A K-A-S-I-H T-E-L-A-H M-E-N-O-L-O-N-G-K-U.

​Sunoo mengernyitkan dahi. "Di mana asramamu? Ayo, aku antar ke ruang kesehatan, lalu kembali ke kamarmu. Kau butuh istirahat." ​Anak itu menggeleng kuat-kuat. Matanya mulai berkaca-kaca. Kembali, ia menulis di telapak tangan Sunoo,

AKU TIDAK INGIN KEMBALI KE ASRAMA. TOLONG JANGAN BAWA AKU KE SANA!

​Sunoo tertegun melihat kepanikan di mata juniornya itu. "Apa kau... sangat gugup sampai tidak bisa bicara? Tenanglah, kau bisa ikut ke kamarku dulu. Kebetulan aku menempati kamar besar sendirian karena belum ada murid pindahan yang masuk. Di sana ada enam ranjang kosong." Sunoo mencoba bercanda, "Lagipula, aku agak penakut. Tidur sendirian di kamar seluas itu membuatku merasa ada makhluk tak kasat mata di ranjang-ranjang kosong itu."

Bad Desire | Sunoo x Ni-ki [SunKi]Des histoires addictives. Découvrez maintenant