Prolog

61 6 3
                                        

Brak!

"Bangsat! Lo ngapain ngadu ke guru kalo gue ngerokok hah?!"

Ia mengeratkan rematan di perutnya, meringis ketika tubuhnya ditendang dan mulai dipukuli lagi.

"Jay... Saya tidak mau kamu terus seperti itu."

"Stop peduli sama gue! Kita ga sedekat itu, Yang Jungwon!"

Jungwon, yang kini perutnya ditendang oleh Jay hanya meringis, ia melindungi perutnya agar tidak di pukuli lagi.

Namun Jay ketika marah adalah masalah besar.

Rambut Jungwon ditarik, dibuat mendongak oleh Jay.

"Denger ya, kutu buku busuk."

"Jangan ikut campur masalah gue, mau gue main cewek, ngerokok, minum sekalipun, itu ga ada urusan nya sama lo!"

Jay berkata dengan lantang didepan wajah jungwon.

Gudang yang gelap dan pengap itu diisi oleh deru nafas jay yang marah, dan rintihan kecil jungwon.

"Jay, saya hanya penasaran," ujar Jungwon lirih.

Jay yang hendak pergi menahan langkahnya, ia menatap kearah lantai, dimana Jungwon sudah terduduk sambil bersandar lemah kedinding gudang.

"Saya penasaran, kenapa kamu selalu bersikap seperti itu, apa... Kamu baik-baik saja?"

Jay mengepalkan tangannya marah.

Ia raih satu kursi plastik didekatnya, tanpa berkata apapun langsung melemparnya kearah jungwon.

Jungwon yang tak sempat merespon itu berakhir pelipisnya terluka, cukup parah. Darahnya menetes mengotori seragam taekwondo miliknya.

"Gue juga penasaran, Yang Jungwon."

Jungwon mendongak, ia tatap wajahnya jay yang memerah.

"Kenapa lo bisa selemah itu? Gue benci orang-orang lemah kayak lo, Jungwon."

Kemudian ia pergi setelah meludah, meninggalkan jungwon di gudang belakang sekolah yang jarang dilewati siswa-siswi.

Diluar gedung, Jay menatap kosong kearah balok kayu panjang disamping pintu, ia raih dengan susah payah, kemudian ia letakkan diantar pintu.

"Itu akibatnya berurusan sama jay park, Yang."

Lalu ia pergi, meninggalkan sekolah dengan motor nya.

Sementara Jungwon merintih, ia menarik nafasnya sebentar, lalu membuka matanya perlahan.

Kemudian ia bangun dengan santai, seolah-olah tadi ia tak dipukuli membabi buta oleh seseorang yang sialnya, membuatnya penasaran sedalam ini.

Jungwon berjalan menuju pintu keluar, ia memukul keningnya pelan ketika pusing tiba-tiba datang.

Ia raih gagang pintu, namun tak bisa.

Beberapa kali ia coba, namun nihil tak ada hasil.

"Jay..."

Jungwon mengacak-acak rambutnya, ia kemudian bersandar di samping pintu yang tertutup rapat.

"Jay, sepertinya kamu tidak baik-baik saja," ujar jungwon pelan.

"kamu tampak... Sedih."

Real Man

Jay Park

Yang Jungwon

Real ManStories to obsess over. Discover now