Girl Side adalah kisah tentang perkumpulan perempuan yang dibentuk tanpa sengaja di DOMINUS AKADEMI.
"DOMINUS artinya TUAN, PENGUASA, YANG MEMIMPIN, YANG BERKUASA... Artinya DOMINUS AKADEMI memiliki maksud sekolah cowok tempat para pemimpin masa dep...
"Namaku Sasa. Sasa Cahyaningtyas. Sekarang aku berusia enam belas tahun. Dulu aku sekolah di negeri, tapi karena kondisi keluarga yang agak rumit, akhirnya aku dipindahkan ke sekolah swasta-namanya Dominus Akademi." Sasa menulis di buku diari-nya.
Tiba-tiba HP Sasa bergetar, layar nyala dengan nomor yang belum Sasa simpan muncul begitu aja.
Sasa menelan ludah pelan sebelum akhirnya menyentuh tombol hijau di layar.
"Halo...?" suaranya keluar sedikit ragu.
Telinganya menempel pada ponsel, tapi tangannya yang satu lagi masih menggenggam ujung buku di meja.
Begitu suara di seberang mulai bicara, alis Sasa naik sedikit, menunjukkan rasa penasaran sekaligus siap mendengar.
"Halo Sa? Ini gue Lia. Kedengaran ga suara gue?"
"Ohh, iya denger kok. Kenapa?"
"Tunggu bentar, lo belum simpan nomor gue ya? ketahuan kann"
"Ishh, kok lu tau sih... iya iya gue otewe simpan nomor lo"
"Nanti gue telpon lagi ya, Sa!" ia menutup teleponnya-bunyi tut singkat menandai panggilan berakhir.
Sasa menatap layar ponselnya yang kembali ke menu utama.
Nomor dan deskripsi nama Lia masih terpampang di bagian riwayat panggilan.
Perlahan, Sasa mengetuk opsi "Save Contact".
Begitu kontak itu tersimpan, layar ponsel Sasa kembali meredup. Sunyi. Ia mengedip beberapa kali, masih mencoba mencerna kejadian barusan.
"Kenapa sih Lia telpon gue di jam segini?" pikir Sasa.
Baru saja ia hendak menutup buku diari-nya, bunyi notifikasi lain muncul-sekali, pelan, tapi cukup bikin hati Sasa loncat setengah langkah.
Satu chat masuk.
------------------ Lia Sa, barusan Clarvie dan Ichika chat gue mau ngadain acara party khusus semua perempuan di DOMINUS AKADEMI. Lo besok masuk ya ------------------
Sasa mematung sebentar.
"Oh wow" gumamnya pelan.
"Kenapa khusus semua perempuan? kenapa ga ngajak anak laki-laki juga sekalian?" pikir Sasa.
Ia membaca ulang chat itu, terus-terusan.
Sampai akhirnya ia mengetik balasan pendek.
------------------ Sasa Oke. ------------------
Bahkan setelah pesan itu terkirim, Sasa masih belum yakin apa yang menunggunya di sekolah baru ini.
Ia menutup ponsel, merebahkan diri ke kasur, menatap langit-langit.
"Besok... bakal kayak apa ya?"
Pertanyaan itu menggantung di kepalanya sampai matanya perlahan mulai terasa berat.
Suara-suara di sekitarnya seperti suara kipas angin mulai memudar, seperti ditarik jauh ke belakang.
Napasnya melambat, ritmis, dan hangat.
Dalam hitungan detik, pikirannya mulai mengabur... sampai akhirnya ia terpeleset masuk ke dunia mimpinya sendiri.
Begitu suara-suara itu mulai terdengar, tubuh Sasa langsung terasa kaku.
Ia seperti terperangkap di antara tidur dan sadar-matanya tertutup, tapi telinganya menangkap bisikan-bisikan aneh yang makin jelas arahnya.
Dadanya naik turun cepat, tapi ia sama sekali nggak bisa menggerakkan tangan atau kakinya.
Bahkan jari-jarinya pun seolah membatu.
Suara itu makin dekat...
"DOMINUS artinya TUAN, PENGUASA, YANG MEMIMPIN, YANG BERKUASA... Artinya DOMINUS AKADEMI memiliki maksud sekolah cowok tempat para pemimpin masa depan, yang posisi sosialnya tinggi, terpandang, dan dominan-" ucapan Clarvie terputus saat Copen membentaknya.
"GAK ADA HASIL KALO LO CUMA MODAL NGUCAP GITU DOANG WOYYY!!!!" bentak Copen.
Suara bentakan Copen langsung menarik perhatian Ichika yang ada di ruangan itu.
"COPEN BERISIK!!!! KALIAN GAK BISA NIKMATIN HARI DENGAN ENJOY TANPA MIKIRIN GITUAN!?!?!?!?!?!? I MEAN, IYA GUE TAU KOK MAKSUD KALIAN, BUT PLEASE, HIDUP TUH BUKAN CUMA ITU..." teriak Ichika dengan suara slay dan anggunly.
Copen memutarkan kedua bola matanya,
"Iya maap" ucap Copen sambil cabut.
....
......
............
Sasa ingin bangun.
Ia ingin bahkan cuma menarik napas lebih dalam.
Tapi tubuhnya tetap terpaku, tak merespons apa pun, seakan mimpinya menahan seluruh gerakan.
Di tengah keheningan itu, hanya satu hal yang bisa ia lakukan, mendengar.
Dan itu justru yang paling membuatnya gelisah.
Di dunia nyata, Sasa masih terbaring kaku, wajahnya tenang padahal pikirannya sedang kacau terjebak dalam mimpi.
Pintu kamarnya terbuka sedikit.
Mamahnya menjulurkan kepala, membawa setengah kantong cucian di tangan.
Tidak ada reaksi apa pun selain napas Sasa yang halus dan teratur.
Mamahnya mengerutkan dahi.
Ia menepuk bahu Sasa pelan.
"Sa? Bangun, Nak. Udah pagi nih..." Tetap sama.
Sasa bahkan nggak geser sedikit pun.
Mamahnya berdiri di samping kasur, menghela napas panjang lalu berdecak kecil.
"Tidur jam berapa sih ni anak..." gumamnya, suara khas ibu-ibu yang antara sayang, gemas, dan pasrah.
Ia akhirnya menarik selimut Sasa sedikit ke atas supaya anaknya tetap hangat, lalu meninggalkan kamar dengan langkah pelan-masih sambil menggerutu kecil.
Di balik itu semua, Sasa tetap tenggelam di mimpi, tubuhnya tak bergerak seolah dua dunianya terputus.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jangan lupa vote cerita ini dan follow @sayucandoit Terimakasih untuk dukungan para readers, i love ya❤️