bab¹; exchanged for money

115 26 6
                                        

Rael tidak mengerti kenapa dia dibawa oleh sang ayah kesebuah gedung tua yang terlihat terbengkalai, genggaman tangannya pada sang ayah mengerat ketika netra jernihnya melihat banyaknya orang-orang berseragam hitam dengan tampang datar.

"Ayah... kita mau kemana?" tanya dengan suara lirih mengalun di sepanjang lorong bangunan.

Bimo -sang ayah hanya menatap sekilas tanpa menjawab, genggaman tangannya pada Rael lebih dia eratkan -lebih tepatnya menyeret lengan sang anak.

"Aakh, a-ayah sakit" suara ringisan itu hanya dibalas dengusan tidak peduli oleh Bimo.

Setelah menapaki lorong bangunan yang panjang, akhirnya mereka sampai pada pintu yang tertutup rapat dengan aksen rumitnya. Firasat Rael tidak baik, dia merasa ada sesuatu disana dan itu akan membuatnya terjebak.

Click!!

Pintu itu perlahan-lahan terbuka menampakkan nuansa temaram di dalam sana, Bimo baru saja akan melangkahkan kakinya untuk masuk tapi ada tahanan dalam genggamannya yang membuatnya harus menoleh. Bisa Bimo dapati raut wajah sang anak terlihat ketakutan, ada getaran kecil dimanik mata yang kini mulai berkaca-kaca.

"Ayah, ayo pulang, Ael takut.." cicitnya penuh harap.

Bimo memejam sesaat guna meredam emosinya, jujur saja dia muak dengan Rael dengan kasarnya dia melepas tautan mereka dan meremas bahu kecil remaja itu dengan kasar.

"Dengarkan aku, sialan!!" hardik Bimo kasar. "Aku membawamu kesini untuk aku jual, sudah cukup 15 tahun yang aku sia-siakan untuk merawatmu apalagi setelah kau membunuh istriku."

Rael ingin membalas ucapan sang ayah, tapi di interupsi oleh pria berbaju hitam lengkap dengan aerpicenya. Setelah berbicara singkat, Bimo kembali meraih tangan Rael guna di bawa masuk ke ruangan yang sudah ada seorang pria menunggu di kursi kebesarannya.

"Selamat malam tuan Arthur," sapa sopan Bimo sedikit membungkukkan badannya pada sang tuan.

Arthur Draven Fernandez, pria berusia 49 tahun itu sama sekali tidak membalas sapaan dari bawahannya, tatapannya sedari tadi hanya terpaku pada remaja yang dibawa Bimo yang hanya menunduk.

Rasa penasarannya membawa Arthur bangkit dan berjalan kearah keduanya, tatapan dingin dan setiap kali ketukan suara sepatu pantofel membuat Rael semakin menunduk, sedari tadi Rael juga mencuri-curi pandang pada pria yang entah kenapa menurutnya berbahaya.

"Berapa yang kau inginkan?" tanya Arthur to the point pada Bimo yang berdiri seperti orang bodoh di hadapannya.

Deg!!!

Rael terkesiap mendengar ucapan pria yang kini berdiri diantara dia dan sang ayah, kepalanya sontak terangkat guna melihat wajah sang predator. Sedangkan di sisi lain, Bimo tersenyum culas dan segera menyambar selembar kertas yang di sodorkan padanya guna menulis sebanyak apa yang di inginkan uang.

"Ma-maksud om apa?" tanya Rael dengan suara nyaris hilang, netranya yang semula hanya berkaca-kaca kini menghadirkan buliran air mata yang tidak bisa terbendung.

Arthur tidak menjawab, pria dewasa itu hanya fokus menatap wajah merah anak di hadapannya yang sibuk mengusap air matanya yang terus berjatuhan.

Tidak mendapati jawaban, Rael kini beralih pada sang ayah yang sibuk dengan jumlah uang yang berada dalam otaknya, "ayah.... ayah nggak jual Ael'kan?" tanyanya penuh harap.

"AYAH!!!" teriak Rael penuh emosi dan ketakutan, semua orang yang berada dalam ruangan itu seketika hening melebihi sebelumnya. Mendapati teriakan dari sang anak, Bimo melirik kearah Arthur yang tidak bereaksi apapun, membuatnya takut jangan sampai tuan Fernandez membatalkan apa yang dia inginkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AZRAEL HYDAN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang