Lantai di gedung ini jauh lebih dingin dari yang kubayangkan. Aku meremat ujung kemejaku dan berusaha mengatur napas di depan beberapa orang yang sibuk berlalulalang. Berusaha merapihkan tanda pengenal yang harus selalu kujaga baik-baik mulai hari ini. Tanda pengenal bertuliskan Aruna Paramitha. Di hari pertama kerja ini, aku bagaikan anak ayam yang kehilangan induk ditengah hiruk-piruk orang-orang yang berkompetensi dengan waktu. Tugas pertamaku adalah men-cetak dokumen formula produk baru di perusahaan ini.
“Tenang saja, Aruna. Lantai ini tidak akan menelanmu kalau kamu salah menekan tombol printer”
Suara itu datang bersamaan dengan aroma kopi yang hangat. Aku mendongak, menemukan seorang laki-laku berdiri dengan satu tangan di saku celana bahan dan tangan lainnya sibuk memegang paper cup. Matanya menyipit saat tersenyum. Senyum yang tidak mengintimidasi namun justru sangat menenangkan.
“Keenan Arysanendra. Supervisor kamu atau kalau kamu lebih nyaman, anggap saja aku rekan kerja yang kebetulan punya meja sedikit lebih luas. Tapi masih lebih luas Pak Adrian sih. Manager kamu.” Candanya ringan.
Suaranya soft-spoken dengan tipe nada bicara yang akan membuatmu merasa bahwa setiap instruksi kerja darinya tidak akan pernah terdengar seperti perintah yang berat. Ia mengulurkan tangan, saat saat aku menyambutnya aku merasakan kehangatan yang membuat kegugupanku selama ini menguap.
“Selamat datang di tim R&D, Aruna. Mari kita buat hari pertamamu tidak terlalu mengerikan. Santai saja. Ini bukan seperti saat pertama kali kamu ospek kuliah.”
Setelah jabat tangan, Keenan tidak langsung meninggalkanku sendirian. Namun, ia menarik sebuah kursi kosong, duduk disebelah mejaku dengan gestur yang santai. Seolah-olah dia tidak memiliki tumpukan berkas yang menunggunya.
“Ini meja barumu. Masih kosong. Tapi tenang saja, biasanya dalam seminggu akan penuh dengan catatan post-it dan koleksi miniatur nailong kalau kamu mau.” Ucapnya sambil menunjuk permukaan meja kayu yang bersih.
“Hehe iya pak.” Aku menjawab dengan canggung. Aku buka tipikal orang yang langsung berbaur dengan orang baru. Kalau bahasa anak sekarang Introvert.
Ia mulai menjelaskan alur kerja dengan nada bicara yang sangat tenang. Tidak ada istilah-istilah yang diucapkan untuk membuatku merasa bodoh. Sebaliknya, Keenan menjelaskan semuanya seolah sedang bercerita. Sesekali ia menyelipkan humor ringan tentang printer kantor yang sering ngambek di hari Senin, atau kopi di divisi HR jauh lebih enak daripada di divisi R&D.
“Aruna,” panggilnya lembut saat ia bangkit berdiri. Aku mendongak, mendapati tatapannya yang teduh. “Kalau ada yang bikin bingung, tanya saja. Jangan dipendam sendiri. Di sini tidak ada hukuman untuk orang yang bertanya, oke?”
Aku menganggung, merasa beban di pundakku sedari tadi berkurang drastis. Senyumnya yang tipis namun tulus memberikan rasa aman yang jarang kutemukan di tempat baru. Pundak Keenan menghilang kembali ke ruangan tempat ia bekerja.
Siang harinya, saat aku masih berkutat dengan akses website perusahaan yang bermasalah, sebuah bungkusan cokelat kecil mendarat pelan di samping laptopku. Aku menoleh dan menemukan keenan sedang berjalan menjauh menuju ruangannya, hanya dengan lambaian tangan singkat tanpa berbalik. Di atas cokelat itu ada catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi.
“Energy booster untuk hari pertama. Selamat berjuang, Aruna!
-KA”
Aku tidak bisa menahan senyum. Di tengah hiruk-piruk kantor yang asing, Keenan Arsyanendra menjadi satu-satunya warna hangat yang membuatku merasa benar-benar diterima. Baru saja aku menyimpan cokelat itu ke dalam laci, sebuah tepukan ringan mendarat di bahuku. Aku menoleh dan mendapati seorang perempuan dengan gaya rambut bob yang modis sedang tersenyum lebar.
CZYTASZ
The Bitter Aftertaste
Fanfiction"Tiga tahun, Aruna. Beri aku waktu tiga tahun utnuk menyiapkan segalanya, sampai aku benar-benar siap memintamu pada orang tuamu." Sebagai staff Research & Development (R&D) di sebuah industro cokelat, Aruna terbiasa dengan rumus presisi. Ia tahu pe...
