Prolog

72 4 0
                                        

Rumah itu bukan rumah baru. Bintang sudah cukup lama tinggal di sana. Dua lantai, halaman kecil di depan dan pagar yang selalu ia pastikan terkunci sebelum malam datang. Awalnya, rumah itu terasa biasa saja. Tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Cukup untuk ditinggali satu orang mahasiswa yang merantau dan ingin hidup mandiri.

Segalanya terasa normal ketika masih ada orang lain di rumah itu. Mba Yanti, yang Bundanya minta untuk menemani Bintang, tidak hanya mengurus urusan rumah, kehadirannya membuat rumah itu terasa hidup. Ada suara di pagi hari, ada obrolan ringan di dapur, ada seseorang yang bisa ditanya apakah lauknya sudah cukup asin atau belum. Lalu suatu hari, karena suatu keadaan membuat Mba Yanti harus pulang kampung, dan kali ini, tidak kembali.

Bintang mengerti alasannya, ia tidak keberatan, awalnya. Hari-hari pertama terasa baik-baik saja. Ia bangun, berangkat kuliah, pulang sore, makan seadanya, lalu tidur. Rutinitas itu berjalan tanpa banyak gangguan, sampai ia mulai menyadari hal-hal kecil. Seperti betapa sunyinya rumah ketika malam datang, atau bagaimana suara langkah kakinya sendiri terdengar lebih jelas dari biasanya. Atau kebiasaan memeriksa pintu dua kali sebelum tidur, hanya untuk memastikan semuanya benar-benar terkunci. Bintang tidak pernah menganggap dirinya penakut. Ia hanya lebih berhati-hati.

Bundanya sering menelepon, menanyakan hal yang sama berulang kali. Sudah makan atau belum, sudah pulang atau belum, aman atau tidak. Bintang selalu menjawab dengan nada yang sama, ringan, singkat, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Aman, Bun. Keadaan di rumah juga biasa aja"

Padahal, tidak ada yang benar-benar biasa ketika seseorang mulai tinggal sendirian. Ada malam-malam ketika Bintang duduk di ruang tengah sambil menyalakan televisi, bukan untuk menonton, tapi supaya rumah itu tidak terlalu sunyi. Ada saat-saat ketika ia sengaja menunda tidur, hanya karena tidak ingin berbaring di kamar dan mendengar kesunyian terlalu lama.

Dua kamar kosong di lantai atas jarang ia buka. Pintunya selalu tertutup, bersih, tidak berdebu. Seolah menunggu sesuatu, atau seseorang, tapi Bintang tidak pernah memikirkannya terlalu jauh, ia merasa belum butuh siapapun. Setidaknya, itu yang ia yakini. Sampai suatu hari, pembicaraan dengan Bundanya berubah arah, bukan lagi tentang keamanan dan jadwal kuliah, tapi tentang rumah itu sendiri, tentang dua kamar yang tidak pernah di pakai, tentang kemungkinan memiliki teman tinggal bersama.

Awalnya Bintang ragu. Bukan karena tidak suka orang lain, tapi karena ia sudah terlalu terbiasa dengan ritme hidupnya sendiri. Namun hidup jarang bertanya apakah seseorang siap atau tidak. Keputusan itu datang pelan, hampir tanpa terasa, dan Bintang tidak tahu saat ia menyetujuinya, hidupnya akan diisi oleh lebih banyak suara, lebih banyak cerita, dan lebih banyak perasaan yang tidak ia rencanakan sebelumnya. Untuk saat ini, Bintang masih sendiri di rumah itu. Masih menjalani hari-harinya seperti biasa, masih mengira bahwa hidupnya akan berjalan datar dan tenang seperti ini untuk waktu yang lama. Ia belum tahu, rumah itu sebentar lagi akan terasa berbeda.


HomeStories to obsess over. Discover now