Something In the House

886 58 10
                                        

Ada sebuah waktu dalam sehari ketika dunia terasa berbeda. Bukan pagi, bukan siang, dan bukan pula malam. Sebuah jeda sunyi di antara napas kehidupan, ketika sesuatu yang tak terlihat mulai bergerak di sudut-sudut gelap.

Sebagian orang menyebutnya kebetulan. Sebagian lagi menyebutnya imajinasi. Namun bagi mereka yang bisa melihat… Itu adalah peringatan.

Bahwa dunia manusia tidak pernah benar-benar kosong.

Apa kamu percaya pada hantu?
Apa kamu percaya bahwa manusia yang telah mati bisa kembali… bukan sebagai manusia, tetapi sebagai sesuatu yang lain?

Pertanyaan itu selalu memunculkan dua kubu. Mereka yang percaya, dan mereka yang menertawakannya. Dan tak apa.
Semua orang bebas dengan keyakinannya masing-masing.

Namun bagi seorang gadis berusia tujuh belas tahun bernama Shani Raveline Kwong, bertemu dengan hantu, jin, atau iblis bukanlah cerita menyeramkan yang didengar sebelum tidur. Itu adalah bagian dari hidupnya. Bukan karena dia mempelajari ilmu paranormal. Kemampuan itu datang begitu saja, sebuah bakat turun-temurun dari garis darah ibunya. Kemampuan untuk melihat mereka.
Dan terkadang… berbicara dengan mereka.

.

.

"Udah kamu cek semuanya?" Seorang gadis tinggi dengan kulit pucat berdiri di samping mobil, kedua tangannya menenteng tas besar.

"Udah. Kamu masuk aja duluan, Chik." jawab Shani tanpa menoleh. Ia masih sibuk mengobrak-abrik isi tasnya yang baru saja diturunkan dari mobil.

Chika mengangguk pelan sebelum berjalan menuju rumah.

"Haish… mana sih bukunya…" gumam Shani kesal.

Hari itu adalah hari pertama mereka pindah ke rumah baru. Sebenarnya, rumah itu bukan benar-benar baru. Rumah itu adalah rumah lama milik nenek mereka yang berada di pinggiran kota.

Alasan kepindahan mereka cukup sederhana. Indah. Adik bungsu mereka bersikeras pindah sekolah ke sekolah yang lebih bagus, yang sayangnya berada jauh dari rumah lama mereka. Mau tidak mau, mereka pun ikut pindah.

Shani sebenarnya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ralindah Pharita Kwong adalah adik kandungnya. Sedangkan Chika… adalah saudari tiri mereka.

Setelah kematian ibu Shani ketika ia berusia sepuluh tahun, tiga tahun kemudian ayah mereka menikah lagi dengan seorang wanita yang telah memiliki seorang anak perempuan. Katarina Yessica Jhoel.

Meski tidak memiliki hubungan darah, Kwong Sister dan Chika tumbuh seperti saudara kandung. Mereka saling melindungi satu sama lain.

Shani masih saja menggerutu sambil membongkar tasnya. Pintu mobil terbuka perlahan. Seorang gadis kecil dengan wajah mengantuk turun sambil memeluk boneka kelinci putihnya. Indah menguap lebar, lalu berjalan menghampiri kakaknya dengan langkah sempoyongan.

"Kak… Nyari apaan sih?" tanyanya dengan suara serak karena mengantuk.

Shani menoleh.

"Buku harian kakak ilang."

Indah langsung berjongkok di sampingnya.

"Kakak yakin udah masukin ke koper?"

"Udah, ndah. Bahkan kakak ngecek dua kali," jawab Shani frustrasi. "Tapi sekarang nggak ada."

Indah ikut membantu membuka beberapa tas.

Buku harian itu bukan buku biasa. Di dalamnya ada catatan-catatan penting. Termasuk gambar-gambar makhluk yang pernah Shani lihat. Dan yang paling penting…
Buku itu adalah hadiah terakhir dari ibunya.

MIDNIGHT \ SHANCHIK VER.Stories to obsess over. Discover now