6. Di Enam Belas

6 0 0
                                        

Jumat, 6 Maret

°
°
°

Babak II — hari ke-1

Prompt: Sebuah pesan tanpa pengirim.

Prompt: Sebuah pesan tanpa pengirim

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

“Gendis,”

Suara Arlan memecah konsentrasiku yang sedang menyusun telur di kulkas. Dia baru masuk, memakai seragam sekolah yang sudah rapi — membawa sebuah bingkisan di tangannya.

Aku menyelesaikan pekerjaanku, menutup kulkas, lalu menghampiri Arlan.

“Tante Ita sama Vian mana?” tanya Arlan.

“Ke warung,” jawabku, merapikan seragam.

“Nih,” Arlan menyodorkan bingkisan di tangan kanannya padaku. “Selamat tua,” lanjutannya, tersenyum tipis.

Aku tertawa malu, tapi tetap mengambil pemberiannya dengan senang hati, “Makasih, A.”

“Udah makin tinggi ya, Dis. Dulu cimit, cuma segini,” Arlan berujar, menggerakkan tangannya ke bawah, sebatas pinggangnya.

Aku terkekeh, menunjuk wajah Arlan, “Aa juga udah ada kumisnya tuh.”

Arlan sontak memegang kumis tipisnya, kamu terkekeh tanpa membalas apa-apa.

“Oh ya, ini tadi ada di depan pintu. Siapa tau punya lo.”

Aku menunduk, melihat kertas kusam yang terlipat rapi, yang Arlan sodorkan.

Aku mengernyit heran, “Surat?” gumamku pelan, mengambilnya dari Arlan.

Aku buka surat itu, dan guratan di keningnya semakin dalam ketika membaca isinya.
  

ꦠꦲꦸꦤ꧀ ꧑꧖.
ꦥꦤ꧀ꦗꦼꦤꦼꦔꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦁ ꦱꦼꦥꦶꦱꦤ꧀,
ꦱꦲ ꦥꦤ꧀ꦗꦼꦤꦼꦔꦤ꧀ ꦒꦝꦃ ꦲꦲꦸꦫ ꦥꦸꦤꦶꦏ.
ꦥꦶꦪꦩ꧀ꦧꦏꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ ꦚꦼꦫꦲꦏꦺꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦗꦼꦤꦼꦔꦤ꧀
ꦝꦠꦼꦁ ꦲꦸꦭꦸꦤ꧀
ꦲꦶꦁ ꦮꦺꦏ꧀ꦢꦭ꧀ ꦥꦸꦁꦏꦱꦤꦶꦥꦸꦤ꧀.

  
“Kenapa, Dis?” tanya Arlan.

Aku menunjukkan surat itu pada Arlan, “Aku udah dua kali nerima barang tanpa pengirim kaya gini.”

Arlan mengambil alih surat itu, memiliknya dengan seksama. Namun, nampaknya ia tak berhasil membaca isi surat tersebut. “Ini bahasa Jawa?” tanyanya.

Aku mengangkat kedua bahu, “Enggak tau. Tapi aku paham isinya.”

Arlan mendongak, menatapku cukup lama. Lalu, dengan nada yang ragu, Arlan bertanya, “... apa?”

Aku kembali mengambil surat itu dan mulai membacakan artinya, “Tahun enam belas. Kamu yang pertama, dan kamu memiliki aura itu. Dia telah menyerahkanmu kepadaku ... pada waktu terakhirnya.”

Arlan mengernyit, “Maksudnya apa?”

Aku menggeleng, tanda tak tahu. Tapi sejak tadi, hidungku mencium aroma kayu manis yang kuat, seolah membekapku dengan asapnya.

“Aa cium aroma kayu manis enggak?” aku bertanya, memastikan bahwa bukan hanya aku yang menciumnya.

Tapi ternyata Arlan menggeleng. “Lo cium itu?” dia bertanya.

Aku tak menjawab, hanya diam menatap kertas di tangan. “Aa percaya, kalau aku cerita hal aneh?” tuturku, pelan.

“Coba aja.”

Aku menoleh pada Arlan, menatapnya sepersekian detik, sampai akhirnya aku menceritakan pasal selendang hijau itu.

“Udah aku buang dua kali, tapi dia balik lagi. Aroma ini, sering muncul sama bisikannya. Bahasa dia, aku paham meski enggak pernah tau.”

Arlan mengangguk-angguk, mendengarkan ceritaku.

Aku berhenti sejenak, memiringkan kepala, menelisik ekspresi Arlan. “Aa enggak percaya ya?” tanyaku hati-hati.

Arlan hanya mengangkat kedua bahunya singkat, tanpa mengucap apa pun.

“Oh, apa karena kelamaan di kota ya, makanya Aa kurang percaya sama hal kaya gini? Tapi aku enggak bohong, A —”

“Enggak,” Arlan menepis. “Mama pernah diguna-guna sama selingkuhan Papa. Makanya, kita pindah lagi ke sini,” ungkapnya, berbicara santai.

Rahangku terbuka sedikit, terkejut dengan cerita Arlan. “Serius, A?”

Arlan berdeham, membenarkan tasnya yang melorot, “Lebih seram itu ketimbang cerita lo.”

Ia sempat memberi jeda, sebelum kemudian memegang kedua pundakku, “Tenang, Dis. Ada gue. Nanti gue slepet setannya kalo berani ganggu lo sampe berlebihan.”

Aku tertawa pelan, menutup mulutku menggunakan telapak tangan. Ucapan Arlan menurutku lucu — dan mungkin menimbulkan perasaan aman.

Ambara Biru 🦋

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ambara Biru 🦋

ENAM BELAS [ END ]Where stories live. Discover now