Jam 12:00 kini jadwal pulang siswa SMA Purnama Angkasa. Biasanya jadwal pulang siswa SMA Purnama Angkasa pukul 16:00. Namun, karena hari ini hari pertama ujian semester satu, anak-anak pulang lebih cepat dari biasanya.
"Vandra, lu yakin langsung ke rumah sakit? Mampir dulu lah ke warung beli makanan atau minuman. Noh muka lu, makin pucat gue lihat"
Rafasya atau Rafa, teman dekat Kaevandra berucap sambil memandang khawatir kearah Kaevandra yang berjalan di sebelahnya.
Kaevandra menggeleng sambil tersenyum tipis. "Udah gue bilang, Fa, gue gak bawa uang untuk beli makanan. Dan gue sekarang gak bisa berlama-lama, gue harus segera jaga adik gue di rumah sakit"
Rafa menghela napas kasar. "Yaelah kenapa harus lo terus sih yang jagain adek lo itu? Nyokap lu sesibuk apa sih sampai gak bisa jaga adik lu?"
"Nyokap gue kan sibuk di butik, Fa. Dah lah, gue duluan yaa. Assalamualaikum"
Tanpa menunggu balasan dari Rafa, Kaevandra melangkah keluar gerbang, meninggalkan halaman SMA Alaska.
Jarak rumah sakit yang akan ia tempuh tak jauh dari sekolah nya, hanya sekitar 10 menit. Jadi, Kaevandra hanya perlu berjalan kaki. Meskipun dekat, Kaevandra tetap merasa lelah untuk berjalan kaki, selain karena matahari yang terik di jam 12 siang, ia juga lemes karena sedari pagi belum makan, hanya minum air putih sebelum berangkat sekolah. Ditambah lagi, tadi malam ia menerima hukuman dari sang Ayah karena ia cepat tidur tidak belajar untuk ujian. Kini ia juga memikirkan apakah tadi soal-soal yang ia kerjakan di kertas ujian itu benar? Atau banyak kesalahan?
Di kelas tadi Kaevandra tidak terlalu fokus mengerjakan tugas ujiannya, ia sangat mengantuk dan lemes karena begadang dan tidak sarapan. Ah, kini kepala Kaevandra begitu berat memikirkan hasil jawaban dan nilai ujiannya.
***
Pintu nomor 21 dibuka pelan oleh Kaevandra. Didalam ruangan putih dengan berbagai alat itu, ada sang adik yang tidur diatas kasur. Shaka menoleh melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. "Abang..." Ucap Shaka dengan lirih, bibir pucat nya melengkung membentuk senyuman.
"Dek, maaf, Abang telat datangnya. Baru selesai ujian tadi. Gimana tadi cuci darahnya? Aman? Ada yang sakit? Maaf Abang gak temenin adek cuci darah"
Shaka tertawa pelan mendengar ucapan sang Abang yang begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Bang Evan santai ajaa, seperti biasa kok, adek lemes, sempat muntah-muntah juga tadi. Sekarang udah aman kok, Alhamdulillah. Udah lah, Bang, jangan terlalu dipikirkan kondisi adek, adek sekarang justru khawatir juga nih sama Abang, muka Abang kok pucet sekali?"
Shaka menyadari wajah Kaevandra yang tampak pucat dan kelelahan. Kaevandra tidak menggubris pertanyaan Shaka, ia sibuk menuangkan air dari teko ke gelas. Tangan itu sedikit bergetar dengan gerakan yang lemah. Shaka yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya.
"Dek, Abang bantu duduk ya? Minum dulu, perut kamu kosong kan sehabis muntah tadi?"
Shaka mengangguk pasrah. Kaevandra dengan gerakan yang agak pelan mengangkat tubuh Shaka untuk mengubah posisi tidur menjadi duduk. Dengan hati-hati Kaevandra membantu Shaka memegangi gelas itu, sampai air pada gelas itu habis.
Ketika Kaevandra menaruh kembali gelas dinakas samping kasur Shaka, tangannya hampir saja melepas gelas kaca itu yang belum bersentuhan dengan meja, hampir saja gelas itu jatuh kelantai. Perut Kaevandra tiba-tiba terasa sangat sakit membuat gerakannya semakin lemah. Kaevandra meletakkan gelas kaca itu dengan hati-hati, lalu ia duduk di kursi samping kasur Shaka.
Tangan kanannya reflek meremas sprei kasur, dan tangan kirinya meremas perutnya yang sakit. Shaka tentu terkejut melihat Abang nya yang tiba-tiba kesakitan.
YOU ARE READING
Dalam rumah yang tak ramah
General Fiction[DILARANG COPY ATAU PLAGIAT!!] "Evan, kamu itu harus kuat, bisa melindungi, menjaga, dan memberi contoh yang baik pada adik-adik mu. Kamu tidak boleh lemah. Kamu harus jadi anak yang pintar, harus rangking satu dan juara di sekolah. Kamu harus serba...
