Suara ketukan sepatu pantofel dengan lantai terdengar di pendengaran seorang wanita yang sedang memasak di dapur dengan membelakangi pintu dapur
Ia sudah tau siapa pemilik ketukan sepatu itu, tanpa berbalik ia telah mengenalinya.
Ya, itu suara sepatu sang suami yang baru saja pulang dari kantor tempat suaminya itu bekerja.
Dengan senyum yang tidak pernah luntur wanita itu berbalik dan menyambut kepulangan sang suami.
"Kau sudah pulang?"
Pertanyaan itu tidak segera di balas dan itu sudah biasa.
"Mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita makan."
Lagi-lagi hanya diam.
Tidak tau lagi wanita itu melakukan apa, terasa canggung jika hanya keheningan di antara mereka. Tapi, tak berapa lama pria yang berada di hadapannya segera melangkah ke arah lantai dua di mana kamar mereka terletak.
Sepeninggal pria itu, sang wanita menghembuskan nafas leganya.
"Astaga Ainun, itu rasanya canggung sekali. Tidak bisakah cari topik yang lain saja?"rutuknya pada diri sendiri
"Apakah setiap hari akan seperti ini?"
Dengan mata mengarah ke lantai atas tepat di pintu berwarna putih, ia bertanya pada diri sendiri.
***
Dentingan sendok beradu dengan piring menghiasi keheningan di antara sepasang suami istri yang sedang makan dalam diam.
Wanita yang duduk tak jauh dari sang suami mencuri-curi pandang ke arahnya.
Ingin mengajak cerita tapi kata-kata yang ingin keluar tertelan terikut dengan nasi. Lebih tepatnya ia tak berani bersuara
Tak lama pria itu meletakan sendok dan garpunya secara perlahan dan menarik selembar tissue dan membersihkan sisa-sisa makanan di area bibirnya.
Tatapan mereka bertemu, segera saja wanita itu menunduk, malu kerena tertangkap basah telah memandang pria di depannya.
"Anita akan ke sini besok, dia akan menginap kerena bibinya ke luar kota."
Suara bass milik suaminya terdengar dan mengejutkan wanita yang duduk dengan kepala menunduk.
Makanan mereka telah habis dan mereka akhirnya bisa mengeluarkan suara.
"Mengapa harus menginap di sini?"tanyanya dengan suara yang begitu kecil tetapi masih bisa tertangkap oleh pria yang duduk tak jauh darinya.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?"tanya sang suami balik, nadanya terdengar lebih dingin tak bersahabat.
"Aku tidak suka bila ada yang mencampuri urusanku, niat Anita hanya menginap beberapa hari sampai bibinya datang."
"Tapi kan, dia bisa menginap di hotel atau apartemen."
Entah keberanian dari mana Ainun dapat membalas perkataan pria di hadapannya tersebut. Lagi, dia melirik ke arah pria di depannya, tatapannya begitu tajam.
Mungkin tidak tau lagi membalas apa, jadi pria itu memilih diam.
"Aku hilang, tidak perlu kau mencampuri urusanku Ainun!" Tegasnya
"Jangan kau mengira kau sudah di terima sebagai nyonya di rumah ini. Walaupun pernikahan kita telah berjalan selama satu tahun."
"Aku tegaskan, kau bukanlah nyonya di rumahku. Sampai kapanpun aku tidak pernah menerimamu sebagai istriku."
Setelah mengucapkan hal yang menyakitkan seperti itu, pria dengan nama Prasahadja Baratomo itu pun meninggalkan meja makan dengan wanita yang hanya bisa menunduk dengan air mata menumpuk siap mengalir di pipi mulusnya
***
Siang ini entah apa yang ingin di lakukan oleh Ainun, rasanya begitu membosankan.
Semua pekerjaan rumah sudah ia kerjakan, ingin membuat brownies. Tapi, persediaannya sudah habis.
Sendirian seperti ini sudah biasa baginya.
Memandang ke arah smartphone yang tergeletak di sebelahnya tidak membuat ia berminat untuk menyentuh. Toh, tidak ada yang sekedar memberinya pesan.
Lagi-lagi ia membuang nafas dengan kasar.
"Bosan."keluhnya
"Siaran TV pun tidak ada yang seru, malas."ucapnya lagi, melorotkan badanya di atas sofa.
Tak lama suara deringan notifikasi handphone mengalihkan atensinya
"Sebentar lagi Anita akan datang, jika dia mencariku, katakan kalau aku masih ada urusan di kantor."
YOU ARE READING
takdir cinta
ChickLitBanyak sebagian orang mengatakan menikah adalah suatu kebahagiaan bagi setiap umat. ya itu memang benar. Tapi, itu suatu kebahagiaan bagi yang memilih pasangan yang tepat. Menikah, bahagia, memiliki anak dan menua bersama sampai ajal menjemput tetap...
