Prolog

24 6 6
                                        

Katanya, Shanghai adalah kota seribu cahaya. Dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di tengah kota. Terutama The Bund, Shanghai.

Tapi bagiku, Shanghai adalah tempat dimana waktu dan penyesalan itu berhenti mengejarku. Tempat dimana aku bisa bernafas dengan lega tanpa harus menyimpan kata 'andai saja'.

Empat tahun yang lalu, aku adalah gadis yang terjebak dalam labirin digital. Terjebak antara rasa kasihan yang aku kira itu adalah perasaan yang benar. Terjebak dalam rasa aman dan nyaman yang aku kira itu hanyalah kasih sayang seorang kakak pada adiknya.

Saat itu aku bodoh, bodoh karena rasa kasihan yang terlalu berlebihan membuatku salah mengira rasa. Aku pengecut, aku takut mengakui kalau aku mencintai orang yang selama ini sudah aku anggap kakak karena rasa aman dan nyaman yang dia berikan.

Aku bahkan tidak menyadari bahwa rasa aman dan nyaman itu adalah perasaan cintaku. Lalu, komunikasi itu putus. layar ponsel menjadi dingin dan sunyi tanpa notifikasi yang muncul setiap hari diatasnya. Tanpa suara yang selalu mengeluarkan kata-kata yang berhasil menenangkan keriuhan diduniaku. Tanpa alunan musik tenang yang selalu dia putarkan.

Aku pikir, setelah komunikasi itu putus tanpa kejelasan, setelah melewati malam-malam panjang dengan kata 'Andai' yang selalu bersarang dikepalaku, semuanya akan berakhir. Aku dan dia, tidak akan pernah menemukan penutupan. Aku pikir, aku akan selamanya terjebak dalam rasa bersalah karena pada waktu itu, aku tidak memiliki cukup keberanian untuk mengakuinya.

Aku selalu memaksakan diriku mengira itu semua hanyalah perhatian seorang kakak pada adiknya. Perasaan bergantung yang aku rasakan hanyalah perasaan biasa yang dirasakan adik pada kakaknya. Tapi, tidak begitu. Takdir itu selalu menemukan jalannya untuk menyatukan insan yang memang sudah ditakdirkan bersama.

Disinilah aku berada. Di bawah langit biru kota Shanghai, The Bund. Memandangi aliran sungai Huangpu yang tenang. Dengan aroma sejuk sungai yang tertiup oleh angin menyapa wajahku dengan sangat angunnya.

"Hai, Turtle. Long time no see"

Mataku yang semula terpejam, kini menampakkan sepasang mata coklat yang diterangi oleh cahaya matahari. Suara yang begitu aku rindukan selama empat tahun ini, kini kembali terdengar.

Perasaanku terasa sangat campur aduk. Seluruh badanku menegang, seperti baru saja terbangun dari mimpi selama bertahun-tahun. Perlahan, aku membalikkan badanku.

Itu Kala.

Aku menatapnya sangat lama. Pria yang selalu membayang-bayangi pikiranku, kini berdiri di seberang jalan. Memandangiku dengan matanya yang teduh, dan senyumannya yang tidak pernah berubah.

Rasanya, mataku mulai berembun. Setelah sekian lama tidak ada komunikasi, takdir mempertemukan kami kembali di bawah langit biru kota Shanghai. Pria yang awalnya hanya bisa aku lihat di antara jajaran pixel di dalam kamar luas yang sendu, kini bisa aku tatap secara langsung.

Mereka memang benar. Shanghai adalah kota seribu cahaya. Karena cahayaku, memang berada disini.

"Hai, Kala"

Aku menarik sudut bibirku dengan susah payah. Rasanya senang, sedih, rindu, semuanya bercampur menjadi satu. Aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi yang pasti, cahayaku sudah kembali aku temukan.

-To Be Continue-

Riuh dan Tenang yang JauhStories to obsess over. Discover now