Retakan dalam kemegahan

8 4 0
                                        


​Ruang tamu yang biasanya tenang itu kini terasa mencekam, seolah oksigen telah dihisap keluar. Agra berdiri di sana, sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan gelap di bawah lampu kristal. Napasnya memburu, matanya yang tajam bak elang kini merah menyala oleh amarah yang tak terkendali.

​"Kamu tahu? Gara-gara kamu, saya gagal mendapatkan proyek itu!" Suaranya menggelegar, memantul di dinding marmer. Tangannya mencengkeram lengan Erine dengan kuat, seolah ingin menyalurkan rasa frustrasinya yang meledak.

"Saya rugi miliaran, Erine! Milyaran!"

​Erine terkesiap, rasa sakit di lengannya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Ia hanya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, tak mampu membela diri di bawah tekanan emosi yang begitu destruktif.

​"Kenapa kamu terus membuat saya kesal, hm? Kalau saya tidak disuruh pulang oleh Mama gara-gara kamu, proyek itu sudah di tangan saya!" Agra membentak lagi, suaranya parau oleh kebencian yang sesaat menutup logika.​Puncak Ketegangan

​Ketegangan itu berpindah ke lorong sempit. Agra memojokkan Erine ke dinding, tubuhnya yang besar mengintimidasi. Erine, yang sudah mencapai batas kesabarannya, berteriak membalas.​"Bahkan aku tidak pernah ada niatan untuk membuatmu berhenti bekerja!" Suara Erine pecah. Ia mendorong dada Agra dengan sisa tenaganya. "Tapi memangnya harus aku yang disalahkan? Aku capek dibentak terus setiap kamu pulang! Kamu bahkan tidak mengatakan cinta padaku... yang kamu pedulikan hanya angka!"

​Agra tertegun. Dorongan itu membuat langkahnya mundur satu langkah. Dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Amarah yang tadinya membara tiba-tiba padam, digantikan oleh rasa sakit yang asing namun jauh lebih tajam.

​"Cinta?" Agra berbisik pelan. Suaranya retak seperti kaca tipis di bawah tekanan. "Saya pikir... setiap kali saya pulang ke rumah ini, itu sudah cukup membuktikan segalanya."​Ia memegang dadanya sendiri, seolah ada rasa nyeri fisik yang nyata di sana. "Setiap malam saya lembur, setiap proyek saya kejar... itu bukan untuk jabatan. Tapi kamu... justru membuat saya meragukan semuanya."

​Keheningan yang Menghancurkan​Erine tidak ingin mendengar lagi. Tanpa sepatah kata pun, ia memutar tubuh dan melangkah pergi. Langkahnya tegas, namun hatinya hancur berkeping-keping. Pintu kamar terbanting menutup di depan wajah Agra.

​Agra berdiri membeku di lorong yang sunyi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang dikenal dingin dan tak terkalahkan ini merasa kehilangan kendali. Bukan atas bisnisnya, melainkan atas satu-satunya alasan ia bertahan: istrinya.

​Ia berjalan gontai, kakinya terasa berat hingga akhirnya ia sampai di depan pintu kamar Erine. Agra menyandarkan kepalanya pada pintu kayu yang dingin itu, matanya tertutup rapat.​"Jangan..." bisiknya serak, nyaris tak terdengar seperti doa yang hampir putus. "Jangan tinggalkan saya sendiri."

​Tangan yang tadinya mengepal kuat kini bergetar hebat. Ia perlahan merosot, duduk di lantai dengan punggung menempel ke dinding di samping pintu kamar mereka. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, namun setiap embusan napasnya terasa seperti pedang yang tertanam di dadanya.

​"Saya... saya tidak bisa hidup tanpa melihat wajah kamu tiap pagi..."​Di balik pintu yang tertutup, keheningan Erine menjadi hukuman paling berat bagi Agra. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menghilangkan sisi lemahnya, namun tangannya terus bergetar.

 Sang "Penguasa Bisnis" itu kini hanyalah seorang pria yang hancur, terduduk di lantai lorong rumahnya sendiri, menunggu sebuah ampunan yang entah kapan akan datang.

Retakan Cinta di Balik AmbisiStories to obsess over. Discover now