01

7 0 0
                                        

~✯✿✿✿✯~
Chapter 1 - Maukah Kau Menikah Denganku?


Entah bagaimana akhir dari perdebatan antara Inspektur Thiertha dan ibunya hari itu, yang pasti tiga hari kemudian Mangkon sudah berdiri di halaman kantor polisi Chiang Mai.

Sersan polisi berwajah tampan ini mendapat surat perintah pindah mendadak, tepat tiga hari setelah Gearthian kembali ke Chiang Mai. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa waktu untuk berkemas. "Mendadak" berarti harus pindah seketika, dengan alasan membantu kekurangan personel sementara.

Ia masih berdiri bengong, wajahnya penuh kebingungan abadi. Begitu melangkah masuk, para perwira lain menyapanya ramah. Mangkon resmi menjadi "anggota baru" sekaligus yang paling muda di kantor ini.

"Aku Kapten Pol Nadol. Panggil saja P'Nadol, Mangkon."

"Namaku Makham, sayang. Aku di bagian pendaftaran."

Sebenarnya Mangkon sudah cukup mengenal beberapa perwira di sini karena pernah bekerja sama. Ada pula yang baru pertama kali bertemu. Ia menganggap ini kesempatan menjalin relasi baru.

"Sebenarnya kami tidak kekurangan orang," kata Nadol. "Aneh sekali pemindahan Mangkon ini begitu mendadak."

"Itu yang aku pikirkan juga, Pak. Aku masih sangat bingung."

Namun ada satu dugaan yang terus menggelayut di benaknya: perintah itu datang dari Jenderal Parinya, ayah Inspektur Gearthian.

Dan apa hubungannya?

Jika Khunying Pharada, istri sang jenderal, memanfaatkan posisinya untuk memerintahkan suaminya memindahkan Mangkon agar dekat dengan putra kesayangannya, bahkan mengatur pernikahan, kemungkinan itu sangat besar.

"Mungkin kita terlalu berpikir," gumam Mangkon pelan pada dirinya sendiri.

"Ngomong apa sih?"

"Inspektur Thiertha!"

Tangan yang menepuk bahunya yang bidang membuat pemiliknya langsung melonjak. Serentak terdengar suara hormat dari seluruh penjuru, karena kantor polisi Chiang Mai memang jauh lebih besar daripada kantor polisi Mae Sai.

"Maaf merepotkan."
Karena perbedaan tinggi yang mencolok, pria yang lebih tinggi itu membungkuk dan berbisik lembut tepat di samping telinga putih Mangkon.

"A-apa maksudnya?"

"Tentang pernikahan."

Kalimat itu langsung menjernihkan semua keraguannya. Tebakannya tidak meleset sedikit pun. Apakah ini yang disebut penyalahgunaan wewenang?

"Khunying serius soal ini?"

"Benar-benar serius." Entah benar atau tidak, Mangkon sudah berada di sini. Ia tahu betul sifat ibunya.

"Ekhem."

Inspektur muda itu berdehem untuk menarik perhatian semua orang. Punggung Gearthian tegak bagai raja, matanya menyapu sekeliling sebelum memperkenalkan kembali anggota pindahan sementara itu.

"Sersan Pol Mangkon akan bekerja bersama kita untuk sementara waktu. Mohon dukungan dan bantu ajari dia pekerjaan di sini."

"Terima kasih."

Mangkon tidak terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian. Wajah tampannya yang tadinya putih perlahan memerah, membongkar satu rahasia: ia tidak suka menjadi sorotan.

Mata hitam legam itu memandang perwira muda dengan penuh kehangatan sebelum melanjutkan,

"Sementara ini Mangkon akan membantu pekerjaanku. Lenganku belum bisa diajak bekerja sama."

02Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang