~✯✿✿✿✯~
"To be or not to be..."
(“Ada atau tiada...”)
Dari drama 'Hamlet' karya William Shakespeare
•
•
•
Banyak alumni dari angkatan sebelumnya, saat kembali berkunjung ke sekolah, selalu mengatakan hal yang sama: "Seni tetaplah seni- ia tak akan pernah berubah."
Jika kita harus mendefinisikan mahasiswa fakultas ini dengan cara yang paling akurat, kita akan bilang bahwa mereka adalah sekelompok manusia eksentrik yang bergairah terhadap seni, tapi pikiran mereka sebagian besar berputar di sekitar makanan dan... yah, hasrat-hasrat tertentu. Kedengarannya seperti tuduhan yang kasar, generalisasi, dan bias, tapi jika ditanya apakah itu salah... mungkin salah satu mahasiswa seni harus berdiri dan membela diri mereka sendiri.
"Pernah balikan sama mantan nggak, Phi?"
Pertanyaan dari host-seorang influencer generasi muda-langsung mengenai Jack dengan keras. Pria muda bertubuh tinggi dengan bahu lebar dan fitur wajah tajam itu membeku sejenak. Ia memutar tubuhnya untuk memeriksa apakah kameramen-teman host-benar-benar sedang merekam video.
"Acara apa sih yang jelek banget ini, Nong?" Jack mengerutkan kening ke arah keduanya. "Kamu bilang mau tanya-tanya santai buat diposting di TikTok."
"Emang buat TikTok!" jawab influencer itu dengan wajah serius-meskipun siapa pun bisa melihat dia sedang menahan tawa, yang justru membuat Jack semakin marah.
"Aku nggak mau jawab pertanyaan kayak gitu."
"Ayo dong, Phi! Aku nunggu lama banget kamu mau datang ke acaraku!" protesnya.
"Kalau gitu tanya yang lain aja."
"Kalau aku nggak tanya hal-hal kayak gitu, apa kamu kira channelku bisa punya satu juta followers sekarang?" katanya dengan bangga, lalu mengangkat mikrofon nirkabel ke arah tamunya lagi. "Jadi? Mau jawab atau nggak, Phi Jack? Kalau nggak mau, aku tanya orang lain aja."
"Tunggu, tunggu, nggak perlu ngerayu aku, Nong," kata Jack, mencoba menenangkan situasi. "Nggak perlu."
"Ayo jawab! Cowok nggak boleh mundur dari kata-katanya."
Influencer itu membuat gerakan dramatis, menggelengkan kepala sedemikian rupa hingga membuat orang ingin menjentik dahinya. Dia sepertinya tidak peduli bahwa pria di depannya sedang merah karena marah, mengira itu efek alkohol yang disajikan di acara reuni alumni. Padahal sebenarnya, gelas Jack hanya berisi soda biasa.
"Oke, oke, aku simpen pertanyaannya buat nanti, Phi Jack. Kalau kamu balik lagi ke acaraku, jangan lupa kasih jawaban ya. Cewek-cewek setiap hari DM aku bilang mereka pengen interview sama kamu. Nggak enak dong kalau dibikin nunggu."
Dia mengedipkan mata kepadanya sebelum pergi-tapi tidak tanpa mengangkat ponselnya untuk selfie pakai kamera belakang bersama tamu spesial sebagai salam perpisahan. Cahaya flash menyilaukan, membuat Jack buta sejenak. Saat penglihatannya pulih, host dan kameramen setianya sudah lenyap ke dalam kerumunan acara 'Bye Seniors, Class 36'.
Musik dari panggung menggelegar saat itu, menarik perhatian Jack tepat saat penglihatannya kembali. Tapi pria muda itu menyilangkan tangan dan mengatupkan rahangnya erat, seolah kesal dengan seseorang yang sedang tampil di atas sana.
Kulitnya yang keperakan bercampur dengan warna kulit batang pohon beringin besar tempat ia bersembunyi dari kerumunan mahasiswa yang sedang pesta dan mabuk. Tapi momen kesendiriannya dengan segelas soda biasa tidak bertahan lama-ia diganggu.
Jack hampir kehilangan keseimbangan saat dua teman tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Ayo kita sorak buat Dean di depan panggung!" kata Tua, menariknya dengan percaya diri seolah bisa dengan mudah menyeret tubuh besar Jack dari bawah pohon. Tapi Jack bertahan dan memutar tubuh untuk menatap temannya dengan kesal yang jelas. "Ngapain sih aku sorak buat dia? Dia suka banget jadi pusat perhatian di setiap acara!" kata Jack sambil tertawa mengejek. "Dasar bodoh!" teriak Timmy saat mendekat bersama Tua, mendorong bahu lebar Jack dengan keras, cukup frustrasi hingga bibirnya secara alami melengkung membentuk huruf "M". "Malam ini jangan drama dong! Aku udah langgar sumpah nggak minum dan sekarang mabuk, oke? Ayo ke depan panggung!"
