Siang hari musim kemarau itu terasa menyengat. Langit atas sana senantiasa berwarna biru cerah dengan serat-serat putih tipis, sementara angin perlahan berhembus ringan di sepanjang jalan, lewat padang rumput hijau yang luas.
Tidak jauh, Wu Hao tampak bersandar sambil berbaring di bawah lindungan pohon rindang. Buku itu sengaja dia buat terbuka lalu lembarannya dibagi menjadi dua, agar tiap sisi bisa sama rata lalu dia letakkan di atas wajah.
Wu Hao terlahir dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di desa- baik ayah, ibu, dua saudara laki-laki dan tiga saudara perempuannya terbiasa pergi bertani dan berburu, demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.
Sebagai anak bungsu Wu Hao memiliki tekanan pekerjaan yang paling sedikit dibanding saudara-saudarinya.
Namun sebagai gantinya Wu Hao diberi sebuah tugas- mendengarkan anjuran sang ayah, selama bertahun-tahun ini dia belajar banyak hal mulai dari baca tulis, ilmu berhitung, ilmu hukum dan perang hingga puisi serta bait; semua itu dilakukan demi untuk mengikuti ujian kekaisaran sampai lulus menjadi pejabat yang dianggap bermartabat.
Mungkin kepala keluarga Wu terkesan memaksakan jalan untuk sang anak, ini karena dia yakin kalau Wu Hao di masa depan bisa mengangkat nama keluarga.
-----
Burung-burung nakal ternyata sedang mematuk tangan serta kepalanya tanpa alasan, dirasa sangat menyebalkan Wu Hao pun terpaksa menarik buku tepat di wajahnya; lalu mencoba mengusir mereka dengan mengibas-kibas buku seperti kipas, "Enyahlah!"
"Jika tidak ada buah di pohon, kenapa aku yang harus dipatuk!?" Gumamnya kesal sembari mengeluh.
"Wu-ge-"
Mendengar ada seseorang yang sempat memanggilnya Wu Hao cepat menoleh ke samping, terlihat seorang laki-laki sebayanya datang menghampiri dia.
"Wu-ge, kau sedang apa?"
Wu Hao kemudian membalas dengan menyipitkan mata serta ada perasaan acuh, "Apa yang bisa kulakukan? Tentu saja belajar...." Jawabnya.
Gao Fan lantas berbicara dengan penuh semangat, "Bagaimana kalau kita pergi ke kota Chang'an besok? Ada seorang orang hebat dari barat yang menantang seluruh petarung disana!"
Sontak raut wajah Wu Hao yang kusut itu berubah menjadi jauh lebih cerah, "Bukankah petarung dari daerah barat itu bertingkah terlalu sombong?"
"Hemm ... Hemm." Gao Fan pun ikut mengangguk setuju, "Dia bahkan belum tahu kalau petarung nomor satu kota Chang'an sendiri ada disini, sekarang."
"Jadi apa kau mau pergi kesana?"
"Berapa bayarannya?" Tanya Wu Hao sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Gao Fan.
"Lima ratus- Jika nanti hasil dari taruhannya pun bagus, setidaknya kita juga bisa bawa pulang seribu tael atau lebih!" Jawab Gao Fan dengan berbisik sambil menyeringai tipis.
Penuh percaya diri, Wu Hao ini bangkit lalu menepuk-tepuk bahu Gao Fan dan tertawa sekerasnya, "Hahahaha-"
"Xiao Gao, aku pasti akan langsung membawamu ke Restoran Bulan, lalu kita akan minum sampai puas!"
"Kota Chang'an dan seribu tael; Kami berdua datang!" Ungkap Wu Hao serta Gao Fan bahagia, saling merangkul sebelah sisi bahu masing-masing satu sama lain.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gao Fan sudah berdiri di depan pekarangan rumah keluarga Wu. Saat itu dia juga bertemu dengan putra sulung sekaligus kakak tertua Wu Hao, Wu Jingnan yang sedang mengasah pisau berburunya.
"Gao Fan, ada perlu apa pagi-pagi sekali datang kesini?"
"Ah- Kakak pertama." ucap Gao Fan kemudian menyeringai, "Kebetulan aku dan juga Wu-ge pergi ke kota Chang'an hari ini. Sepertinya dia membutuhkan sesuatu, mungkin."
"Aku memang mendengar Wu Hao mengatakan hal itu kemarin pada ibu; baiklah, kau bisa menunggunya disini."
"Wu Hao ... Gao Fan sudah datang mencarimu!" Lanjut Wu Jingnan, memanggil adiknya yang masih ada di dalam rumah.
Setelah itu Wu Jingnan yang sibuk tetap meneruskan pekerjaannya sedangkan Gao Fan menunggu, hingga beberapa saat kemudian muncul-lah sahabat dari masa kecilnya itu keluar, bersamaan dengan ibunya yang juga menyusul.
"Ibu, aku hanya pergi membaca buku di perpustakaan daerah; sama sekali tidak perlu uang sebanyak itu untuk dibawa."
Walau ditolak, Meijian- ibu Wu Hao masih tampak berusaha mendorong kantong uang yang dia pegang kepada sang anak, "Bagaimana bisa kau tidak perlu membeli buku itu setelahnya?"
"Ambil saja; Selain itu kau bisa membeli makanan di luar sana dengan uang ini."
Wu Hao tertegun sejenak. Dalam hati dia sedikit merasa bersalah karena dia sendiri tahu maksud dan tujuannya kali ini pergi ke kota, namun dia juga tidak cukup berani untuk mengatakan hal itu mengingat sang ibu juga sangat ingin melihatnya bisa lulus ujian kekaisaran.
"Ibu...." gumam Wu Hao lembut. "Tapi aku katakan sekarang juga- andai uangnya habis, maka saat itu jangan sampai ada yang menyalahkanku."
"Tidak akan." Jawab sang ibu yakin.
"Jika akan pulang terlalu larut, pakai uang tersebut untuk mencari sebuah penginapan." Lanjutnya.
"Kalau begitu kami pergi dulu, Bu." Jawab Wu Hao untuk berpamitan, lalu pergi dengan Gao Fan menuju gerbang depan desa.
Bila dihitung, jarak tempuh dari desa menuju ke kota Chang'an masih harus menempuh lama waktu sekitar sepuluh dupa; naik kereta pengangkut barang.
Tidak jauh, namun tidak dekat pula.
Bagi mereka hal itu sangat layak untuk dilakukan- terutama Wu Hao yang sebenarnya tidak ada orang ketahui, termasuk orang tuanya sendiri kalau dia adalah seorang petarung.
Seseorang yang belajar di berbagai bidang akademis akan menjadi seorang sarjana; namun jauh di lubuk hatinya, Wu Hao hanya bercita-cita menjadi seorang petarung hebat di luar sana.
Yang lebih mengejutkan adalah dia ternyata memiliki bakat bertarung di atas rata-rata, di usinya yang masih tergolong muda yakni 16 tahun, dia sudah memiliki pondasi jiwa beladiri sendiri dengan hanya bermodalkan buku latihan yang Wu Hao baca sekilas.
Bukan hanya itu, Wu Hao ini juga telah diakui sebagai petarung nomor satu di kota Chang'an- dia menyembunyikan identitasnya, jika pergi bertarung ke arena maka dia akan menggunakan sebuah topeng untuk menutupi wajah supaya kecil kemungkinan orang bisa mengenal dirinya.
Hanya ada satu orang yang mengetahui identitasnya sebagai seorang petarung, yakni Gao Fan, sahabat Wu Hao.
"Wu-ge, seberapa yakin kau menang kali ini?" Tanya Gao Fan.
"Jika petarung dari barat itu memang cukup terampil, mungkin aku butuh setidaknya dua puluh gerakan untuk menang." Jawab Wu Hao dengan raut wajah serius.
Gao Fan hanya bisa kagum dengan tingkat keyakinan Wu Hao, anehnya dia masih percaya kalau hal itu bisa jadi kenyataan, "Sepertinya masih belum ada seorang pun yang mampu untuk menggeser posisi nomor satu Wu-ge."
Mereka berdua kini sudah sama-sama yakin, pergi ke kota Chang'an untuk meraih kemenangan mutlak.
