Prolog

0 0 0
                                        

Kring

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kring..

Semua mata tertuju pada pintu yang baru saja terbuka menampilkan remaja laki-laki berusia kurang lebih dua puluh satu tahun memasuki area cafe dengan langkah gagah, netra laki-laki tersebut tertuju pada teman sejawat nya yang sedang melakukan aktivitas di balik meja bar. Tangan nya bertumpu pada meja bar untuk menopang tubuh nya, sedikit duduk di kursi tinggi namun kaki jenjang nya tetap menapak lantai.

Raka Alverio Shafiq Ananta, secerah cahaya rembulan dengan diri yang mulia penuh belas kasih tanpa batas, begitulah kira-kira doa dari orang tua Raka yang di sematkan pada arti namanya. Raka selalu merasa kemanapun ia pergi, ia terus membawa doa dan harapan kedua orang tua nya itu, meski ia sendiri pun tak tahu apakah doa tersebut terealisasikan dalam dirinya.

"Hai Rak" ucap Aryan— teman sejawat nya yang tengah asyik pada botol shaker stainless di tangan nya tanpa menengok pada lawan bicara yang ia sapa.

Hening kembali menyelimuti mereka berdua sebab Raka tak kunjung membalas sapaan Aryan, hanya ada suara samar beberapa customer saling bersahutan sedang berbincang.

Tidak ada raut wajah marah, Aryan sudah biasa menghadapi sikap cuek Raka. Raka pun kembali asyik menatap layar ponsel nya, mencari beberapa tutorial lalu memasukan nya kembali ke dalam saku celana.

"Rame hari ini yan?"

Aryan menoleh sebentar, "kayak yang lo liat aja"

Raka mengangguk singkat.

____________________

Raka berjalan menyusuri koridor kampus, hari ini ia selesai kelas lebih awal berencana rebahan di kamar sebelum pergi ke cafe. Dari ujung lorong tampak seorang wanita terburu buru, terkadang heels nya lepas karena ia tidak memakai nya dengan benar, sedikit berlari dengan beberapa tumpuk buku di genggaman tangan kiri nya.

Raka berhenti di tempat tak bergeming sesaat ketika perempuan itu menubruk diri nya, dengan satu tangan masih memegang tali tas ransel di bahu nya, raka mengulurkan tangan pada perempuan itu beberapa menit setelah si perempuan beres merapihkan buku-buku nya yang terjatuh.

Perempuan itu melihat keatas, kedua netra mereka saling bertemu. Lantas ia berdiri dengan sendiri nya mengabaikan uluran tangan Raka, Raka menarik tangan nya kembali dan tetap diam sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan lebih dulu.

"Maaf"

Langkah Raka terhenti.

"Gue minta maaf"

Raka berbalik badan, mendapati perempuan yang habis menabrak nya tersenyum lirih seolah merasa bersalah, wajahnya sedikit menutupi rasa takut entah takut akan apa.

Kadang-kadang menggaruk tengkuk, kadang-kadang membenarkan rambut, kaki nya pun tak tinggal diam, sampai mata si perempuan tertuju pada arloji merah muda yang melingkar di tangan nya, mata nya mendelik.

"HAAHHHHH JAM DUA BELAS??!!! MAMPUS GUE PASTI TELAT INI" ia bergumam sendiri.

Raka mengernyitkan dahi nya, memperhatikan perempuan itu sampai punggung nya hilang tertelan jarak, mata nya tertuju pada selembar kertas di lantai. Raka mengambil kertas tersebut namun enggan mengejar perempuan tadi sebab sudah pasti tertinggal jauh, Raka tidak ada waktu untuk mencari wanita seperti pangeran yang mengadakan sayembara mencari puteri yang kaki nya pas pada sepatu kaca.

Raka memasukkan lembaran kertas ke dalam saku, lantas raka melanjutkan pergi untuk pulang kerumah.

Senja KafetariaWhere stories live. Discover now