Manusia sering kali mengira dirinya pusat dari segala yang bergerak, seolah dunia berputar karena ia membuka mata setiap pagi. Padahal, ada hari-hari ketika aku merasa begitu kecil, seperti titik yang nyaris tak terbaca di antara hamparan peristiwa yang tak pernah meminta izin untuk terjadi.
Malam tadi, aku duduk sendirian di lantai kamar. Menyandarkan punggung pada dinding yang mulai kusam, mencoba memahami kenapa perasaan bisa begitu rumit tanpa sebab yang jelas? Jam di dinding menunjukkan pukul 20.08. Angka yang sederhana, tetapi terasa seperti penanda bahwa waktu terus melaju. Bahkan ketika aku berhenti berpikir.
Aku memikirkan betapa mudahnya kita menilai orang lain, dan betapa sulitnya kita menilai diri sendiri dengan jujur. Kita cepat menyimpulkan dari luar. Namun, gagap ketika harus menyelami ruang batin sendiri. Mungkin karena melihat ke dalam selalu lebih sunyi, dan kesunyian sering kali memperlihatkan hal-hal yang tak siap kita akui.
Aku teringat rumah lama yang memiliki delapan jendela besar menghadap halaman. Dari jendela-jendela itu, cahaya sore selalu masuk dengan cara yang berbeda. Ada yang terang memantul di meja makan, ada yang temaram menempel di dinding, ada yang hanya menyisakan garis tipis di lantai kayu yang berderit. Dulu aku berpikir semua cahaya itu sama, hanya variasi arah dan sudut. Kini aku sadar, seperti itulah manusia: terlihat serupa. Namun, membawa sudut pandang yang tak pernah identik.
Delapan jendela itu seperti delapan cara memahami hidup, dan aku belum pernah benar-benar mencoba melihat dari semuanya. Sering kali aku terpaku pada satu jendela saja, mengira itulah kebenaran tunggal. Padahal, mungkin cahaya yang berbeda hanya menunggu untuk disadari. Jika manusia mau sedikit berpindah tempat, sedikit merendahkan ego, mungkin ia akan menemukan bahwa dunia tidak sesempit keyakinannya sendiri.
Namun, semakin aku tumbuh, semakin terasa bahwa menjadi manusia bukan sekadar soal berpikir dan merasa. Ada beban yang tidak terlihat, ada sejarah yang melekat tanpa kita pilih, ada kenangan yang diam-diam mengendap seperti debu di sudut ruangan.
Kita membawa luka dari percakapan yang tidak selesai, dari harapan yang terlalu tinggi, dari kegagalan yang tak sempat kita maafkan. Kadang aku bertanya, apakah menjadi manusia berarti belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan terjawab? Atau justru belajar bahwa jawaban tidak selalu mengurangi beban?
Aku menyadari bahwa sebagian keresahan bukan untuk dihapus, melainkan untuk dipahami. Seperti simpul pada tali, ia mungkin tidak selalu harus dibuka; kadang ia hanya perlu dikenali agar tidak lagi melukai genggaman. Dalam perjalanan memahami diri, aku menemukan bahwa kemanusiaan bukan tentang menjadi kuat tanpa cela, melainkan tentang berani mengakui retak tanpa kehilangan arah.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa rapuh bukanlah aib. Di balik ketegaran yang sering kupamerkan, ada bagian dari diriku yang mudah retak hanya karena satu kalimat sederhana atau satu kenangan yang kembali tanpa permisi. Aku pernah berusaha keras terlihat kuat. Seakan-akan perasaan bisa disusun rapi seperti buku di rak dan diberi label agar tidak tumpah ke mana-mana, tapi semakin disusun, semakin terasa bahwa kekacauan justru bagian dari kemanusiaan itu sendiri.
Kita bukan mesin yang bekerja tanpa jeda; kita adalah makhluk yang bisa lelah, dan itu bukan kesalahan. Bahkan kelelahan pun adalah bahasa tubuh yang meminta dimengerti. Dalam sunyi, aku mulai berdamai dengan sisi yang selama ini kusembunyikan. Jika aku marah, itu karena aku peduli. Jika aku kecewa, itu karena aku berharap. Dan jika aku terluka, itu karena aku cukup hidup untuk merasakan.
Sering kali kita mengira kebahagiaan adalah tujuan akhir. Padahal, mungkin ia hanya persinggahan yang singkat sebelum perjalanan berlanjut lagi. Aku pernah mengejar banyak hal, pengakuan, pemahaman, bahkan pembenaran. Dan setiap kali mendapatkannya, selalu ada ruang kosong yang tersisa. Ruang yang tak terisi oleh tepuk tangan ataupun pujian. Seolah-olah manusia memang diciptakan dengan ruang yang tidak pernah sepenuhnya penuh. Bukan untuk menyiksa, melainkan agar kita terus mencari makna yang lebih dalam daripada sekadar pencapaian.
YOU ARE READING
Among Midnight Yells
Non-FictionTiga puluh malam. Tiga puluh percakapan dengan diri yang tak selalu jujur. Buku ini bukan tentang menjadi suci. Bukan pula tentang menjadi benar. Ia adalah perjalanan seorang manusia yang belajar mengakui retaknya sendiri, di antara sunyi, doa, tubu...
