"Aria, Natan, Papa mau ngomong sesuatu."
"Ada apa, Pa?" tanyaku pelan.
"Serius amat mukanya. Jangan bilang saham Papa turun." Canda Bang Natan.
Papa mendesah. "Ini bukan soal saham."
"Dengerin dulu yang serius." Mama menyikut lengan Bang Natan.
"Rumah warisan Papa yang di komplek perumahan itu… yang kemarin dikontrakkan… masa sewanya sudah habis."
Aku mengangguk pelan. Rumah besar itu emang jarang kami datangi. Lokasinya di komplek elit yang terkenal.
"Jadi?" tanya Bang Natan.
"Papa mau kalian berdua tinggal di sana sementara waktu." Papa menatap kami berdua bergantian.
"Tinggal? Maksudnya jaga rumah doang atau pindah sekalian?" Tanya Bang Natan.
"Jaga rumah. Sekalian tempati. Mulai besok."
"Besok?" suaraku spontan meninggi. "Pa, mendadak banget."
"Papa udah mikir ini dari lama. Rumah itu sayang banget kalau kosong. Selain itu, kalian udah cukup dewasa."
"Cukup dewasa sih iya. Tapi kenapa harus kami berdua?" Bang Natan mengusap dagunya.
"Karena kalian berdua yang paling bisa Papa percaya. Aria udah 20 tahun. Natan juga sudah kerja dan bisa tanggung jawab." Mama menimpali dengan suara lembut.
Aku menelan ludah. "Tapi… Mama sama Papa nggak ikut?"
Papa menggeleng. "Nggak. Papa dan Mama tetap di sini. Kalian cuma pindah sementara. Anggap aja belajar mandiri."
"Berapa lama, Pa?" Aku memeluk bantal kecil di pangkuanku.
"Belum bisa dipastikan. Mungkin beberapa minggu."
"Papa harap kalian serius. Itu rumah besar. Harus ada yang mengurus. Kebersihan, keamanan, sama perawatannya."
"Pa, rumah itu besar banget. Sepi nggak sih kalau cuma berdua?" Aku khawatir.
Gimana nggak khawatir itu rumah besar banget anjir. Luas tanahnya aja sekitar 200 meter persegi.
"Lingkungannya aman. Ada satpam 24 jam. Tetangga juga baik-baik. Papa sudah cek semuanya," jawab Papa.
"Lagian kalian kan nggak benar-benar sendirian. Kami bisa datang kapan saja." Tambah Mama.
Malam semakin larut, tapi kamarku justru kerasa penuh. Koper besar terbuka di atas kasur. Aku melipat satu per satu pakaianku, memasukkan beberapa dress favorit, piyama, jaket, juga menyelipkan boneka beruang kecil yang selalu menemaniku tidur.
"Ikut ya. Jangan protes." Aku menatap boneka itu sebentar.
Saat aku sedang memasukkan skincare ke dalam tas khusus, terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok. Tok.
"Pintu nggak dikunci," kataku.
Pintu terbuka dan Bang Natan muncul.
"Kamu masih beres-beres?" Bang Natan menyandarkan tubuh di kusen pintu.
Aku menoleh sekilas. "Iya. Tinggal sedikit lagi."
Dia melangkah masuk dan melihat koperku yang hampir penuh. "Kamu bawa sebanyak itu?"
"Itu masih dikit."
"Adek nggak tahu bakal berapa lama di sana. Lebih baik siap daripada kurang."
Bang Natan duduk di ujung kasur dan mengambil boneka kecilku. "Kamu masih bawa ini?"
"Jangan diledek." Aku langsung mengambilnya dari tangannya.
"Abang nggak meledek. Abang cuma heran kamu masih simpan itu."
Aku mendesah. "Ini penting."
"Kenapa penting?"
"Karena ini hadiah dari Mama waktu aku juara satu olimpiade matematika antar provinsi."
Bang Natan terdiam sesaat. "Oh."
Aku menutup koper lalu menatapnya. "Kalau Abang? Udah selesai beresinnya?"
"Besok saja pagi." Dia menggeleng.
"Abang nggak takut keteteran?"
"Abang cuma bawa seperlunya. Pakaian kerja, beberapa kaus, laptop. Selesai."
"Btw kamar kamu jadi kelihatan sepi." Bang Natan memerhatikan meja rias yang mulai kosong.
Aku berhenti sejenak dan melihat sekeliling. Dinding yang biasanya penuh pajangan sekarang mulai kosong.
"Iya… rasanya aneh."
"Kamu takut pindah?"
Aku terdiam sebentar. "Sebenernya iya."
"Karena rumahnya besar?"
"Bukan cuma itu."
"So?"
Aku menghela napas pelan. "Soalnya rasanya kayak mulai hidup sendiri."
"Memang itu maksud Papa." Bang Natan mengangguk pelan.
"Adek tau."
"Adek yakin cuma beberapa minggu?" Dia berdiri dan berjalan mendekat ke meja rias, melihat deretan make up yang tersisa.
"Adek nggak tau. Papa bilang sementara."
"Kalau ternyata lama, Adek kuat?" tanya Bang Natan lagi.
Aku menatapnya balik. "Kalau ada Abang, harusnya kuat."
***
Pagi itu pukul sembilan itu udara masih terasa dingin ketika aku berdiri di depan cermin terakhir kalinya. Kamar udah setengah kosong. Koperku terletak di dekat pintu, tas selempang menggantung di bahu.
"Adek, sudah siap?" suara Bang Natan terdengar dari balik pintu.
"Iya, Bang. Masuk saja."
Pintu terbuka. Bang Natan udah rapi dengan kemeja kasual dan jam tangan analog favoritnya. Di tangannya ada koper hitam.
"Adek beneran bawa sebanyak itu?"
"Iya Abang."
Beberapa menit kemudian kami berada di ruang makan. Mama udah menyiapkan sarapan. Papa duduk melihat ponsel, tapi begitu melihat kami turun membawa koper, Papa langsung mematikannya.
"Udah siap?" tanya Papa.
"Iya, Pa," jawab Bang Natan.
Aku duduk di kursi, tapi rasanya sulit menelan makanan pagi itu.
"Aria kenapa diam aja?" Mama memperhatikanku.
"Adek cuma… deg-degan dikit." Jawabku.
"Itu wajar." Kata Papa.
"Tenang saja, Ma. Abang jaga Adek." Sahut Bang Natan.
"Itu emang tugas Abang." Mama menatapnya serius.
"Adek bisa jaga diri sendiri." Aku menoleh pada Bang Natan.
"Papa bangga kalian mau menerima
Setelah sarapan selesai. Kami berdiri di depan pintu rumah. Mobil sudah terparkir di halaman. Koper-koper dimasukkan ke bagasi oleh Bang Natan.
"Jaga diri baik-baik ya." Mama memelukku lebih dulu.
"Iya, Ma."
"Natan, jangan ceroboh." Mama beralih memeluk Bang Natan.
