Bau karbol selalu berhasil membuat Haykal merasa asing, meski ia sudah menghabiskan ribuan jam di koridor Rumah Sakit Pusat ini.
Dengan tinggi 185 cm, ia harus sedikit menunduk setiap kali melewati pintu geser otomatis di ruang dekontaminasi. Jas putihnya yang licin tanpa noda adalah jubah kebanggaan ibunya, tapi bagi Haykal, itu terasa seperti baju zirah yang terlalu berat.
"Dokter Haykal, pasien di bangsal Melati sudah stabil pasca-operasi tadi siang,"
lapor seorang perawat muda dengan nada bicara yang sengaja dilembutkan. Matanya menatap Haykal dengan kekaguman yang tidak disembunyikan.
Haykal hanya mengangguk singkat, senyumnya tipis—hanya sekadar formalitas medis.
"Terima kasih, Sus. Tolong pantau tanda-tanda vitalnya setiap dua jam. Saya permisi."
Ia mempercepat langkahnya. Haykal selalu merasa risih jika disukai secara terang-terangan. Baginya, kekaguman orang asing adalah gangguan frekuensi yang tidak perlu. Ia lebih suka menyendiri di ruangannya, bergelut dengan laporan medis, atau lebih tepatnya, menyembunyikan sesuatu di balik tumpukan jurnal kedokteran itu.
Begitu pintu ruangannya tertutup, Haykal menghela napas panjang. Ia merogoh laci meja paling bawah, mengambil sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang terselip di antara buku teks Anatomi. Di dalamnya bukan berisi resep obat, melainkan catatan navigasi, kode-kode bandara, dan perhitungan kecepatan angin.
V1, Rotate, V2.
Istilah-istilah itu jauh lebih menenangkan hatinya daripada terminologi penyakit jantung. Di umur 30 tahun, ia adalah dokter sukses di mata dunia, tapi di dalam hatinya, ia hanyalah seorang anak kecil yang masih menatap langit setiap kali mendengar deru mesin turboprop di kejauhan.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi dari aplikasi dengan ikon surat terbang muncul.
Rin: "Pernahkah kamu merasa dunia ini terlalu bising, sampai-sampai kamu ingin melompat ke tempat yang paling sunyi? Tapi aku takut... di sana terlalu sepi."
Haykal terdiam. Kalimat itu kontras dengan kebisingan rumah sakit di luar sana.
Ia baru mengenal Rin di aplikasi "Teman Nyurat" selama dua minggu, tapi wanita ini punya cara unik untuk menyentuh sisi gelap yang Haykal sembunyikan dari ibunya.
Jemarinya yang panjang, yang biasanya stabil memegang skapel, kini bergerak lincah di atas layar ponsel.
Haykal: "Dunia memang bising, Rin. Tapi melompat bukan cara mencari sunyi. Itu hanya cara menghentikan lagu di tengah jalan. Kenapa tidak coba naik lebih tinggi saja? Di atas awan, semuanya terasa sunyi, tapi kamu tetap bisa bernapas."
Ia memberi tahu Rin bahwa ia adalah seorang dokter. Ia juga bilang bahwa saat ini ia sedang belajar untuk ujian lisensi pilot secara sembunyi-sembunyi.
Tapi Bagi Rin, dia hanyalah laki-laki yang mendengarkan.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Haykal dengan sigap memasukkan buku catatan pilotnya kembali ke laci dan menyimpan ponselnya.
"Haykal? Kamu belum pulang?"
Itu suara ibunya.
Beliau datang membawakan bekal makan malam, sebuah kebiasaan yang rutin dilakukan karena Haykal adalah anak tunggal yang sangat dijaga.
Haykal melihat ibunya berdiri di ambang pintu, matanya selalu memancarkan kecemasan yang sama sejak kecelakaan ayahnya di Banda Neira belasan tahun lalu.
"Baru mau pulang, Bu," jawab Haykal lembut.
"Jangan terlalu lelah. Ibu tidak suka kamu pulang malam-malam. Jalanan bahaya, apalagi kalau cuaca buruk,"
ujar ibunya sambil menata kotak makan.
Haykal melihat tangan ibunya sedikit gemetar saat kilat menyambar di luar jendela. Hujan mulai turun. Ibunya benci suara guntur—suara yang selalu mengingatkannya pada mesin pesawat yang mati mendadak di atas perairan Maluku.
"Iya, Bu. Haykal aman di sini," bisik Haykal, sambil menyimpan rasa bersalah yang amat besar di dalam dadanya. Di saku celananya, kartu pendaftaran ujian pilot itu terasa seolah membakar kulitnya.
DU LIEST GERADE
Be my friend
KurzgeschichtenHaykal melepas masker bedahnya dengan perlahan. Tingginya yang mencapai 185 cm membuatnya harus sedikit membungkuk saat menatap cermin di ruang ganti rumah sakit. Hari ini melelahkan, tapi bukan karena pasien. Ia merogoh saku jas putihnya, memastik...
