一 いち

154 16 11
                                        

Malam ini, Gracio dengan perasaan campur aduknya membawa seorang anak kecil dari sebuah panti asuhan, anak kecil itu terlihat polos, cuma diam aja sepanjang perjalanan, padahal setahun yang lalu sebuah peristiwa merubah dia dari anak yang dulu ceria, suka ketawa, suka lari larian tanpa takut apa pun, jadi anak yang pendiam serta penyendiri dan setahun yang lalu pula dia ditinggal di panti asuhan itu tanpa ada yang tau pasti kenapa hidupnya bisa seberantakan itu.

"Kita akan segera sampai di rumah." ucap Gracio dengan suara tenang yang terdengar datar banget, kaya orang yang lagi nahan sesuatu di dalam dadanya.

Gadis kecil itu hanya diam, tangannya menggenggam ujung bajunya sendiri, matanya kosong tapi di dalam hatinya dia cuma punya satu harapan kecil yang hampir padam, dia berharap orang dewasa di sampingnya ini benar benar bakal nyelamatin hidupnya dari reruntuhan penderitaan yang udah dia terima setahun terakhir.

"Di sana akan ada keluarga barumu." ucap Gracio lagi, tanpa menoleh, fokus ke jalanan yang sepi.

Hampir tiga jam dia nyetir tanpa banyak ngomong, sampai akhirnya mobil hitam itu masuk ke kawasan perumahan elite dan berhenti tepat di depan rumah mewah keluarga Xaverius, gerbang otomatis terbuka pelan, penjaga memberi hormat, lampu taman menyala terang.

Mobil terparkir, Gracio turun duluan, terus membukakan pintu untuk gadis kecil itu dengan gerakan yang hati hati, seolah dia lagi pegang sesuatu yang rapuh banget.

Beberapa pembantu yang lagi bersih bersih di ruang tamu langsung melirik heran, bisik bisik pelan, mereka jelas ga tau kenapa tuan rumah pulang setelah dua hari gada kabar malah bawa anak kecil yang ga pernah mereka liat sebelumnya.

Belum sempat suasana itu tenang, dari arah ruang tengah terdengar suara seorang wanita memanggil dan ga lama kemudian muncul Shani dengan wajah yang awalnya lega karena suaminya pulang, tapi langsung berubah jadi kaget campur marah saat melihat anak kecil di belakang Gracio.

"Dua hari kamu ga pulang mas, pulang pulang kamu bawa anak orang?" tanya Shani dengan nada yang udah jelas ga bisa dibilang santai.

Anak anak mereka yang lagi nonton TV langsung berkumpul, ada Gita yang udah 10 tahun dengan tatapan tajamnya, ada Fiony umur 8 tahun yang keliatan lebih tenang tapi penuh tanda tanya, terus si kembar Christy dan Marsha umur 6 tahun yang cuma saling pandang bingung dan Freya si bungsu umur 4 tahun yang cuma pegang boneka tanpa ngerti apa apa.

Christy, Marsha, dan Freya jelas belum ngerti apa yang lagi terjadi, tapi Gita dan Fiony bisa ngerasain ada sesuatu yang ga biasa.

"Dia siapa pah?" tanya Gita dengan suara datar tapi matanya ga lepas dari anak kecil itu.

Gracio narik napas pelan sebelum jawab, "Dia Lulu, adik baru kamu, Lulu umur 7 tahun, jadi kamu dan Fiony bakal jadi kakaknya, sedangkan Christy, Marsha dan Freya jadi adiknya."

Semua langsung hening, terlalu sunyi untuk ukuran rumah besar itu.

"Mulai sekarang, Lulu bagian dari keluarga Xaverius, Papah ga mau ada bantahan sama sekali." lanjut Gracio dengan nada tegas yang jarang banget dia pakai di rumah.

Shani langsung melangkah maju, wajahnya memerah, "Apa yang ada di otak kamu itu mas?!"

"Gada alasan apa pun Shani, aku cuma mau bertanggung jawab." jawab Gracio singkat.

Kalimat itu bikin ruangan terasa makin berat, karena kata bertanggung jawab punya arti yang jauh lebih dalam dari sekadar adopsi biasa dan Shani jelas ngerti itu.

"Aku ga sudi mas, jangan harap dia bisa tinggal di sini!" ucap Shani dengan suara gemetar antara marah dan terluka.

"Saya ga mau dibantah Shani!" bentak Gracio tiba tiba, bikin semua orang langsung terdiam kaku.

ROMPANGHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin